Rabu, 8 April 2026

Ende Terkini

Penjual Daging Babi Liar di Kota Ende Diduga Jual Babi Mati dan Sakit

bertindak agak repot juga, takutnya mereka yang pemotong dan penjual babi liar ini berpikir kami ini iri dengan mereka

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-THOBIAS DOKE
DAGING BABI - Ternak babi milik Thobias Doke yang sudah dipotong dan siap dijual ke masyarakat dan aman untuk dikonsumsi, Senin, (17/2/2025). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE - Asosiasi Peternak Kabupaten Ende (Asterbe) menduga adanya penjualan daging babi yang sudah mati atau sakit oleh sejumlah pemotong dan penjual daging babi liar di Kota Ende, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Hal ini diungkapkan Thobias Doke, pengurus Asosiasi Peternak Kabupaten Ende (Asterbe) kepada POS-KUPANG.COM, Senin, (17/2/2025) pagi.

"Begitu banyak pemotong liar di Ende ini yang membeli babi mati atau babi yang sakit dengan harga murah dan mereka jual lagi leluasa kepada masyarakat, masyarakat ini beli daging babi dan mereka makan sedangkan limbahnya mereka buang atau kasih lagi babi yang masih sehat untuk makan, apalagi saat pesta, itu lebih parah, maka kena lagi dan akibatnya ribuan babi mati," ungkap Thobias Doke.

Dia juga menyebutkan, terhadap sejumlah pemotong dan penjual daging babi liar di Kota Ende, pihak Asosiasi Peternak Kabupaten Ende (Asterbe) tidak bisa berbuat banyak dan melaporkan hal tersebut kepada pemerintah.

Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Wilis 17-25 Februari 2025, Rute Ende-Kupang, Tiba Di Labuan Bajo Tanggal 23

"Kami dari asosiasi tidak bisa berbicara lebih karena kami punya wewenang hanya menyampaikan ini kepada pemerintah, kalau kami dari asosiasi mau bertindak agak repot juga, takutnya mereka yang pemotong dan penjual babi liar ini berpikir kami ini iri dengan mereka," ujar dia.

Dampak yang timbulkan dengan keberadaan para pemotong dan penjual daging babi liar di Kota Ende, kata Thobias, tidak baik untuk kesehatan manusia karena lokasi penjualan babi yang berada di pinggir jalan yang rentan terkena debu.

"Pembuatan sebuah lapak yang baik itu minimal 20 meter dari jalan raya dan harus di ruang tertutup, ini kan jualnya di pinggir jalan, nah bagaimana debu yang masuk ke daging, yang kedua, daging mereka jual itu bukan lagi daging higienis tapi daging yang sudah berhari-hari, memang daging jenis apapun kalau sudah dimasukkan ke freezer mau berbulan-bulan pun tidak apa-apa asalkan dalam tingkat suhu yang tinggi dan tidak diangkat, kalau mereka inikan daging yang tidak habis hari ini, malamnya dia masukkan di freezer, pagi dia angkat dan jual lagi," ungkap Thobias.

Selain limbah daging babi dibuang sembarang atau diberikan lagi kepada ternak babi yang masih sehat, dia juga menduga, penyebab lain kematian ribuan babi di Kabupaten Ende karena bangkai babi yang sudah mati tidak dikubur atau dibakar tetapi dibuang ke sungai.

"Saya kemarin masuk ke Wolotolo, itu ratusan babi yang mati disitu, ternyata setelah saya diskusi dengan kepala desanya ternyata mereka memberi makan babi dengan kangkung yang tumbuh di bantaran sungai," tambah dia.

Ia juga menjelaskan, babi yang mati sebaiknya dimasukkan dalam lubang kemudian dibakar agar limbahnya tidak tersebar kemana-mana. 

Sementara itu, Sekertaris Dinas Peternakan Kabupaten Ende, Ibrahim Gadir Dean yang dikonfirmasi POS-KUPANG.COM, secara terpisah mengaku tidak memiliki data soal pemotong dan penjual daging babi liar yang diduga menjual babi mati atau sakit kepada masyarakat.

"Karena kami tidak mempunyai kewenangan untuk mengetahui data-data itu karena kami hanya tahu di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jalan Irian Jaya itu, kami tidak melakukan pemeriksaan yang menjual bebas karena itu bukan kewenangan Dinas Pertanian, kalau kami melakukan pemeriksaan, kami salah, terkait dengan penertiban los-los mereka itu bisa komunikasi dengan Disperindag dan Sat Pol PP karena kami hanay urus aspek teknisnya," jelas Gadir Dean.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ende, Mohamad Syarir yang dihubungi TribunFlores.com, Senin, 17 Februari 2025 belum memberikan jawaban.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS


 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved