Berita Sabu Raijua
Sumur Sumber Air Kehidupan di Sabu Raijua NTT
Nape mengungkapkan, Air PAM ini beroperasi sekitar tahun 2021 namun pada 2022 sudah tidak beroperasi lagi karena rusak.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Bangun pagi di sabu Raijua sudah disuguhkan mata hari terbit. Saat siang hari pasti melihat arakan awan putih bersih menyelimuti langit biru Sabu Raijua, NTT.
Sabu Raijua dan seisinya diciptakan begitu unik. Di sabu kita bisa melihat, hewan berkeliaran, dari anjing, kambing, sapi, kuda, hingga domba yang sudah jarang ditemukan.
Masyarakat yang hidup di salah satu kabupaten kecil di pulau paling selatan Indonesia ini setiap hari masyarakatnya harus mengantre di sumur tetangga berjam-jam untuk mendapatkan air bersih. Jika tidak, mereka harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk mendapatkan air bersih.
Setiap sore di salah satu sumur di daerah Kolouju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua dikerumuni ibu-ibu dan anak-anak mereka menunggu giliran untuk timba air. Mereka mengantre dari pagi hingga sore hari sampai kebutuhan air minum mereka terpenuhi dan hal ini dilakoni setiap hari.
Nape, yang sudah puluhan tahun tinggal di Sabu mengaku pindah ke Menia (ibukota kabupaten Sabu Raijua) dari Seba sejak 2011. Sejak itulah ia menimba air di sumur tetangganya ini. Sumur sedalam 20 meter dikhususkan bagi 20 Kepala Keluarga yang berdekatan di sana. Setiap hari mereka bergantian timba air. Ember dan jerigen melingkari mulut sumur itu.
Gali sumur untuk sumber air bersih ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Sabu Raijua sejak nenek moyang mereka. Air PAM sempat beroperasi di Sabu Raijua tapi hanya satu tahun hingga saat ini belum diperbaiki. Air PAM ini dialirkan dari kolam mata air Ei Mada Bubu.
Nape mengungkapkan, Air PAM ini beroperasi sekitar tahun 2021 namun pada 2022 sudah tidak beroperasi lagi karena rusak.
Sejak Air PAM tidak beroperasi, mereka pun sempat menggunakan sumur bor yang kemudian juga rusak. Kondisi ini membuat mereka kembali memanfaatkan sumur manual.
Baca juga: Camat Sabu Barat Sampaikan Kesiapan Masyarakat Menyongsong Pemilu 2024
Saat musim kemarau tiba, volume air sumur juga akan berkurang. Mereka akan antre di sumur lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan jatah air. Ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai penjual sayur.
"Kalau musim kemarau air berkurang. Kalau tidak isi sendiri tengki berarti tidak minum air,"ungkapnya.
Dominggus Djami Kale (40) warga Seba, Sabu Raijua mengaku rata-rata masyarakat Sabu Raijua gali sumur untuk mendapatkan air bersih, harus menggali sumur sekitar 8 meter. Sekarang bisa lebih mudah karena kehadiran sumur bor. Ia juga mengatakan jika air PAM pernah beroperasi di Sabu Raijua namun karena curah hujan rendah menyebabkan mata air kering.
"Sudah dari nenek moyang begitu. Kita tidak terlalu tahu tentang PAM. Jadi kita usaha dengan cara begitu,"kata Dominggus.
Meski demikian, mereka menikmati kondisi ini. Bahkan tidak berani berharap lebih kepada pemerintah karena kondisi ini dirasakan seluruh masyarakat Sabu Raijua dan hampir setiap rumah memiliki sumur sendiri.
Untuk masyarakat di pusat ibukota kabupaten Sabu Raijua akan lebih mudah mendapatkan sumber air sumur untuk mendapatkan air bersih. Kondisi ini berbalik dengan masyarakat Sabu Raijua yang tinggal di pegunungan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tarik-air-di-sumur.jpg)