Obituari

Selamat Jalan Lawo

sesama aktivis mahasiswa hubungan kami sangat dekat dengan duet Dua Frans. Makin lengket lantaran sekretariat kami hanya berjarak kurang 50 meter

|
Penulis: dion db putra | Editor: Rosalina Woso
DOK PRIBADI
Niko Frans (kanan) dan Viktus Murin. 

Frans Lebu Raya merupakan aktivis PMKRI Kupang sebelum merintis pendirian GMNI. Sepengetahuan saya, tahun 1989 Frans Lebu Raya bertemu pengurus GMNI di Jakarta di sela kegiatannya sebagai mahasiswa teladan utusan Universitas Nusa Cendana (Undana).

Frans mendapatkan mandat dan persetujuan untuk merintis organisasi ini. Maka terbentuklah caretaker Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Cabang Kupang di penghujung tahun 1989 dengan ketua Frans Lebu  Raya dan sekretaris Yohanes Kosat .

Setahun kemudian terbentuk pengurus definitif hasil konferensi cabang yang pertama di Kupang. Frans Lebu Raya menjadi ketua dan Niko Frans menjabat sekretaris DPC GMNI Cabang Kupang periode 1990-1993.

Duet ini menjalani periode perintisan. Sebagai organisasi baru, fokus kerja mereka adalah sosialisasi organisasi serta pendidikan kader mulai dari level dasar, madya dan selanjutnya.

Mereka sungguh pejuang pemikir dan pemikir pejuang di masa sulit. GMNI tak elok melupakan ini.

Tahun 1993 Frans Lebu Raya melepas jabatannya sebagai ketua DPC demi kaderisasi. Dalam forum konferensi cabang  II, Nikolaus Fransiskus alias Niko Frans terpilih sebagai ketua cabang. Anak Nita ini berduet dengan putra Kedang Lembata, Viktus Murin sebagai sekretaris GMNI Kupang.

Saya dan Viktus Murin kala itu sama-sama sudah bekerja sebagai wartawan Harian Pos Kupang yang terbit sejak 1 Desember 1992.

Itulah sebabnya kami hampir selalu bersama setiap hari. Pulang kerja malam dari kantor atau dari lapangan, tempat kami berkumpul, kalau bukan di sekretariat PMKRI, ya di tetangga sebelah, markas GMNI.

Pada masa kepemimpinan duet Niko Frans-Viktus Murin, GMNI Cabang Kupang semakin berkembang. Jumlah anggota meningkat pesat. GMNI Kupang mulai diperhitungkan di tingkat regional Nusra bahkan nasional.

Sohib saya Viktus Murin terpilih sebagai pengurus pusat GMNI yaitu Sekjen Presidium GMNI periode 1999-2002.

Duet Niko-Viktus membentuk kader GMNI yang tangguh.  Penerus mereka sebagai pengurus GMNI Kupang kalau tidak salah duet Yos Dasi Djawa dan Emanuel Kolfidus (1996-1999).

Sejak itu GMNI makin berkembang di NTT dan melahirkan kader andalan, sebut misalnya Raymundus Fernandes, bupati Timor Tengah Utara 2010-2015, dan 2016-2021.

Sapaan Lawo

Kembali ke duet Dua Frans, saya punya sapaan kesayangan. Kalau Frans Lebu Raya, saya bisa menyapa kaka atau sesekali abang. Beda dengan Niko Frans. Sapaan kesayangan kami berdua adalah lawo. Dia panggil saya lawo, demikian pula sebaliknya.

Mengapa lawo? Lawo adalah Bahasa Lio (Flores) yang artinya kain tenun. Lawo biasa dikenakan kaum perempuan, gadis atau ibu-ibu. Pasangannya lawo lambu (lambu = semacam baju bodo).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved