Senin, 8 Juni 2026

Human Interest Story

Di Antara Vonis dan Doa: Kisah Doa Bapa Kami dari Balik Jeruji

Selepas ibadat bersama warga binaan di Rutan, kami bergegas menuju Lapas Perempuan Klas IIB Kupang.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
BERTEMU NAPI - Penyuluh Agama Kemenag Kota Kupang, Yosep Sudarso saat bertemu narapidana di Lapas Perempuan Klas IIB Kupang. 

Di Antara Vonis dan Doa: Kisah Doa Bapa Kami dari Balik Jeruji
(Secercah pengalaman Penyuluhan Agama Katolik di Lapas Perempuan Kupang)

POS-KUPANG.COM,KUPANG - Selasa (24/2/2026) pagi, selepas ibadat bersama warga binaan di Rutan, kami bergegas menuju Lapas Perempuan Klas IIB Kupang. Letaknya yang bersebelahan membuat perjalanan kami hanya menyita dua atau tiga menit.

Jam di dinding menunjukkan pukul 10.32 ketika kami memulai permenungan kami. Ada 21 “mama”-demikian kami biasanya menyapa warga binaan di Lapas Perempuan.

Mereka berkumpul dalam ruang gereja ekumene. Tidak ada dekorasi istimewa. Tidak pula kursi apalagi sofa. Hanya ada bangku-bangku panjang yang tersusun seperti biasanya.

Di bawah kaki Salib Tuhan dan arca Bunda Perawan Maria kami bersimpuh bersama. Wajah-wajah yang hadir membawa cerita masing-masing. Ada yang tampak tenang, yang lain masih menyimpan kegelisahan.

Mengikuti bacaan suci yang dianjurkan Gereja, hari ini kami merenungkan injil Mateus 6: 7-15 tentang Doa Bapa Kami. Kami tertegun dengan satu kenyataan kecil yang selama ini terlupakan: betapa Allah yang jauh di surga berkenan disapa BAPA.

Kami juga menyadari betapa beratnya mengampuni secara total. Namun ada benih firman yang tertabur dalam hati: jika aku bersedia mengampuni, ada “sampah” yang telah dibersihkan dari diriku.

Di penghujung renungan, kami bagikan sebuah pertanyaan reflektif yang sederhana: “Bagian mana dari Doa Bapa Kami yang paling menyentuh hidup saya, hidup mama-mama?”

Renungan yang awalnya biasa, perlahan berubah menjadi ruang hening. Agar tidak larut dalam sunyi, kami pertegas pertanyaan dalam bentuk lain.

Mungkin ada yang tersentuh dengan kalimat, “Berilah kami rezeki pada hari ini” karena hari esok terasa terlalu jauh bahkan sekadar untuk dipikirkan. Atau barangkali ada yang tersentuh pada kalimat, “ampunilah kami” karena rasa bersalah masih berat dipikul”. 

Seorang teman Penyuluh Agama mencoba memecah kesunyian. “Saya tersentuh dengan kata-kata, “Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.”

Bagi dia, penggalan doa ini sungguh mendalam karena selalu menjadi undangan untuk masuk dalam misteri kehendak ilahi. Sesuatu yang selalu menjadi pergumulannya.

Lalu seorang ibu memberanikan diri berbicara. “Saya ingin berbagi pak.” Awalnya suaranya pelan. Lalu bergetar. Ada air mata gando di kelopak.

Ia tidak sedang membaca teori iman. Ia sedang membagikan pergumulannya. Di titik itulah kami sadar. Doa yang sederhana bisa menjadi pintu pembuka luka yang lama terkunci. Tertutup oleh rasa malu. Mungkin juga pelbagai rasa lainnya. Dan, dari ruang kecil itu, lahirlah kisah yang tak mudah dilupakan.

Di Antara Vonis dan Doa

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved