TTS Terkini
Dinkes Kabupaten TTS Sebut Tingginya Angka Kematian Ibu Akibat Tidak Tersedianya Bank Darah
Kepala Dinkes Kabupaten TTS, dr. R.A. Karolina Tahun, mengatakan, penyebab utama angka kematian ibu (AKI) pendarahan dan anemia.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE - Kepala Dinkes Kabupaten TTS, dr. R.A. Karolina Tahun, mengatakan, penyebab utama angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten TTS karena pendarahan dan anemia.
Ketidak tersediaan Bank Darah dan PMI (Palang Merah Indonesia) di Kabupaten TTS menjadi kesulitan tersendiri dalam menangani masalah ini.
Hal itu disampaikanya dalam dalam Workshop Penguatan Sistem Kesehatan Ibu dan Anak, Selasa (15/4).
"Kasus kematian ibu paling banyak disebabkan akibat pendarahan dan anemia. Ketika melahirkan kondisi anemia saja sudah masuk dalam kategori resiko tinggi," jelasnya.
Dalam kesempatan workshop terkait Penguatan Sistem Kesehatan Ibu dan Anak yang Responsif Berbasis Komunitas di Kabupaten TTS, dr. Karolina, mengungkapkan, ketiadaan Bank darah dan PMI menyebabkan tingkat kematian semakin tingggi karena stok darah untuk pasien terlambat dan bahkan tidak tersedia.
"Di TTS sendiri jika dibutuhkan stok darah harus tunggu keluarga pasian mencarikan pendonor yang bersedia mendonorkan. Padahal kematian akibat darah kurang dari 10 menit," jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, pada tahun 2024, kematian ibu sebanyak 20 kasus. Kemudian sejak Januari sampai Maret 2025, kematian ibu sudah 4 kasus, dengan 25 persen kematian disebabkan oleh Anemia.
Upaya pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan dan rumah sakit di TTS, memberikan pelayanan deteksi dini di setiap puskesmas terkait kondisi kehamilan. Selain itu Ibu hamil diberikan suplemen penambah darah dan asupan makanan tambahan.
Adapun faktor lain penyebab kematian ibu dan anak di TTS adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Kadis Kesehatan juga menjelaskan kondisi ini menyebabkan ibu hamil sulit terbuka akan kondisi kandungannya dan tidak mau memeriksakan diri.
"Ada juga masalah yang ditemukan, ibu hamil tidak terbuka akan kondisi kandungan dan enggan untuk dirujuk ke rumah sakit," jelasnya.
Selain kematian ibu, angka kematian anak di TTS sejak Januari hingga Maret, kematian neonatal sebanyal 17 kasus, Kematian bayi lahir mati sebanyak empat kasus, kematian balita satu kasus, dan IUFD sebanyak 19 kasus kematian.
Sebelumnya kegiatan workshop terkait Penguatan Sistem Kesehatan Ibu dan Anak yang Responsif Berbasis Komunitas di Kabupaten TTS ini diselenggarakan oleh Yayasan Cita Madani bersama ChildFund Internasional di Indonesia menggandeng FKM Undana Kupang.
Kegiatan ini berupa workshop yang bertujuan mencari formulasi dan sistem yang pas untuk diterapkan sebagai langkah menekan angka kematian ibu dan anak di TTS. (any)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.