Rabu, 29 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 1 September 2024, "Allah Sumber Keadilan"

Pada hari ini kita memasuki Minggu biasa ke22 Tahun B, bertepatan dengan Hari Minggu Kitab Suci Nasional 2024 atau pembukaan Bulan Kita Suci Nasional.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pater John Lewar, SVD 

SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Minggu, 01 September 2024
Hari Minggu Biasa XXII, Minggu Kitab Suci Nasional
Lectio:
Ulangan 4: 1-2.6-8; Mazmur 15:2-3a.3cd-4ab.4c-5
Yakobus 1: 17-18.21b-22.27
Markus 7:1-8a.14-15.21-23

Allah Sumber Keadilan

Meditatio:

Pada hari ini kita memasuki Minggu biasa ke22 Tahun B, bertepatan dengan Hari Minggu Kitab Suci Nasional 2024 atau pembukaan Bulan Kita Suci Nasional.

Adapun tema Bulan Kitab Suci Nasional yakni “Allah Sumber Keadilan.” Keadilan Allah berarti bahwa Allah secara keseluruhan benar dan adil dalam semua urusan-Nya dengan umat manusia; lebih dari itu, tindakan keadilan itu sesuai
dengan hukuman- Nya.

Dalam Kitab Ulangan, Musa menegaskan kepada umat Isarel, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan
kepadamu oleh Tuhan. Jangan kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, yang kusampaikan kepadamu.

Lakukanlah dengan setia sebab itu yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” (Ul 4:1.6). Di sini Musa kiranya mengharapkan agar semua peraturan dan ketetapan dari Tuhan dilaksanakan secara murni dan berkualitas.

Bangsa Israel tidak melupakan perjanjian Sinai dan tetap setia mematuhi hukum Tuhan. Bila mereka melaksanakannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, maka mereka dapat menarik bangsa lain untuk semakin dekat dan percaya kepada Allah. 

Selanjutnya Tuhan Yesus di dalam Bacaan Injil memberi kritik tajam kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat bahwa mereka hanya berpegang teguh pada adat istiadat manusia saja. Hal yang memicu kritikan Yesus ini adalah karena adat kebiasaan ditonjolkan sehingga rasa cinta kasih, keadilan dan kebenaran memudar bahkan nyaris ditiadakan. martabat manusia tidak dijunjung.

Kasus yang sedang dihadapi adalah para murid Yesus makan tanpa mencuci tangannya. Tentu saja bagi orang Farisi, hal ini sebuah skandal. 

Kebiasaan yang mereka miliki adalah membersihkan tubuh, alat makan dan minum. Sebagai orang yang teguh dalam hidup beragama maka mereka coba membandingkan diri dengan para murid Yesus, khusus dalam hal mencuci tangan sebelum makan.

Mereka bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid- muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis”.

Yesus menjawab mereka, “Benarlah nubuat nabi Yesaya tentang kamu hai orang-orang munafik! Ada tertulis: Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia. Perintah Allah diabaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”.

Kata-kata Yesus ini membuat kita bertumbuhan sebagai orang-orang benar. Artinya setiap kali kita berdoa dan memuji Tuhan maka akal budi kita hendaknya sinkron dengan hati kita.

Pada akhir perikop ini, Yesus mengatakan bahwa bukan hal yang masuk dari luar itu menajiskan melainkan hal yang keluar dari dalam diri orang tersebut.

Mengapa? Yesus berkata, “Sebab dari dalam diri seseorang muncul segala pikiran yang jahat, percabulan, pencurian,
pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan dan kebebalan”. Ya, semua yang jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.

Lalu apa yang kita lakukan untuk mewujudnyatakan Keadilan Tuhan? Pertama, Pertobatan bathin atau metanoia. Kita dipanggil untuk membersihkan hati dari segala niat yang buruk, seperti kebencian, iri hati, dan kesombongan.

Dalam konteks Minggu Kitab Suci Nasional, kita diajak untuk membiarkan Firman Tuhan menembus hati kita, membersihkan, dan menguduskan seluruh hidup kita.

Kedua, menjadi pelaku Firman. Santu Yakobus dalam bacaan kedua mengharapkan agar kita semua dapat menjadi pelaku Firman. Jadi Firman Tuhan tidak hanya menjadi kata atau Sabda (logos) yang didengar.

Kita tidak berhenti melainkan melaksanakannya di dalam hidup. Kita jangan menjadi manusia yang asal bicara atau asal omong, tetapi berbuat dan melaksanakan sabda Tuhan.

Minggu Kitab Suci Nasional mengingatkan kita akan pentingnya merenungkan Kitab Suci setiap hari sebagai panduan hidup, agar kita tidak lupa pada identitas kita sebagai anak-anak Allah.

Ketiga, Melakukan perbuatan kasih. Dengan memulai Minggu Kitab Suci Nasional, kita diundang untuk tidak hanya
membaca Kitab Suci tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan komunitas kita. Melalui tindakan kasih dan pelayanan, kita menunjukkan bahwa Firman Tuhan hidup dan aktif dalam diri kita.

Missio: Kita mohon penerangan Roh Kudus agar kita dimampukan menjadi pelaku-pelaku firman dan bersama Allah sang sumber keadilan kita juga dipanggil untuk berlaku adil juga terhadap sesama kita.

Doa: Allah Bapa Yang Maha Pengasih, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah menyatakan perintah yang baru, yaitu cinta kasih kepada-Mu dan kepada sesama.

Kami mohon berilah kami kekuatan untuk menjadi pelaksana pelaksana perintah-Mu itu dengan setia. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan
berkuasa, Allah, sepanjang segala masa...Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di Google NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved