Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 30 Juni 2025: Sulit Ikut Tuhan karena Sukar Mengampun
Ego terbesar yang tidak mudah kita taklukkan dalam diri adalah menuntut diampuni namun keras hati untuk memberi pengampunan.
Renungan Harian Katolik
Senin 30 Juni 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
SULIT IKUT TUHAN KARENA SUKAR MENGAMPUNI
(Kej 18:16-33; Mzm 103:1-2.3-4.8-9.10-11; Mat 8:18-22)
"Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." (Mat 8:20).
Fokus pada masa kini. Saat sekarang adalah momen kehendak Tuhan akan terjadi. Fokus pada apa yang Tuhan minta untuk kita penuhi saat ini. "Biarkanlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Mat 8:22).
Hal pasti yang Yesus mau ingatkan pada kita bahwa orang mati pasti dikuburkan. Ikut Yesus untuk hidup sesudah mati jauh lebih penting dan mendesak. Maka kata Yesus "Ikutlah Aku."
Kehendak Tuhan yang membuat kita susah penuhi adalah kelengketan pada ikatan-ikatan manusiawi yang terkadang membelenggu rahmat untuk sulit bertumbuh dan berkembang dalam diri kita. Kehendak Tuhan yang mendesak untuk kita lakukan saat ini adalah pertobatan dari kesulitan mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Ego terbesar yang tidak mudah kita taklukkan dalam diri adalah menuntut diampuni namun keras hati untuk memberi pengampunan. Hal ini juga menjadi penyebab kesukaran mengikuti Tuhan Yesus. Panggilan dasar setiap orang Kristen adalah mengikuti Kristus.
Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memanggil siapa pun yang mau mengikut Dia. Tawaran keselamatan ini juga tidak begitu gampang dimanfaatkan oleh manusia. Syarat utama ikut Yesus adalah percaya total pada penyelenggaraan ilahi. Ikut teladan Tuhan memberi pengampunan kepada orang yang bersalah, seperti yang Yesus buat terhadap orang-orang yang menyalibkan Dia. Pengorbanan untuk berani melepas ego kita Tuhan tuntut agar bisa ikut Dia dengan penuh kebebasan tanpa belenggu.
Nilai-nilai kasih yang Yesus ajar dan dan Dia buat untuk keselamatan kita, kita amalkan dalam pelbagai aspek hidup kita. Semua ini akan kita sanggup buat jika kita rendah hati dan beriman. Abraham bisa tawar menawar untuk membatalkan murka Allah atas kejahatan manusia (Sodom dan Gomora), karena iman akan penyelenggaraan ilahi dalam hidupnya.
Allah mengasihi manusia namun tidak solider dengan dosa dan kejahatan, jika manusia tidak mau bertobat. Pertobatan tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi manusia pendosa, tetapi juga menjadi sumber sukacita besar dalam Surga.
Menjadi orang benar juga menjadi media utama kehidupan bagi sesama yang jahat. Kata Abraham kepada Tuhan Allah, "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi ini saja. Sekiranya hanya 10 orang benar yang di dapati di sana? Jawab Tuhan, Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu." (Kej 18:32).
Pertobatan dan memberi pengampunan kepada sesama adalah tuntutan Tuhan yang mendesak agar manusia menghindari kebinasaan dan masuk dalam kehidupan. Susah bertobat dan sukit mengampuni memperpanjang penderitaan dalam diri dan mengajak malapetaka semakin mendakat.
Tuhan begitu mudah mengampuni kita, mengapa kita tidak mau saling menaafkan dan mengampuni. Kita merenungkan madah Pemazmur ini, "Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam." (Mzm 103:8-9).
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Senin / Pekan Biasa XIII/C, 300625)
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, “Berjaga-jagalah” |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, "Siaga untuk Selalu Berbuat Baik" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, "Berjaga-jaga Dalam Kehidupan Sehari-hari" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Rabu 27 Agustus 2025, Ketulusan Iman, Bukan Sekadar Penampilan |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Rabu 27 Agustus 2025, "Bersaksi Melawan Diri Sendiri" |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.