Jumat, 24 April 2026

Berita Sabu Raijua

Potensi Garam Rakyat di Sabu Raijua Perlu Dukungan Masyarakat 

masih kurang terhadap garam, teknologi yang digunakan cukup mahal dan masih kesulitan memasarkan produk garam ini.

Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/AGUSTINA YULIAN TASINO DHEMA
Seorang Nelayan bersama anaknya mencari ikan gunakan perahu gabus di Pelabuhan Raijua  

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, SEBA - Garam masih dominan dikelola pemerintah kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua. Saat ini pemkab Sabu Raijua sementara mengatur mekanisme pengelolaanya agar suatu waktu garam ini dikelola oleh swasta atau masyarakat atas tidak lagi ditangani pemerintah. 

Semua pantai Sabu Raijua berpotensi untuk memproduksi garam. Kalau rumput laut mungkin untuk orang yang hanya menguasai pesisir tetapi garam hanya dengan bantuan geomembran kecil bisa menghasilkan garam. Artinya, iklim sabu Raijua akan lebih cocok untuk memproduksi garam secara masal. 

"Tinggal dukungan pemerintah atau swasta bisa masuk bantuk geomembran, bantu angkut ai laut. Garam jadi,"kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan, Lagabus Pian pada Kamis, 9 Mei 2024

Hal itu tentu membutuhkan komunikasi secara bertahap karena sejak awal dimulainya pada 2014/2015 garam sabu dikelola penuh oleh Pemkab Sabu Raijua karena merupakan inovasi. Pada waktu itu juga selain minat masyarakat yang masih kurang terhadap garam, teknologi yang digunakan cukup mahal dan masih kesulitan memasarkan produk garam ini.

Baca juga: KPU Sabu Raijua Tetapkan 20 Kursi Anggota DPRD Terpilih di Pemilu 2024

Tekstur tanah pasir berongga di Sabu Raijua membuat produksi garam harus menggunakan geomembran. Harga geomembran yang mahal menyebabkan produksi garam di Sabu Raijua memakan biaya yang cukup tinggi.

Jika investor berminat, pemkab Sabu Raijua pun sangat terbuka. Kalau pun tidak, Pemkab Sabu Raijua ingin masyarakat lebih berminat agar dijadikan produksi garam menjadi garam rakyat seperti rumput laut dengan bantuan geomembran sehingga masyarakat produksi sendiri dan jumlah produksinya pun bisa lebih banyak.

"Mungkin perlahan-lahan kontrol kualitas garam. Agar kualitas sama seperti yang diproduksi Pemda sebelumnya,"ujar Lagabus.

Pada 2018-2022 pasar garam di Kabupaten Sabu Raijua surut. Sehingga terjadinya penumpukan garam. Akibat penumpukan garam ini pula terjadi pemasaran tertinggi hingga 7.000 ton terdistribusi ke luar daerah pada 2022.

"Karena itu garam tumpuk beberapa tahun. Sebelum Seroja banyak sekali, 22 ribu ton ada. Setelah Seroja baru bisa terjual,"lanjutnya.

Ia berharap ke depan, perlu adanya komunikasi untuk  mendapatkan dukungan masyarakat sehingga semua program yang dicanangkan bisa berhasil dengan baik. (dhe)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS


 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved