KKB Papua
Kekerasan KKB terhadap Warga Sipil Meningkat
Lonjakan kasus kekerasan tersebut dipicu oleh maraknya aktivitas tambang emas ilegal di kawasan hutan.
JAYAPURA - Angka aksi kekerasan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata Papua (KKB) kepada warga sipil di Papua pada 2025 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz menyebut lonjakan kasus kekerasan tersebut dipicu oleh maraknya aktivitas tambang emas ilegal di kawasan hutan yang menjadi wilayah operasi kelompok bersenjata.
Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan banyak warga sipil nekat masuk ke wilayah hutan tanpa pengawasan aparat demi mencari emas.
Kondisi tersebut membuat mereka rentan menjadi sasaran kekerasan.
“Pada 2025, kekerasan terhadap warga sipil meningkat dibandingkan 2024. Salah satu penyebabnya adalah aktivitas penambangan emas ilegal yang dilakukan warga di wilayah operasi KKB,” ujar Yusuf kepada wartawan di Abepura.
Ia mencontohkan wilayah Yahukimo, di mana warga dari berbagai daerah masuk ke hutan untuk mencari emas. Aktivitas tersebut sulit dipantau aparat keamanan dan berisiko tinggi karena berada di daerah rawan gangguan keamanan.
Selain faktor tambang ilegal, peningkatan kekerasan juga dipengaruhi oleh perubahan komposisi anggota KKB yang kini didominasi generasi muda.
Menurut Yusuf, kelompok ini memiliki karakter yang lebih agresif dan tidak mengenal batas waktu dalam melakukan penyerangan.
“KKB yang didominasi generasi muda tidak mengenal waktu. Hari ibadah pun tetap dijadikan momen penyerangan. Mereka bertindak kapan saja selama ada kesempatan,” katanya.
Ia menjelaskan, kelompok ini menyerang secara acak tanpa mempertimbangkan latar belakang korban. Sasaran kekerasan meliputi guru, tenaga kesehatan, pedagang, hingga tokoh agama.
Pola ini berbeda dengan kelompok KKB generasi lama yang cenderung menghindari penyerangan terhadap profesi tertentu dan menghormati hari ibadah.
Yusuf menambahkan, motif utama aksi brutal tersebut adalah untuk menunjukkan eksistensi dan menarik perhatian, baik dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun komunitas internasional.
“Tujuan mereka adalah menunjukkan bahwa mereka masih ada dan ingin diperhatikan. Karena itu, kekerasan dilakukan secara membabi buta,” ujarnya.
Dengan pola kekerasan yang terus berkembang, Satgas Damai Cartenz memprediksi aksi KKB yang didominasi generasi muda masih akan berlanjut dan berpotensi semakin brutal pada 2026 jika tidak diantisipasi secara serius. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bangunan-sekolah-negeri-di-Kiwirok-Papua-Pegunungan-dibakar-KKB-Papua.jpg)