Berita Flores Timur
Progres Relokasi Penyintas Gunung Lewotobi, Satu Lokasi Siap Dua Belum
Angka ini masih jauh dengan kuota hunian rumah oleh Pemerintah Pusat sekira 2.000 unit bagi penyintas terdampak parah.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen
POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Penjabat Bupati Flores Timur, Sulastri Rasyid akhirnya mengungkap kepastian merelokasi penyintas Gunung Lewotobi Laki-laki.
Kepastian lahan untuk memindahkan para korban terdampak selama satu bulan terakhir bak berjalan di tempat.
Menurut Sulastri, terdapat tiga lokasi relokasi yang disiapkan diantatanya, Noboleto, Bunga Wolo, dan Waidoko.
Dari ketiga lahan ulayat itu, baru Noboleto yang dinyatakan siap untuk dibangun ratusan hunian beserta fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Baca juga: Signal Hilang Total, Siswa SMA Titehena di Flores Timur Batal Ikut Ujian Sekolah
"Sudah fix di Noboleto. Dua lain (Waidoko dan Bunga Wolo) masih dalam tahap penjajakan dan fix lokasi. Fix di sini artinya lokasi harus clear dan clean sesuai secara kajian teknis," ungkapnya, Rabu, 11 Desember 2024.
Sulastri menerangkan, luas lahan di Noboleto mencapai 12,47 hektar rencananya dibangun 940 rumah plus fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Angka ini masih jauh dengan kuota hunian rumah oleh Pemerintah Pusat sekira 2.000 unit bagi penyintas terdampak parah.
Sementara lokasi di Bunga Wolo dan Waidoko masih dalam proses penjajakan, dengan luas lahan Bunga Wolo kurang lebih 20 hektar.
"Kita siapkan Noboleto sebanyak 12,47 hektar, lokasinya di daerah sana (Wulanggitang," ujar Sulastri.
Karena pengadaan tanah di atas 5 hektar, kata Sulastri, maka menjadi kewenangan Gubernur NTT. Pihaknya sedang melakukan konsultasi dan pengajuan semua persyaratan.
"Kita sudah masuk dalam tahapan itu. Kami lagi siapkan surat-suratnya. Di atas 5 hektar bukan kewenangan kabupaten tapi Gubernur," jelasnya.
Sementara itu, penyintas bencana di posko pengungsian yang adalah warga Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, sejak November 2024 sudah membubuhkan tanda tangan pada surat pernyataan.
Mereka saat itu sepakat direlokasi dan lebih banyak memilih opsi relokasi terpusat. Meski masih gelisah dan bingung lantaran belum tertera titik relokasi yang pasti, namun mereka tetap menandatangani pernyataan bermodal percaya terhadap niat Pemerintah.
Sejak awal, upaya menunjuk lokasi juga selalu diwarnai dinamika. Seperti lahan ulayat di Desa Kobasoma, Lewolaga, dan batas antara Flores Timur-Sikka. Desa-desus penolakan muncul di awal rencana relokasi tanpa adanya pendekatan dialog bersama tokoh-tokoh masyarakat.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Penyintas-bencana-Gunung-Lewotobi-Laki-laki-di-Posko-Desa-Kobasoma.jpg)