Rabu, 8 April 2026

Tarif Impor AS

Indonesia Berpotensi Banjir Barang Impor

Kebijakan Tarif Trump yang diterapkan oleh Amerika Serikat berisiko menghancurkan industri tekstil domestik.

Editor: Alfons Nedabang
GETTY IMAGES via ECONOMIST.COM
BARANG IMPOR - Ilustrasi peti kemas berisi barang-barang impor yang berasal dari China. Kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump berpotensi Indonesia dibanjiri barang-barang impor. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan kebijakan tarif impor baru bertajuk Reciprocal Tariffs atau dijuluki Tarif Trump menjadi pukulan keras bagi sejumlah negara mitra dagang AS, termasuk Indonesia.

Produk utama ekspor Indonesia mencakup sektor-sektor unggulan seperti elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, minyak sawit, karet, furniture, udang, dan produk-produk perikanan laut, diprediksi bakal terdampak dari kebijakan tersebut.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia ( INAPLAS ), Edi Rivai mengatakan, dalam menghadapi situasi ini, maka penting bagi pemerintah memperhatikan perlindungan pasar domestik untuk menjaga daya saing industri Indonesia, terutama di sektor kimia dan petrokimia yang merupakan industri strategis bagi sektor industri lainnya.

“Dengan posisi Indonesia yang memiliki pasar besar dan daya beli yang relatif kuat, negara ini berpotensi menjadi tujuan ekspor bagi banyak negara yang terkena dampak kebijakan tarif AS. Ini dapat menyebabkan banjir barang impor yang dapat merugikan industri dalam negeri, mengancam keberlangsungan dan daya saing sektor-sektor strategis seperti kimia dan petrokimia,” ujar Edi dalam keterangannya, Jumat (4/4).

Baca juga: Donald Trump Terapkan Tarif Impor 32 Persen ke Indonesia, Berlaku 9 April 2025

Edi menyebut banjir produk impor bukan sekadar isu perdagangan biasa, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan manufaktur nasional. Tanpa kebijakan proteksi yang memadai, industri nasional bisa tergulung barang impor murah yang membanjiri pasar.

INAPLAS juga menegaskan pemerintah harus segera mengantisipasi dengan kebijakan perlindungan pasar yang tegas. Salah satunya adalah dengan mempercepat proses penyelidikan anti-dumping dan safeguard oleh Kementerian Perdagangan, dalam hal ini Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) dan Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI).

“Dengan langkah cepat dan responsif, Indonesia dapat mencegah kerugian lebih jauh di sektor industri nasional atas pasar alternatif oleh negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina ke Indonesia sebagai dampak kebijakan tarif Presiden Trump,” ujar Edi.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengingatkan bahwa kebijakan Tarif Trump yang diterapkan oleh Amerika Serikat berisiko menghancurkan industri tekstil domestik jika tidak ditangani secara bijaksana. 

Redma menjelaskan bahwa sekitar 35 hingga 40 persen hasil produksi tekstil Indonesia diekspor ke AS dengan dominasi pada ekspor pakaian jadi. "Pakaian jadinya 60 sampai 70 persen yang kita ekspor ke sana," kata Redma dalam konferensi pers daring, Jumat (4/4).

Baca juga: Dampak Tarif Impor Donald Trump, Industri Otomotif dan Elektronik di Ujung Tanduk

Indonesia sendiri merupakan salah satu eksportir utama pakaian jadi ke AS, menduduki peringkat kelima setelah China, India, Vietnam, dan Bangladesh.

Dengan posisi yang cukup baik ini, Redma menilai bahwa kebijakan tarif AS bisa menimbulkan perubahan besar bagi industri tekstil Indonesia.

Redma mengingatkan agar pemerintah tidak salah dalam mengambil sikap terhadap kebijakan ini. "Jangan sampai kita salah menyikapi, nanti malah industri tekstilnya yang mendapatkan tekanan.

Ekspor kita turun, dalam negerinya juga hancur. Nah ini dua poin yang menurut kami sangat penting disikapi oleh pemerintah," ujarnya.

Redma menyebut jangan sampai pemerintah menyikapinya dengan melakukan relaksasi atau bahkan menghapus kebijakan impor.

Jika ini dilakukan, bukan hanya AS yang bisa memanfaatkan, tetapi negara lain juga akan melihat kesempatan untuk membanjiri pasar Indonesia dengan produk tekstil mereka.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved