Berita NTT
Belajar Agama dan Budaya, Civitas Akademika SMAK St. Josef Freinademetz Tambolaka Study Tour
Selanjutnya rombongan study SMAFREND melanjutkan study tour di rumah adat Natar Tanah kampung adat Bondo Kapumbu.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Civitas akademika Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya melakukan study tour pada Rabu, 11 Desember 2024.
Berdasarkan rilis yang diterima POS-KUPANG.COM, Kamis, 12/12/2024, kunjungan ini dilakukan ke beberapa tempat seperti Paroki St. Dominikus Karuni, susteran OSR Karuni, dan rumah adat Natar Tanah di kampung adat kampung Bondo Kapumbu dengan tujuan untuk mengenal keberagaman agama dan budaya di Sumba Barat Daya.
Study tour ini merupakan puncak dari Proyek Penguatan Profile Pelajar Pancasila (P5) bertema Kebhinekaan Tunggal Ika, dengan tujuan mendorong peserta didik untuk mampu mempromosikan keberagaman Indonesia dari tingkat lokal kepada nasional dan internasional.
Bersama Kepala Sekolah SMAFREND Pater Fransiskus Seda, SVD dan dewan guru yang menjadi pendamping, tempat pertama yang dikunjungi adalah gereja paroki St. Dominikus Karuni.
Baca juga: Aliansi Peduli Akar Rumput Gelar Demonstrasi di Kantor DPRD Kota Kupang
Di sana para siswa bertatap muka dengan pastor paroki, para suster dan frater yang sedang menjalankan tahun orientasi pastoralnya.
Dalam tatap muka itu banyak hal yang dibincangkan secara lengkap oleh pastor paroki, para suster tentang karya pastoral dan semangat spiritualitas dari kongregasi CSsr dan semangat misi dari para suster OSR. Kegiatan tatap muka berlangsung kurang lebih dua jam.
Selanjutnya rombongan study SMAFREND melanjutkan study tour di rumah adat Natar Tanah kampung adat Bondo Kapumbu.
Pater Fransiskus Seda, SVD, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pengantar singkat tentang sekolah dan tujuan kedatangan civitas akademika SMAFREND.
"Kami datang mau tahu, mengenal budaya adat Sumba secara langsung. Kami mau belajar dan kebaikan, pengalaman dari masyarakat supaya bisa menjadi bagian dari Sumba ini. Semoga dengan pengalaman perjumpaan hari ini generasi asli Sumba tidak merasa asing tentang rumah adat dan originalitas budaya kita," kata Pater Fransiskus.
Bernardus Ngongo Naru selaku tua adat menyampaikan terima kasih karena pihak SMAFREND telah memilih rumah adat ini sebagai lokus untuk studi tour sekolah.
"Rumah adat ini merupakan rumah adat induk untuk semua suku yang ada di sekitar sini. Rumah adat ini juga merupakan rumah adat dari bupati pertama Sumba Barat yang namanya sudah diabadikan sebagai nama Bandara Lede Kalumbang Tambolaka," katanya.
"Orang yang mengenal budaya akan tahu tentang moral. Budaya dan adat yang ada mesti kita pelajari dengan baik agar generasi muda tidak asing dengan budayanya sendiri," tambahnya.
Bernardus juga menjelaskan secara detail tentang kata Marapu yang merupakan keyakinan masyarakat lokal Sumba.
"Marapu terdiri dari dua kata yakni rapuapu, sesuatu yang belum tuntas. Ma, sesuatu yang sudah selesai. Arwah yang sudah sampai pada pencipta. Belum pukul gong dan belum potong kerbau artinya arwah belum sampai di surga atau belum sampai kepada sang pencipta. Marapu adalah sesuatu yang ideal bagi orang Sumba menurut kepercayaan nenek moyang yang sudah diturunkan sedari dulu. Arwah nenek moyang disapa lebih dulu agar harapan dan niat kita di dunia ini bisa disampaikan kepada Allah. Ambil air dari tempat keramat dan percik orang sakit itu bisa menyembuhkan walaupun secara medis tidak bisa disembuhkan lagi. Dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang dipandang sebagai perantara manusia dan Allah," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Study-Tour-SMAK-St-Josef-Freinademetz-Tambolaka.jpg)