Jumat, 1 Mei 2026

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Kamis 1 Mei 2025, Gereja dan Budaya

Pengkhotbah mengingatkan tanpa pondasi iman dan relasi yang kuat, dalam takut akan Allah maka segala sesuatu di bawah matahari akan sia-sia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO-TANGKAPAN LAYAR
RENUNGAN KRISTEN - Cover Renungan Harian Kristen edisi Mei 2025. Renungan Harian Kristen Kamis (1/5/2025), Gereja & Budaya    

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Renungan Harian Kristen Kamis 1 Mei 2025 dengan judul Gereja dan Budaya.  

Akhir kata dari segala yang didengar ialah takut akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya.

Renungan Harian Kristen ini merujuk pada Kitab Pengkhotbah 12:13-14.

Artikel ini dilansir dari buku Renungan Harian Suluh Injil, ditulis oleh anggota Komunitas Suluh Injil.

Renungan berdasarkan Alkitab dan ajaran iman Kristen, yang bersumber dari Alkitab - LAI Terjemahan Baru Edisi 2 (TB2).

Baca juga: Renungan Harian Kristen Rabu 30 April 2025, Kemuliaan Salib & Kebangkitan   

POS-KUPANG.COM telah mendapat izin dari Pdt. Yudith A. Nunuhitu Follabessy, M.Si, anggota Tim Penyusun Renungan Harian Suluh Injil edisi Mei 2025.

Renungan Harian Bulan Mei 2025 ini mengusung tema Kebangkitan Yesus Membarui dan Memulihkan Budaya Saling Berbagi dan Merangkai Perbedaan.

Simak selengkapnya Renungan Harian Kristen:

Selamat memulai Bulan Mei. Di bulan ini gereja merayakan anugerah Tuhan dalam wujud budaya.

GMIT mengusung tema “Kebangkitan Yesus Membarui dan Memulihkan Budaya Saling Berbagi dan Merangkai Perbedaan.” “Membarui dan memulihkan” menyatakan peran dan tanggung jawab gereja dalam mewujudkan panggilannya menerangi budaya dengan Injil, sesuai kehendak Yesus Kristus.

Dalam pandangan iman Kristen, budaya tidak netral dan tidak bebas nilai. Budaya dapat mengekspresikan dan mengkomunikasikan keyakinan yang mengarahkan iman kepada Allah yang sejati, tetapi budaya juga dapat menyangkali Dia. Budaya tidak netral.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Selasa 29 April 2025, Siapakah Murid Yang Dikasihi Yesus?   

Pembaruan dan pemulihan budaya yang dimaksudkan dalam tema ini mengarah kepada relasi. Melalui tema ini, gereja dipanggil untuk menyadari bahwa setiap hal yang gereja lakukan dalam budaya dan relasi antar budaya yang beragam mestilah mencerminkan relasi kita kepada Yesus Kristus.

Pertama, “membarui” menyatakan proses perubahan secara kualitatif. Kitab Pengkhotbah mengatakan tidak ada yang baru di bawah matahari (1:4-11).

Maksud Pengkhotbah, jika manusia hanya berelasi dengan diri sendiri, mengejar kebahagiaan dan kesenangan diri, tidak pernah merasa puas, dan tidak memiliki rasa takut akan Allah, maka secara kualitas tidak ada yang baru. 

Bagi Pengkhotbah, walaupun segala sesuatu masih sama, tidak ada yang baru, namun secara kualitas mestilah ada perubahan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved