NTT Terkini
Pemuka Agama Sebut Alkitab Tidak Pernah Mencatat Orang yang Bunuh Diri di Luar Kasih Karunia Allah
Karena itu dia sepakat untuk tidak usah berbicara tentang apa yang tidak diketahui, yang menambah luka dan menstigma keluarga yang sudah memikul beban
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pemuka Agama Kristen Protestan, Pdt. Emr. Paoina Bara Pa, S.Th. menyebut Alkitab tidak pernah mencatat bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri atau bundir itu berada di luar kasih karunia Allah.
Hal ini diungkapkan dalam Podcast Pos Kupang, Kamis, (16/01/2025).
"Di masyarakat ada pandangan yang campur aduk, pandangan budaya menjadi pandangan Alkitab tapi sebenarnya Alkitab tidak membicarakan atau membuka secara eksplisit bahwa orang yang bunuh diri itu tidak masuk surga.Yang ada dalam Alkitab adalah bahwa Allah mengasihi orang berdosa dan karena kasih itu Dia mengutus PuteraNya untuk keselamatan kita dan menanggung segala penderitaan bahkan kematian kita dan dengan demikian orang yang bunuh diri tidak bisa kita klaim bahwa dia tidak bisa masuk surga. Karena memang Alkitab tidak menjelaskan kepada kita bahwa orang yang bundir tempat mereka ada di neraka. Itu kesalahan yang sangat fatal yang membawa dampak trauma dan stigma bagi keluarga korban sendiri," kata Pdt. Emr. Paoina.
Karena itu dia sepakat untuk tidak usah berbicara tentang apa yang tidak diketahui, yang menambah luka dan menstigma keluarga yang sudah memikul beban sangat berat.
"Alkitab sendiri tidak pernah mencatat atau membuka rahasia bahwa orang yang bundir itu di luar kasih karunia Allah. Allah dalam Alkitab Allah mengasihi orang berdosa dan karena itu Allah telah mengampuni dosa kita termasuk bundir. Karena itu sesuai dengan dokumentasi Alkitab, kasus-kasus bundir itu juga ada di dalam pengawasan Allah di dalam rahmat Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita.
Memang pandangan bahwa kasus bundir itu di luar kasih karunia Allah. Kalau memilih jalan itu berarti dia di neraka. Saya kira tidak sesuai dengan pandangan Alkitab.
Memang Alkitab mendokumentasikan kasus-kasus bundir misalnya kasus Raja Saul, ketika berperang melawan Filistin, dalam keadaan luka terparah karena tidak mau mendapatkan rasa malu dan kehinaan, untuk mati di tangan musuhnya dan karena itu dia mengambil tindakan untuk bunuh diri.
Seperti kisah Raja Sonbai, daripada dibunuh oleh musuh lebih baik dia terjun dari Gunung Fatuleu, lebih terhormat itu daripada dihina oleh musuh. Saya kira kasus itu sama dengan kasus dalam budaya kita," jelasnya.
Baca juga: Psikolog : Bunuh Diri Tidak Pernah Terjadi karena Satu Faktor Tunggal
"Yang kedua, kasus bundir Yudas Iskariot. Kalau kita baca dokumentasi Alkitab kasus bundir itu penuh dengan banyak dinamika, ditinggalkan, penyesalan diri, tidak ada jalan keluar, teman-teman yang menjadi sahabat dengan dia meninggalkan dia dan seterusnya jadi tidak tunggal dan pada akhirnya jalan keluar yang diambil oleh Yudas Iskariot adalah bundir.
Sebenarnya kalau kita baca kasus Yudas Iskariot, kita dapat melihat kalau di lingkungan tidak ada support system, diabaikan, dibiarkan, tidak peduli, empati tidak ada maka bundir sebenarnya juga bukan hanya korban yang salah memilih tapi juga tangan-tangan kita terlibat menekan dia membawa dia dalam kasus ini.
Kalau saya baca kasus Yudas Iskariot sebenarnya ada banyak tangan yang terlibat menekan dia sehingga dia tidak bisa lagi melihat jalan keluar dan memilih inilah jalan keluar untuk mengatasi tekanan yang dihadapi.
Di Alkitab dikatakan tekanan itu tidak hanya dari rasa malu dalam dirinya sudah berbuat salah terhadap Tuhannya dan tidak ada kesempatan untuk dia berjumpa atau dijumpai oleh komunitas yang bersama-sama dengan dia dan ketika dia terlibat dengan komunitas yang berseberangan, dengan murid-murid yang lain itu pada akhirnya dibiarkan dan ketika dia datang untuk mengatakan bahwa saya menyesal kepada para imam, teman-teman yang mendukung dia pertama itu mencuci tangan, dan seterusnya jadi kita lihat di sini sebenarnya sistem sosial sangat besar pengaruhnya untuk kasus-kasus bundir," ungkapnya.
Pdt. Emr. Paoina menjelaskan, terkait maraknya kasus bundir saat ini, kesadaran gereja Protestan akhir-akhir ini mulai muncul, meskipun memang kasus bundir di dalam gereja hampir sepi karena dianggap urusan pribadi tetapi dengan melihat meningkatnya kasus-kasus bundir, Gereja terutama GMIT, sedang menyiapkan draf ajaran sosial tentang bundir itu sendiri.
Apa pandangan GMIT tentang bundir, supaya jemaat atau umat mulai menyadari bahwa ada salah satu femomena sosial yang mesti diwaspadai dan mendapatkan perhatian yang sungguh oleh gereja untuk saling memperhatikan dan mulai mengambil peran-peran pencegahan terhadap kasus-kasus seperti ini.
"Memang gereja tidak bisa kerja sendiri tapi membutuhkan kerja sama dengan jaringan dan mitra, para pakar dengan psikologi, psikiater sebab Gereja sendiri juga tidak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk bisa mengatasi masalah bundir di tengah-tengah Gereja. Karena itu misalnya peran yang dilakukan GMIT melalui Rumah Harapan GMIT kami juga menyediakan jasa kesehatan mental bagi korban perdagangan orang dan kesehatan berbasis gender untuk mereka yang rentan," tandasnya. (uzu)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kasus-bunuh-diri.jpg)