Senin, 25 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juli 2024, "Kuat Hadapi Penolakan"

Dia ingin bertemu dengan Ibu dan saudara-saudaraNya. Pada hari Sabat, Yesus tampil dan mengajar di rumah ibadah.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD 

SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor

Minggu, 7 Juli 2024
Hari Minggu Biasa XIV(H)
Yehezkiel 2:2-5
Mazmur 123:1-2a,2bcd,3-4
2Korintus 12:7-10
Markus 6:1-6

"Kuat hadapi penolakan"

Meditatio:

Dalam bacaan Injil hari ini, Penginjil Markus mengisahkan bahwa Yesus kembali ke kampung halamannya yaitu di Nazareth.

Setelah berbulan-bulan berkeliling untuk memberitakan Kerajaan Allah lewat Sabda dan karyaNya, Dia menyempatkan diri ke kampung halamanNya.

Dia ingin bertemu dengan Ibu dan saudara-saudaraNya. Pada hari Sabat, Yesus tampil dan mengajar di rumah ibadah. Banyak orang mengagumiNya karena Ia mengajar dengan wibawa ilahi.

Dia mengajar seolah-olah seperti seorang nabi besar. Di antara mereka bahkan bertanya-tanya tentang kemampuan ilahi Yesus yang luar biasa ini.

Dia hanya seorang tukang kayu, ibunya Maria juga orang biasa, dan semua saudara tirinya juga dikenal. Mengapa penampilannya berbeda? Mereka kecewa dan menolak

Dia. Tentu saja pengalaman Yesus ini sangat manusiawi. Pengenalan orang-orang Nazareth saat itu Yesus hanya pada tingkat manusia yakni: profesinya sebagai tukang kayu, keluarganya juga dikenal di kalangan umum masyarakat Nazareth. Lagi pula Nazareth adalah tempat yang kecil dan sempit.

Mengetahui ketidakpercayaan mereka ini maka Yesus merasa heran. Penolakan penduduk Nazaret menjadi landasan bagi Yesus untuk mengatakan bahwa: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya”.

Pengalaman Yesus ini sebetulnya dialami juga oleh para nabi di dalam Kitab Perjanjian Lama. Bila kita membaca Kitab Suci Perjanjian Lama dengan teliti, kita akan menemukan sebuah kisah hidup bangsa Israel, sebagai bangsa yang syarat dengan kisah-kisah pemberontakan, omelan, ketidakpuasan, ketidak- mampuan mengucap syukur dan penolakan akan Allah.

Bangsa Israel adalah salah satu bangsa yang sangat dikasihi dan dimanjakan Allah, namun sering dihukum, hukuman ringan maupun yang berat, seperti hukuman pembuangan. Allah yang panjang sabar itu kadang tidak berhasil menghadapi tingkah laku bangsa Israel, yang oleh nabi Yehezkiel disebut sebagai bangsa pemberontak, keras kepala dan tegar hati ( Yehezkiel 2: 2-5) dan karenanya Allah pun sering marah-marah dan naik pitam.

Allah memberi Yehezkiel kekuatan untuk berbicara kepada orang-orang Israel yang suka memberontak. Meskipun orang-orang itu keras kepala, Allah tetap mengutus nabi-Nya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya, tidak peduli seberapa jauh mereka menyimpang.

Para nabi ditolak bahkan dibunuh karena pewartaan mereka dinilai sangat tajam oleh manusia. Namun para nabi menunjukkan kehebatan dengan tetap berani untuk mewartakan atas nama Tuhan. Semakin mereka berani berbicara, sabda Tuhan akan memiliki daya ilahi untuk mengubah kehidupan manusia. Umat yang mendengar nubuat Yehezkiel di daerah Babilonia akhirnya menyadari sapaan dan kasih Allah juga.

Pengalaman Yesus dan Yehezkiel membantu kita untuk belajar bertumbuh sebagai orang beriman. Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata: “Aku lebih bermegah atas kelemahanku, agar kuasa Kristus turun menaungi aku”. Dengan demikian Paulus membangun dalam dirinya persekutuan kerendahan hati dan ia menyadari bahwa “Jika aku lemah, maka aku kuat” karena Kristus yang menguatkannya. Paulus mengalami banyak kesulitan tetapi ia tabah, kuat, dan
taat pada kehendak Allah.

Apa pesan Tuhan bagi kita pada hari minggu ini?” Pertama, penolakan itu menyakitkan tapi mendorong kita untuk tetap kuat menghadapinya. Banyak kali kita mengalami penolakan tertentu dari orang-orang dekat (keluarga, mitra kerja dan sesama umat).

Mereka yang mengenal kita dengan baik kadang-kadang merendahkan kemampuan kita dalam tugas-tugas tertentu. Belajar dari Yesus dan Yehezkiel agar kita kuat dan bertahan untuk terus menerus bertumbuh dalam kasih dan pelayanan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juli 2024, "Mereka Kecewa dan Menolak DIA"

Kedua, walau ditolak kita tidak sendirian, ada Tuhan. Dia akan memberi kita kekuatan yang kita butuhkan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Ketika kita merasa lemah atau takut, kita dapat percaya bahwa Tuhan menyertai kita. Dia akan membimbing kita dan membantu kita menyampaikan kebenaran-Nya lewat sabda, karya dan pelayanan kita. Kita percaya Tuhan menyertai kita.

Ketiga, meniru teladan Paulus yang rendah hati dalam melayani Tuhan. Saya merasa kuat karena Kristus hidup di dalam diri kita.

Missio:

Kita akui punya pengalaman ditolak. Tetapi kita tidak boleh putus asa, harus tetap kuat dalam pelayanan karena Tuhan tidak tinggalkan kita berjuang sendirian. Dia menyertai dan memberkati kita. Kita juga tidak mau bergosip dan
merendahkan sesama.

Doa:
Tuhan, berikanlah kami kekuatan untuk menyampaikan kebenaran-Mu, bahkan saat sulit. Bantu kami untuk menerima kelemahan kami dan percaya pada kekuatan-Mu. Tingkatkan iman kami, agar kami selalu percaya pada kasih dan bimbingan-Mu. Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat hari Minggu. Salam, doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved