Berita NTT

Mahasiswa Ners STIKES Maranatha Kupang Antusias Praktik BTCLS

Kegiatan praktik teknik pertolongan pertama masalah kegawatdaruratan itu berlangsung "in house training" di kampus

Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/HO
Mahasiswa program Ners STIKES Maranatha Kupang NTT saat sesi praktik BTCLS atau Basic Trauma Cardiac Life Support di kampus itu, Kamis 27 Juni 2024. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Puluhan mahasiswa program Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maranatha ( STIKES Maranatha ) Kupang NTT antusias mengikuti praktik BTCLS atau Basic Trauma Cardiac Life Support di kampus itu.

Kegiatan praktik teknik pertolongan pertama masalah kegawatdaruratan itu berlangsung "in house training" di kampus yang terletak di Nasipanaf Kelurahan Penfui Kota Kupang, Kamis 27 Juni 2024.

Praktik BTCLS itu merupakan bagian dari program pelatihan Perkesmas dan BTCLS yang diselenggarakan selama delapan hari bagi 47 mahasiswa program studi Ners.

Baca juga: STIKES Maranatha Kupang Gelar Praktik Komprehensif Perkesmas dan BTCLS

Adapun rangkaian Praktik Komprehensif Pelatihan Perkesmas dan BTCLS telah berlangsung sejak Jumat, 21 Juni 2024 lalu. Kegitan itu dibuka secara resmi oleh Ketua STIKES Maranatha, Stefanus M. Kiik, S.Kep., Ns. M.Kep., Sp.Kep. Kom .

Ketua Program Studi Ners, Serly Mahoklory, S.Kep., Ns. M.Kep., mengatakan praktik BTCLS dilaksnakan setelah mahasiswa mendapat teori selama dua hari dalam rangkaian pelatihan itu.

Harapannya, para mahasiswa dapat lebih mendalami teknik pertolongan pertama masalah kegawatdaruratan melalui praktik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka sekaligus siap saat terjun dalam dunia kerja.  

"Kita berharap mereka mampu melakukan semua itu dan lebih percaya diri setelah pelatihan ini," ungkap Serly kepada POS-KUPANG.COM. 

Mahasiswa program Ners STIKES Maranatha Kupang NTT saat sesi dua praktik BTCLS
Mahasiswa program Ners STIKES Maranatha Kupang NTT saat sesi dua praktik BTCLS atau Basic Trauma Cardiac Life Support di kampus itu, Kamis 27 Juni 2024.

Pelatihan itu, kata dia, melibatkan instruktur dari kampus serta instruktur dari luar kampus yang memiliki pengalaman sekaligus sertifikasi nasional dari Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (Hipgabi). 

Servasius Ratu Banin, M.Kep., salah satu instruktur internal menambahkan, mahasiswa dibagi kedalam enam kelompok untuk melakukan praktik enam titik bantuan hidup dasar (BHD). 

Titik pertama, initial assessment dan triase yakni mahasiswa memilah korban berdasarkan derajat kegawatddaruratan dan bagaimana memberi pertolongan awal. Selanjutnya, titik airway breathing manajemen, yakni bagaimana cara menolong korban yang mengalami sumbatan pada jalan napas yang berpotensi menyumbat saluran pernapasan.

Berikutnya, EKG (elektrokardiografi) yakni melakukan interpretasi untuk mengetahui bagaimana indikasi pasien untuk mendapatkan resusitasi.

Titik keempat, transportasi dan evakuasi yakni mahasiswa melakukan praktik memindahkan korban, misalnya korban yang mengalami cedera leher, tulang belakang, serta ekstremitas. Berikut, resusitasi cairan yakni praktik bagaimana menangani pasien yang mengalami perdarahan dan syok.

Ia mengatakan, para mahasiswa ditantang untuk melakukan pekerjaan dalam tim selama 30-40 menit di setiap titik yang disiapkan. 

Instruktur Petrus Laba, SST., mengapresiasi kegiatan praktik komperhensif yang diselenggarakan oleh kampus. Petrus yang berdinas di RSUD Prof Johannes Kupang itu menyebut bahwa kondisi dunia kerja sangat bervariasi sehingga mahasiswa harus dipersiapkan secara maksimal. 

Instruktur bersertifikasi nasional itu menyebut kolaborasi kampus dan klinisi merupakan hal yang baik dilakukan untuk memperkaya pemahaman mahasiswa.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved