Rabu, 15 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 22 Mei 2021: RELASI SESAMA MURID

Ada satu peristiwa menarik antara Petrus dan Yohanes. Peristiwa ini dapat membantu kita untuk melihat diri, peran, dan relasi kita sebagai murid Tuhan

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 22 Mei 2021: RELASI SESAMA MURID (Yohanes 21:20-25)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Ada satu peristiwa menarik antara Petrus dan Yohanes. Peristiwa ini dapat membantu kita untuk melihat diri, peran, dan relasi kita sebagai sesama murid Tuhan. Peran dan relasi keduanya dalam arti tertentu mewakili kita semua yang dipanggil dan tinggal dalam Yesus.

Petrus dan Yohanes adalah dua orang nelayan yang masuk dalam sesi pertama dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti-Nya (bdk. Mrk 1:16-20). Mereka berdua pun bersama Yakobus diajak Yesus ke gunung dan menyaksikan berubah rupanya Yesus (bdk. Mrk 9:2); menemani Yesus di taman Getsemani (bdk. Mrk 14:33). Keduanya disebut dalam peristiwa jalan salib.

Petrus lalu diteguhkan sebagai batu karang, pemimpin, dan gembala. Yohanes adalah murid yang dikasihi Yesus secara khusus (pinjam istilah yang biasa "anak emas"). Pada kaki salib, Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes sebagai ibunya. Bagaimanakah relasi keduanya?

Petrus yang barusan dilantik oleh Yesus menjadi pemimpin, berlangkah bersama Yesus dari tempat pelantikan. Tapi saat Petrus menoleh ke belakang dan melihat Yohanes sedang mengikuti mereka, Ia langsung bertanya kepada Yesus, "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" (Yoh 21:21). Pertanyaan ini tentu mempunyai arti yang dalam.

Keduanya memang amat dekat satu dengan yang lain. Sering kali berada bersama-sama, disatukan dalam kasih Yesus. Tapi mereka berbeda dan kadang tampil sebagai saingan, yang satu lari lebih cepat dari pada yang lain (bdk. Yoh 20:4).

Maka, pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang Yohanes setidaknya bisa terbaca dalam konteks itu. Dia menjadi pemimpin, tapi bagaimana dengan Yohanes yang dikasihi secara khusus itu? Seakan ia minta kejelasan posisi Yohanes, yang bisa dianggap menjadi gangguan bahkan ancaman bagi dirinya.

Jawaban Yesus sepertinya mendua dan tidak jelas, "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku" (Yoh 21:22).

Yesus berkata kepadanya, tentang Yohanes, "Ia bukan urusanmu"; tentang dirinya, "Ikutlah Aku". Namun kandungan maknanya dalam.

Petrus telah ditetapkan jadi pemimpin, gembala. Peranannya adalah membawa orang kepada Yesus, agar orang tinggal dalam Yesus dan Yesus tinggal dalam mereka; agar mereka menjadi murid-murid yang dikasihi.

Jelaslah bahwa Petrus itu pemimpin. Tetapi ia bukan yang pertama mengenali dan percaya Yesus yang bangkit (bdk. Yoh 20:8; 21:7). Maka ia membutuhkan murid yang dikasihi agar dapat mengenali Yesus.

Ia bisa belajar dari Yohanes bagaimana bertahan mengikuti Yesus sampai di kaki salib dan bagaimana menerima Maria di dalam rumahnya (bdk. Yoh 19:27). Sedangkan sebagai murid yang dikasihi, Yohanes harus menolong Petrus dalam mengenali Yesus, agar semua orang yang dipimpin oleh Yesus dapat menjadi murid yang dikasihi.

Benarlah bahwa Petrus dan murid yang dikasihi memang mewakili kita semua yang dipanggil untuk mengikuti, tinggal bersama Yesus. Kita semua dipanggil oleh Yesus. Kita semua bersama-sama dalam satu kesatuan.

Masing-masing mempunyai peranan dan saling membantu sehingga semua menjadi sempurna. Kalau semuanya sempurna, Yesus akan menjadi satu-satunya Gembala, dan semua akan menjadi murid yang dikasihi, dalam Dia, dalam kemuliaan Bapa.*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved