Kamis, 16 April 2026

Prakiraan Cuaca

Waspada, BMKG Ingatkan Tiga Bibit Siklon Aktif Masih Berdampak pada Cuaca di Wilayah Indonesia

Info Cuaca terkini, Tiga Bibit Siklon Aktif, 99S,90S dan 96P saat Ini mengepung Wilayah Indonesia, BMKG ingatkan waspada cuaca ekstrem

Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM/RYAN TAPEHEN
WASPADA CUACA EKSTREM - Banjir merendam sejumlah rumah warga di Naibonat, Kabupaten Kupang setelah hujan lebat melanda wilayah itu sepekan terakhir - Waspada, BMKG ingatkan Tiga Bibit Siklon Aktif masih berdampak pada Cuaca di Wilayah Indonesia. 

POS-KUPANG.COM - Sebuah peringatan datang dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ). 

BMKG mengingatkan, Tiga Bibit Siklon Aktif, yakni Bibit Siklon 99S,90S dan 96P masih memberikan dampak signifikan terhadap Cuaca di Wilayah Indonesia.

Peringatan itu disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Sabtu (1/2/2025) malam.

Dwikorita Karnawati mengatakan, meski Tiga Bibit Siklon Aktif tersebut kini mulai menjauh dari Wilayah Indonesia namun masih memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di sejumlah Wilayah Indonesia. 

Baca juga: Prakiraan BMKG Cuaca NTT Hari Ini, Malaka, Sikka, Nagekeo Waspada Hujan Sedang-Lebat

Karena itu Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang kompleks sebagi dampak dari Tiga Bibit Siklon Aktif tersebut.

Berdasarkan analisis terbaru BMKG per 2 Februari 2025, teridentifikasi dua bibit siklon tropis aktif yang berada di sekitar wilayah selatan Indonesia, yaitu Bibit Siklon 99S yang tumbuh di Samudera Hindia selatan Banten dan Bibit Siklon 90S yang tumbuh di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Sedangkan bibit Siklon 96P yang sebelumnya terbentuk di sekitar Teluk Carpentaria, status saat ini telah meluruh menjadi sirkulasi tekanan rendah dan sudah masuk daratan benua Australia tetapi masih berkontribusi dalam membentuk pola cuaca di wilayah Indonesia.

Meskipun dua bibit siklon di selatan Indonesia (99S dan 90S) yang masih aktif ini diprediksi bergerak ke arah barat daya semakin menjauhi wilayah Indonesia, tetapi dampak tidak langsungnya tetap terasa dalam bentuk peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah.

Baca juga: Dampak Cuaca Ekstrem, PT ASDP Kupang Tunda Pelayaran Tiga Rute

“Kehadiran dua bibit siklon tropis yang masih aktif dan satu bibit siklon yang telah meluruh tersebut cukup meningkatkan kondisi dinamika atmosfer pada periode puncak musim hujan saat ini. Kombinasi antara bibit siklon, fenomena La Niña lemah, Monsun Asia, Seruak Udara Dingin dari Dataran Tinggi Siberia, dan aktivitas gelombang atmosfer, serta Madden Julian Oscillation (MJO) akan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di banyak wilayah Indonesia,” ujar Dwikorita Karnawati.

Dalam sepekan terakhir, berbagai wilayah di Indonesia telah mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem.

Beberapa catatan curah hujan tertinggi meliputi Kalimantan Timur dengan curah hujan 229 mm/hari dan Sulawesi Tengah 192 mm/hari pada 26 Januari, Kepulauan Riau 154 mm/hari pada 27 Januari, serta Jabodetabek yang mencatat curah hujan hingga 264 mm/hari pada 28 Januari. 

Di wilayah lain, NTT mencatat curah hujan 105 mm/hari, Jawa Timur 137.8 mm/hari, Jawa Tengah 110.7 mm/hari, dan Sulawesi Selatan 106.2 mm/hari pada 29 Januari, kemudian di Papua Barat terukur 112 mm/hari pada 31 Januari 2025.

Untuk sepekan ke depan mulai tanggal 2 Februari 2025, beberapa daerah yang perlu disiapkan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan dapat meningkat menjadi sangat lebat atau ekstrem, yaitu meliputi daerah Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat,  DI.Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Jawa Barat, Jambi, Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Selain hujan ekstrem, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto juga memperingatkan adanya potensi gelombang tinggi akibat pengaruh bibit siklon tropis.

Gelombang dengan ketinggian 2,5 – 4,0 meter diprediksi terjadi di beberapa perairan Indonesia, termasuk Samudera Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, Samudera Hindia selatan Banten hingga NTT, Laut Sawu, Perairan Kupang – Pulau Rote, Laut Maluku, Laut Halmahera, Perairan utara Papua Barat Daya hingga Papua, serta Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved