Selasa, 5 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 30 Mei 2024, Buang Mental Mengemis

sebuah teladan luar biasa bahwa pertobatan tidak cukup dan hanya berhenti pada ungkapan pujian-pujian kepada Tuhan.

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
YOUTUBE/SUARA PAGI RENUNGAN HARIAN KATOLIK
RENUNGAN - RP. John Lewar SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Jumat 14 Oktober 2022 dengan judul Berlakulah Jujur dan Apa Adanya. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 30 Mei 2024, Buang Mental Mengemis

Oleh : Pastor John Lewar, SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor

Lectio:

Hari Biasa Pekan VIII
1Petrus 2:2-5.9-12
Mazmur 100:2.3.4.5
Injil: Markus 10:46-52

Meditatio:
Adalah Bartimeus, anak Timeus seorang yang miskin, buta, tidak terkenal, tidak punya pekerjaan, duduk-duduk di pinggir jalan dan hanya bisa menjadi pengemis. Kita tentu sering mendengar kisahnya bahkan hari ini diperdengarkan lagi.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 28 Mei 2024, Apa yang Saya Dapatkan Kalau Ikut Yesus?

Pasti ada hal yang interesan di mata hati kita. Mari kita telusuri lebih jauh pengalaman dan perjalanan hidup
Bartimeus..

Pertama, iman Bartimeus yang bergelora. Dia berteriak: “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!”. Dengan menyebut Yesus Anak Daud, Bartimeus telah menunjukkan dan mengakui imannya di depan publik bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang dijanjikan bagi umat Israel (Mi. 5:1; Rm. 1:3; Yoh. 7:42).

Ketidak sempurnaan-nya tidak dijadikan alasan (yang dibuatbuat) untuk enggan menghampiri Yesus, tetapi justru menjadi sebuah kesadaran bahwa ia membutuhkan Sang Mesias. Ia berseru memanggil Nama Yesus.

Dia tidak malu dan takut di tengah berbagai kontroversi di kalangan Para Imam dan Ahli Taurat Yahudi terkait ke-Mesiasan Yesus. Imannya bergelora saat mendengar Nama Yesus.

Kedua, langkah nyata untuk berubah. Bartimeus memiliki kerinduan yang berbeda. Berbeda dengan kebanyakan orang buta atau pengemis lain yang seringkali terlanjur “nyaman” dengan profesinya, dimana mereka
lebih memilih hidup dari belas kasihan orang lain karena mendatangkan keuntungan.

Bartimeus justru ingin segera keluar dan melepaskan diri dari “jubah pengemisnya”. Penginjil Markus mengisahkan bahwa orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus”.

Bartimeus telah memberi kita sebuah teladan luar biasa bahwa pertobatan tidak cukup dan hanya berhenti pada ungkapan pujian-pujian kepada Tuhan.

Perlu tindakan dan langkah nyata untuk berubah, menanggalkan manusia lama dan lahir kembali sebagai manusia baru dengan cara pandang baru, yaitu cara pandang yang senantiasa terarah ke Surga.

Ketiga, meng-copy paste cara hidup Yesus untuk menjadi cara hidup kita juga. Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (ayat 52).

Pertobatan bukanlah sebuah momen sesaat di dalam hidup kita. Beriman belum cukup hanya sekedar mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat.

Beriman adalah sebuah upaya untuk meng-copy paste cara hidup Yesus untuk menjadi cara hidup kita juga, sebuah cara hidup yang senantiasa berlandaskan Kasih. Seperti inilah cara kita mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Pelajaran penting dari kisah Bartimeus bukan semata menceriterakan tentang seorang buta yang dicelikkan matanya oleh Yesus, tapi tentang seseorang yang hidupnya ingin berubah dengan bersedia menanggalkan
“jubah lama” yang telah sekian lama dikenakan dan menggantinya dengan “jubah baru”.

Dia ingin berubah untuk menjadi semakin baik. Ganti mental yang suka meminta belas kasihan orang lain dalam berbagai bentuk. Ganti mental menggantungkan nasib pada orang lain.

Orangorang ini tidak mau berusaha sendiri atau berdikari tetapi selalu menggantungkan nasibnya pada tangan orang lain. Ganti mental gemar meminta-minta secara memaksa bukan secara sukarela. Mereka bisa meminta dengan mengabaikan hak dan perasaan orang lain.

Mintalah
Yesus mengubah hidup anda dengan melihat cara yang lebih positif, seperti Bartimeus. Tuhan bertanya, “Apa yang kau kehendaki Aku berbuat bagimu?” Apa jawaban anda?.

Refleksi diri: Apakah ada sifat di dalam diri Anda yang mengandalkan meminta dari belas kasihan orang lain? Kalau itu ada, segera buang sifat itu! Bagaimana sekarang Anda akan lebih bijak dalam memberi seseorang yang miskin, memberi bantuan material?

Doa
Ya Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Jauhkanlah kami dari mental suka meminta belaskasihan dan menggantungkan harapan pada orang lain. Doronglah kami bekerja dengan tekun agar keluar dari keterpurukan
dan kemiskinan. Semoga kami mampu beralih dari manusia lama dan menjadi manusia baru...Amin.

Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Kamis Pekan Biasa VIII.

Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan
Putera dan Roh Kudus...Amin.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved