Harga Emas
Prediksi Harga Emas antam Logam Mulia dan Dunia Sepekan ke Depan
Harga emas Antam Logam Mulia dan emas Dunia sepekan ke depan diprediksi melonjak hingga Rp 2,9 Juta per gram.
“Kalau seandainya emas dunia logam mulia menguat, resisten pertama itu di 4.606, kemudian logam mulianya di Rp 2.797.000 per gram. Kemudian resisten kedua, itu di 4.943 dollar, kemudian rupiahnya di Rp 2.900.000 per gram,” paparnya.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Sabtu 23 Mei 2026, UBS, Antam, dan Emas Galeri24 Kembali Merosot
Konflik Rusia-Ukraina
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga emas saat ini adalah kembali memanasnya situasi geopolitik global, terutama konflik Rusia dan Ukraina.
Ukraina terus melakukan serangan terhadap wilayah Rusia, termasuk kawasan yang berkaitan dengan infrastruktur energi dan kilang minyak. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Konflik tersebut dipandang sulit mereda dalam waktu dekat selama persoalan wilayah pendudukan belum menemukan titik temu antara Rusia dan Ukraina.
Selain perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah juga menjadi perhatian pelaku pasar global. Ibrahim menyebut pembicaraan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung, termasuk terkait peluang pembukaan Selat Hormuz.
Meski Presiden AS Donald Trump disebut memberikan sinyal positif terkait peluang kesepakatan perdamaian dengan Iran, ketidakpastian masih cukup tinggi setelah sejumlah pejabat Iran menyatakan Amerika Serikat dianggap tidak konsisten dalam menghormati kepentingan nasional Iran.
Di sisi lain, Israel juga masih melanjutkan serangan ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza yang memperbesar ketidakpastian geopolitik kawasan. Kondisi itu mendorong investor global mencari aset aman seperti emas dan logam mulia.
Harga minyak mentah terus menguat
Tak hanya emas, Ibrahim juga memperkirakan harga minyak mentah dunia masih berpotensi menguat. Untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), ia memperkirakan harga bergerak di kisaran support 92,600 dollar AS per barrel dan resistance 105,500 dollar AS per barrel.
Dari sisi kebijakan moneter AS, pasar juga menantikan arah kebijakan baru bank sentral AS setelah Kevin Walsh resmi dilantik sebagai Gubernur The Fed dan dijadwalkan memimpin rapat kebijakan pasar terbuka pada Juni mendatang.
Sebagian pejabat The Fed memang masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, pernyataan Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin yang menyebut inflasi jangka panjang masih terkendali memberikan harapan adanya penurunan suku bunga hingga akhir tahun.
Permintaan bank sentral tinggi
Selain faktor geopolitik dan kebijakan suku bunga, permintaan emas dari bank sentral global juga dinilai menjadi salah satu penopang harga logam mulia.
Menurut Ibrahim, ketika harga emas dunia mengalami koreksi, banyak bank sentral justru memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan pembelian emas sebagai instrumen lindung nilai.
Pergerakan harga emas domestik juga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan rupiah saat ini bukan semata faktor teknis, melainkan persoalan struktural akibat defisit neraca transaksi berjalan dan tingginya kebutuhan impor minyak nasional.
Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari dan sekitar 85 persen diantaranya digunakan untuk bahan bakar bersubsidi. Ketika harga minyak dunia naik dan dollar AS menguat, kebutuhan devisa pemerintah ikut meningkat.
Kenaikan 1 dollar per barrel itu diasumsikan sekitar Rp 4 triliun.
Selain itu, pasar juga disebut masih mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi mempengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia, termasuk terkait pengelolaan komoditas dan outlook utang nasional. (*)
ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/harga-emas-hari-ini-Sabtu-21-Feb-26.jpg)