Tokoh NTT
Profil Tokoh NTT , Umbu Landu Paranggi Sastrawan Nasional asal Sumba
Nama Umbu Wulang Tanaamahu Perangi atau Umbu Landu Parangi tak banyak dikenal di NTT . Nama besar sang sastrawan lebih banyak diketahui dari karya-k
Penulis: Alfred Dama | Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM -- Nama Umbu Wulang Tanaamahu Perangi atau Umbu Landu Parangi tak banyak dikenal di NTT .
Nama besar sang sastrawan lebih banyak diketahui dari karya-karya besar sastra .
Dikutip dari Wikipedia, Umbu Wulang Landu Paranggi lahir pada 10 Agustus 1943 – 6 April 2021 adalah seniman Indonesia berasal dari Sumba yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an.
Ia lebih dikenal sebagai sosok "di belakang layar" yang mendorong para penyair muda untuk menjadi sastrawan[1]. Melalui komunitas Persada Studi Klub di Malioboro, Umbu menjalankan peran sebagai mentor sekaligus guru yang membimbing kelompok penyair dan seniman muda tahun 1970-an di Yogyakarta, seperti Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, dan Ebiet G. Ade.
Pada tahun 1978 ia pindah ke Bali
Di sana ia mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post dan membimbing generasi muda penulis seperti Wayan Jengki Sunarta, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, Cokorda Sawitri, Oka Rusmini, dan lain-lain.
Sembari membina komunitas Jatijagat Kampung Puisi (JKP) di Bali, Umbu masih membantu komunitas Rumahlebah Yogyakarta melahirkan jurnal antologi Ruang Puisi dengan duduk di dewan redaksi bersama Raudal Tanjung Banua, Frans Nadjira, dan Nur Wahida Idris.
Umbu meninggal di Sanur, Bali, akibat COVID-19 pada 6 April 2021.[6] Sebelum dimakamkan secara tetap dan permanen di tanah kelahirannya, Sumba, jenazah Umbu dimakamkan sementara di Taman Pemakaman Kristen Mumbul Kabupaten Badung, Senin, 12 April 2021, setelah diantarkan ke ruang sunyi melalui liturgi peribadatan Kristiani dan upacara kurukudu, sebuah ritual adat Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Pendidikan
Umbu Landu Paranggi menempuh studi di SMA BOPKRI Yogyakarta. Ia menerima gelar Sarjana Sosiatri dari Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada dan juga Sarjana Hukum dari Universitas Janabadra, Yogyakarta.
Kehidupan di Yogyakarta
Emha Ainun Nadjib di kediaman Umbu Landu Paranggi di Bali tahun 2017.
Umbu dilahirkan di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur. Ia merantau ke Pulau Jawa untuk meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.
Di sekolah tersebut, Umbu tertarik untuk menulis sastra setelah bertemu dengan seorang guru Bahasa Inggris yang memberinya inspirasi, Lasiyah Soetanto, yang kelak menjadi Menteri Negara Peranan Wanita (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) pertama di Indonesia.
Pada tahun 1970-an Umbu membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di Malioboro Yogyakarta.
PSK dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia. Umbu dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sastra di Mingguan Pelopor Yogya. Walau dijuluki sebagai "Presiden Malioboro", ia hidup menjauhi polemik, popularitas, dan sorotan publik.
Ia sering ditemukan menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya "pohon rindang" yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai "pupuk" saja.
Kehidupan di Bali
Sejak tinggal di Bali dari tahun 1978, kehidupan Umbu tidak banyak berubah. Ia tetap bergerilya mendorong anak-anak muda melakukan aktivitas kesenian dan kesastraan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.