Konsorsium Mangan Investasi Rp 650 M
KUPANG, POS KUPANG. com -- Konsorsium Mangan yang merupakan gabungan beberapa perusahaan Korea Selatan dan Indonesia, menginvestasi modal usaha Rp 650 miliar di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Investasi ini difokuskan untuk pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di Kawasan Industri (KI) Bolok, kawasan yang sudah 15 tahun disiapkan Pemerintah Propinsi NTT.
Sebagai bukti keseriusan investor gabungan dari PT. AGB Mining, PT. Pusaka Pertambangan Mina, PT. Berkah Kencana Sakti dan CV. Jasindo Utama dengan J.S.K International Co.Ltd dari Korea Selatan, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) atau Kesepakatan Kerja sama antara Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki, sebagai pihak pertama dengan Korsorsium Mangan sebagai pihak kedua, di aula El Tari, Kupang, Rabu (5/8/2009).
Penandatanganan MoA itu disaksikan Jonathan Kana, SE, mewakili pimpinan DPRD NTT, Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, puluhan investor asal Korea Selatan (Korsel), Parlemen Korsel, pejabat bank serta tokoh masyarakat.
MoA ini sebagai landasan yuridis yang mengikat para pihak dalam membangun kerja sama bidang pertambangan itu. Pihak kedua juga menyerahkan uang jaminan kesungguhan senilai Rp 2,4 miliar. Uang tersebut diserahkan secara simbolis oleh Presiden Direktur PT. AGB Mining, Kim Tae Sik, disaksikan Presiden Direktur J.S.K International Co.Ltd, Mrs. Cho Keum Hee, dan diterima langsung oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, usai penandatanganan MoA.
Investasi yang akan dilakukan itu meliputi penambangan, membangun pabrik pembersihan dan pemilahan di beberapa kabupaten dengan kapasitas masing-masing 1.000 ton/bulan sampai pabrik pengolahan dan pemurnian dengan kapasitas terpasang sekitar 60.000 ton/tahun.
Konsorsium Mangan memilih NTT karena hasil kegiatan eksplorasi dan penelitian menunjukkan NTT memiliki keterdapatan potensi cadangan mangan yang sangat besar, dengan kualitas terbaik di dunia.
Menurut Dr. Ir. Bambang Setiawan, Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi, saat ini permintaan logam mangan meningkat, antara lain dari Korea Selatan, Jepang, China. Karena itu tepat kalau Konsorsium Mangan menginvestasi di NTT. Diharapkan, investasi ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT yang masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Konsorsium ini akan menerapkan pola kerja terbuka dan berpihak kepada masyarakat, seperti logam mangan yang ada di permukaan lahan di wilayah IUP Perusahaan akan diberikan keleluasaan masyarakat setempat untuk mengambil dan hasilnya dapat dijual kepada perusahaan atau pihak lain dengan harga pasar. Pola ini diharapkan dapat mencegah timbulnya kesenjangan dan kecemburuan sosial di lokasi pertambangan.
Dalam sambutannya yang diterjemahkan Mrs. Kim Moon Hee, Chairman J.S.K. International Co.,Ltd, Park Sin Jae, berharap agar Konsorsium Mangan ini dapat menjadi contoh dalam pencapaian sukses kerja sama industri pengembangan sumberdaya alam antara Korea Selatan dengan Indonesia. Kerja sama ini memungkinkan terjadinya alih teknologi maju khususnya di bidang industri alloy mangan dari Korea Selatan dan potensi sumber daya alam (SDA) yang besar di NTT. Perpaduan antara teknologi maju dan besarnya SDA ini memungkinkan terwujudnya cita-cita pengembangan industri berbasis SDA di NTT.
"Kami menjanjikan akan berjuang menjadi contoh usaha pertambangan yang terbaik melalui kerja sama dengan masyarakat secara langsung. Meskipun izin penambangan dari pemerintah diberikan kepada perusahaan, namun dengan adanya kerja sama yang ada, masyarakat setempat dapat merasa turut memiliki," kata Sin Jae.
Chairman Korea Mine Reclamation Corp, Kim Chang Ho, menjelaskan, J.S.K International Konsorsium telah mulai melakukan investasi di Indonesia sejak tahun 2001. Korea Selatan merupakan negara yang sangat membutuhkan pasokan bahan baku mineral yang rutin dan pasti untuk pengembangan ekonomi. Karena SDA di Korsel sangat kurang. "Saya percaya, kerja sama ini akan menjadi contoh dalam pengembangan industri SDA. Juga menjadi pelopor untuk melewati perubahan-perubahan situasi di dunia pengembangan SDA," tandas Kim Chang Ho.
Menurutnya, pemerintah Kosel dan Indonesia telah berusaha untuk mengembangkan cara-cara pengembangan SDA supaya kelestarian lingkungan tetap terjaga. Korea Mine Reclamation Corporate yang bertugas mengembangkan reklamasi lingkungan pertambangan di Korea berjanji akan mendukung dengan teknologi dan pengetahuan untuk mengembangkan kondisi pertambangan dan lingkungan.
Ketua Asosiasi Parlemen Korsel, Choung Byoung Gug, mengharapkan agar kerja sama yang akan segera direalisasikan ini menjadi kekuatan besar di industri alloy mangan di Korsel dan Indonesia, bahkan di dunia. Diyakini, kerja sama ini akan menjadi pemimpin dalam industri alloy dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan dunia. Apalagi kerja sama ini merupakan kombinasi antara J.S.K International Konsorsium yang memiliki teknologi maju, kekuatan pemasaran, keinginan untuk mengembangkan daerah dan masyarakat setempat dengan Propinsi NTT yang memiliki SDA yang besar. Parlemen Korsel menyambut baik kerja sama ini.
Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi Departemen Pertambangan dan Energi RI, Ir. Bambang Setiawan, mengatakan, Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pengolahan dan Pemurnian di Indonesia melarang Indonesia mengirim bahan mentah ke luar negeri. Selama ini, Indonesia mengirim bahan mentah ke luar negeri lalu mendatangkan bahan jadinya. "Ini perlu diubah, dan MoA ini sangat tepat," katanya.
Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mengatakan, pemprop bertekad membuka diri untuk memberi pelayanan yang baik dan cepat terhadap para investor yang memiliki kesungguhan untuk berinvestasi di NTT. Momen penandatanganan MoA ini adalah bentuk keseriusan pemerintah Korsel melalui Konsorsium Mangan untuk berinvestasi di daerah ini. Diharapkan aktivitas pembangunan smelter mangan yang berkapasitas 60. 000 ton per tahun segera berjalan setelah penandatanganan MoA ini. (gem/aa)