Prakiraan Cuaca
NTT Masih Diguyur Hujan di Musim Kemarau, Begini Penjelasan BMKG
sebagian Wilayah Provinsi NTT masih diguyur hujan di musim kemarau, begini Penjelasan BMKG terkaiut fenomena tersebut.
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM - Sejumlah Daerah di NTT masih diguyur hujan. Padahal, BMKG menyebut NTT sudah masuk musim kemarau.
Berikut Penjelasan BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ).
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Patricia Christin Seran menjelaskan penyebab terjadinya hujan di musim kemarau tahun ini di Nusa Tenggara Timur ( NTT ) disebabkan oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby di NTT.
"Fenomena ini berkaitan dengan pola pergerakan udara di atmosfer yang dapat mempengaruhi pola cuaca regional dan global," katanya Minggu 3 Juni 2024.
Baca juga: Prakiraan BMKG Cuaca NTT Hari Ini 3 Juni 2024,Waspada Hujan Petir, Angin Kencang dan Kebakaran Hutan
Ia menjelaskan hal yang perlu dipahami terlebih dahulu bahwa musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali atau sebaliknya ketika musim hujan maka akan selalu turun hujan sepanjang harinya.
Maria menambahkan GelombangEkuatorial Rossby memiliki karakteristik membawa massa udara bersifat basah, dimana membuat wilayah yang dilaluinya akan sering mengalami kondisi cuaca hujan atau setidaknya mendung.
"Kondisi kemarau yang kering tanpa hujan akan tetap terjadi ketika kondisi atmosfer kembali stabil," ungkapnya.
Memasuki bulan Juni 2024 ini secara umum wilayah NTT, termasuk Manggarai Barat, sudah masuk pada musim kemarau, sehingga ia mengimbau masyarakat untuk menghemat dan bijak dalam menggunakan persediaan air bersih.
"Masyarakat juga diajak untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan atau lahan (karhutla)," katanya.
Maria juga menjelaskan musim kemarau yang panjang dapat menyebabkan kenaikan suhu dan peningkatan suhu ini dapat memicu terjadinya karhutla
Baca juga: Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa NTT, BMKG Ingatkan Ende dan Sikka Waspada Hujan Sedang disertai Petir
Penyebab karhutla lainnya, lanjut dia, adalah sambaran petir. Perubahan iklim akibat pemanasan global juga dapat sering mengakibatkan seringnya sambaran petir.
"Penyebab karhutla lainnya adalah pembakaran lahan yang tidak terkendali dan terkontrol dan membuang puntung rokok sembarangan," katanya. ( ANT/* )
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.