Kamis, 11 Juni 2026

Provinsi NTT Terkini

Dinas PMD NTT Gelar Rakor dan Evaluasi Pelaksanaan Program OVOP

Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi NTT menggelar rapat koordinasi atau Rakor dan evaluasi pelaksanaan program OVOP.

Tayang:
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Apolonia Matilde
POS-KUPANG.COM//Irfan Hoi
RAKOR - Rapat Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi pelaksanaan program One Village One Product (OVOP) yang diselenggarakan Dinas PMD Provinsi NTT. Kamis, (27/11/2025) di Aula Hotel Sasando Kota Kupang. 

Sonny Libing mencontohkan ternak sapi hingga ikan dari NTT yang dikirim mentah ke luar Provinsi. Padahal, potensi itu hendaknya bisa dikelola lebih lanjut agar menambah nilai jual, bahkan membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. 

"Uang kita habis belanja barang orang, ketimbang orang beli barang kita. Itu fakta," kata dia. 

Berkaca dari itu, potensi lokal itu hendaknya bisa diberdayakan. Gerakan 'Ayo Beli NTT', menurut dia, paling tidak menjadi pemicu agar semua warga di NTT agar memanfaatkan semua produk lokal.

Namun, produk yang dihasilkan harus melalui proses dan tahapan agar memenuhi syarat pasar yang telah ditetapkan. Termasuk halal, higienitas, hingga uji BPOM. Pada bagian ini, kata dia, Pemerintah akan ikut membantu. 

"Ini kebijakan untuk mengangkat UMKM kita. Mari bergandengan tangan, memproduksi OVOP, dibeli Pemerintah dan dijual di NTT Mart," kata dia. 

Kepala Dinas PMD, Viktor Mmanek,  mengatakan pihaknya akan melaunching OVOP di setiap desa. Namun, perlu ada kesiapan dari berbagai sisi, termasuk aspek produk hingga adanya intervensi program lainnya. 

Viktor Manek mengatakan, Dinas PMD akan masuk pada desa-desa yang belum tersentuh program lain yang sama. Tahun ini, ada 44 desa yang masuk dalam agenda OVOP. Pada tahun-tahun berikut akan terus bertambah. 

Dia mengatakan, Dinas PMD saat ini tengah melakukan pendampingan hingga pelatihan bagi desa-desa yang menjadi intervensi khusus dalam pelaksanaan OVOP. 

"OVOP itu bukan saja satu desa, kalau produknya sama bisa didorong bareng-bareng," katanya. 

Viktor mengatakan, seringkali produk yang dihasilkan terkadang tidak melalui proses yang benar, dan berujung pada penertiban izin yang terlambat. Harusnya dalam membuat produk, perlu peralatan hingga bahan yang steril dan tidak bercampur dengan bahan lainnya. 

Viktor mencontohkan ketika sebuah produk yang dihasilkan dengan menggunakan satu peralatan yang sama. Sisi lain, persoalan yang terlihat di lapangan adalah bahan baku dari NTT yang hanya dijual mentah. 

Bila diolah lebih lanjut, justru akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. Misalnya, pisang mentah yang dijual ke luar NTT, akan masuk lagi ke NTT dengan kemasan dan harga yang berbeda bahkan mahal. 

"Kita rubah dengan OVOP, bahan baku kita olah dan kemas baru jual, maka perubahan ekonomi disini luar biasa," katanya. 

Pengurus HIPMI NTT Wilson Liyanto mendorong agar masyarakat bisa berpikir kreatif dan bersaing secara sehat lewat berbagai kompetisi yang diselenggarakan Pemerintah dari tingkat desa hingga Provinsi. Baginya itu mendorong percepatan, tapi harus ada keterlibatan oleh pihak lain agar produk yang ada bisa berkompetisi. 

Sisi lain, dia juga menyebut HIPMI NTT sendiri akan ikut membantu dalam kaitannya dengan promosi produk lokal. Apalagi, HIPMI seringkali melaksanakan berbagai kegiatan dengan pengusaha lain yang ada di luar daerah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved