Makan Bergizi Gratis
Program MBG Dikritik Mahasiswa, Hanya Perut yang Diberi Makan Tetapi Akal Pikiran Kosong
Mahasiswa membawa buku dan nasi kota sebagai simbolisasi kritik mereka kepada pemerintah.
POS-KUPANG.COM, BANTUL - Kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut dikritik mahasiswa.
Dalam Seruan Aksi 100 Hari Masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Bantul Jawa Tengah, Aliansi Mahasiswa Bantul mengkritik program itu.
Mahasiswa membawa buku dan nasi kota sebagai simbolisasi kritik mereka kepada pemerintah.
Koordinator Lapangan Aksi sekaligus Presiden Mahasiswa DEMA IIQ An-Nur Yogyakarta, Muhammad Ayub Abdullah, mengatakan, buku dan nasi kotak dalam aksi itu memiliki nilai simbol tersendiri.
"Buku itu sebagai simbol pendidikan. Karena pendidikan itu kurang diperhatikan, maka buku-buku yang dibawa adalah buku lusuh yang tidak memiliki judul menarik. Itu tanda bahwasanya pemerintah hingga saat ini tidak memperhatikan sektor pendidikan sebagai prioritas yang pertama," ucap dia dikutip dari Tribun Jogja.
Kemudian, nasi kotak atau nasi bungkus yang dibawa menjadi simbol program makan bergizi gratis (MBG). Di mana, pemerintah pada saat ini, dinilai lebih mementingkan program MBG tanpa menjadikan pendidikan sebagai program paling prioritas utama.
"Selain itu ada kegiatan bagi-bagi nasi kotak. Itu bermakna bahwa kita loh enggak perlu memotong anggaran pendidikan dan masih bisa bagi makanan kepada masyarakat sekitar. Khususnya masyarakat miskin," kata Ayub.
Maka dari itu, aksi tersebut merupakan respons atas minimnya perhatian terhadap pendidikan dan kesehatan, terutama bagi masyarakat kurang mampu, di tengah alokasi anggaran yang lebih banyak terserap untuk kepentingan lain.
"Aksi ini bukan sekadar simbolisasi semata, tetapi merupakan sinyal perlawanan bagi pemerintah agar lebih serius dalam memperhatikan pendidikan dan kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Bantul, Ahmad Tomi Wijaya, menambahkan bahwa aksi ini bertujuan untuk menyadarkan semua pihak, terutama para pemangku kebijakan, bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan dan di kesampingkan.
"Kami membawa piring berisi buku untuk menunjukkan bahwa pendidikan adalah kebutuhan utama. Jika hanya perut yang diberi makan, tetapi akal dan pikiran dibiarkan kosong, maka generasi kita akan kehilangan masa depan yang gelap," tuturnya.
Pihaknya juga menilai program MBG ini tidak tepat sasaran karna semua anak dapat baik yang kaya dan miskin semua di berikan. Mereka menilai hal itu sangat membebankan agaran negara, sehinga banyak anggaran dipotong dan menyebakan Putus Hubungan Kerja (PHK) di mana-mana dan bahan pokok mulai naik.
Adapun poin-poin yang menjadi tuntutan mereka dalam aksi simbolis ini adalah antara lain; menurut kembalikan marwah pendidikan dan kesehatan sebagai program prioritas utama; pastikan hak-hak dosen, tenaga pendidik ASN dan non-ASN terpenuhi; dan beri jaminan hidup bagi kaum muda.
"Kemudian kami menuntut pemerintah untuk meninjau ulang segala program yang membebankan anggaran negara (MBG, Kemenhan, TNI, Polri); tolak Izin usaha pertambangan bagi perguruan tinggi dalam RUU Minerbal; serta tolak mobilisasi mahasiswa dan dosen sebagai tenaga kerja murah demi industri pro-imperialis dan pro-feodal," tandasnya.
Adapun aksi demonstrasi itu dimulai dari Alun-Alun Paseban Kabupaten Bantul kemudian menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul dengan membawa piring yang di atasnya diletakkan buku dan nasi kotak. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.