Wisuda STAK
AKUB Effata Minta Rekomendasi Gubernur Peningkatan Status
KUPANG, POS KUPANG.Com -- Akademi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang meminta kesediaan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) untuk memberikan rekomendasi peningkatan status lembaga ini dari akademi menjadi sekolah tinggi.
Sesuai Surat Keputusan (SK) Mendiknas Nomor 234/2001, lembaga tersebut sudah memenuhi syarat untuk meningkatkan status akademi menjadi sekolah tinggi.
Hal ini disampaikan Direktur AKUB Effata Kupang, Dra. Maria AJ Pella-Jacob, S. H, M. M, dalam sambutannya pada acara Dies Natalis XIV dan Wisuda Diploma III angkatan IX AKUB Effata di Hotel Kristal, Senin (19/10/2009).
Hadir pada kesempatan itu, Ketua Yayasan AKUB Effata, David Pella, dan Asisten I Setda NTT, Yos Mamulak,S.Ip, wakil Koodinator Perguruan Tinggi Swasta (Koopertis) Wilayah VIII, Drs. Chairul Saleh, M.Si, para orangtua dan undangan lainnya.
Menurut Maria, AKUB Effata sudah memenuhi persyaratan untuk meningkatkan status ke sekolah tinggi. AKUB Effata akan menyelenggarakan kuliah perdana S1 untuk menampung lulusan D3 tahun 2001 sampai 2009.
Menurutnya, SK operasional peningkatan status AKUB Effata Kupang yang sudah diterbitkan Kopertis Wilayah VIII dapat direalisir tahun ini.
"Kami sudah mengajukan permohonan sejak tahun 2002, tetapi belum ada jawaban. Kami berharap gubernur maupun APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) NTT bisa memberikan partisipasi, dukungan dan rekomondasi agar cita-cita mendekatkan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada masyarakat bisa terwujud," katanya.
Maria menjelaskan, AKUB Effata sudah pada tanggal 21 September 1995, namun izin operasionalnya baru diterima dari Dirjen Dikti dengan SK Nomor 087/D.O/1997, tanggal 8 Desember 1997. Lembaga ini sudah memperoleh perpanjangan izin operasional dari Dirjen Dikti melalui SK Dirjen Dikti Nomor 1266/D/T/2007 tanggal 7 Juni 2007.
Jumlah mahasiswa saat ini mencapai 300 orang dan saat ini mewisudai 27 orang sehingga jumlah lulusan lembaga ini sudah mencapai 208 orang yang tersebar di berbagai instansi swasta maupun pemerintah di Kota Kupang maupun NTT.
Wakil Kopertis Wilayah VIII, Drs. Chairul Saleh, M.Si, mengatakan, perguruan tinggi swasta perlu menselaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar saat ini.
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, katanya, perguruan tinggi tidak saja meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi harus diimbangi dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Perguruan tinggi, katanya, harus mampu mengelola (memenej) kurikulum secara baik, sehingga lulusan langsung diterima di pasar tenaga kerja.(nia)
SEBELUMNYA, Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Kupang juga melepas lulusan 159 orang dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Kupang Wisuda Perdana Teologi Pendidikan Agama Kristen dan Dies Natalis ke-2 di Aula El Tari Kupang, Jumat (16/10/2009).
Para wisudawan yaitu 137 orang berstatus PNS yang berprofesi sebagai guru dan pegawai di Kandepag kabupaten/kota dan 22 orang guru honor dan kontrak.
Hadir pada kesempatan ini, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Dirjen Bimas Kristen Protestan, Klase, bersama istri, Kandepag Kota Kupang, Imelda de Rosari, unsur muspida tingkat propinsi, kabupaten dan Kota Kupang, unsur TNI/Polri, orang tua dan undangan lainnya.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Kristen Protestan, Departemen Agama RI, Klase, dalam sambutannya mengatakan, para wisudawan harus menjadi pelopor bagi penyediaan lapangan kerja di daerah ini. Untuk itu, lulusanya harus disiapkan dengan berbagai kompetensi dan berjiwa enterpreneur (wira usaha).
Sementara Ketua STAK Kupang, Pdt. Dr. Nicolas J Woly, mengatakan, sejak berdirinya STAK Kupang menyelenggarakan dua program studi, yakni Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan Musik Gerejawi. Sampai saat ini, jelasnya, jumlah mahasiswa mencapai 675 orang, terdiri dari kelas reguler dan kelas non reguler yang tersebar di Kupang, SoE, Ba'a dan Ende.
Menurutnya, sebagaian besar mahasiswa STAK mendapatkan beasiswa dari Depag RI dan Kanwil Depag Propinsi NTT. Di NTT, katanya, masih kekurangan tenaga guru agama Kristen Protestan dan kalaupun ada masih banyak yang berkualifikasi D2 dan D3, sehingga perlu peningkatan kualifikasi sesuai dengan tuntutan undang- undang. Selain itu, para guru dan dosen yang ada juga perlu peningkatan kesejahteraan melalui sertifikasi guru dan dosen.
Dosen di STAK, katanya, berjumlah 34 orang, yakni lima orang S3, 12 orang S2 dan 17 orang S1. Komposisi ini, katanya, tentunya akan berubah jika STAK Kupang menjadi STAK Negeri Kupang mengikuti jejak kakak-kakaknya, yakni STAK Negeri Tarutung, Manado, Palangkaraya, Rantepao, Ambon dan Sentani. (nia)