Berita Sabu Raijua
Kualitas Baik, Harga Rumput Laut Fluktuasi di Sabu Raijua
Gap ini terjadi bukan masalah SDM, karena untuk mengolah rumput laut tidak memerlukan skill yang tinggi
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Sabu Raijua adalah petani dan nelayan karena potensi bahari yang cukup menjanjikan seperti garam dan rumput laut.
Kabupaten Sabu Raijua memiliki kualitas rumput laut terbaik di Indonesia. Pada 2021 terjadinya badai Seroja yang memporak-porandakan perairan Sabu Raijua membuat ekosistem rumput laut ini terganggu. Bahkan setelah badai seroja pun meski membaik, harga rumput laut cenderung tidak stabil atau fluktuasi.
Harga yang belum stabil diperparah dengan regulasi melalui pergub NTT terkait larangan penjualan rumput laut ke luar daerah. Regulasi hanya regulasi, perlahan melonggar karena pengolahan rumput laut di NTT tidak maksimal sedangkan petani hanya bisa bertahan hidup dari rumput laut.
Dalam setahun kabupaten Sabu Raijua bisa memproduksi dan mendistribusikan rumput laut kering sekitar 9.000 ton. Meski menghasilkan 9.000 ton setahun namun, harga rumput laut kadang anjlok hingga menyentuh angka Rp10 ribu per kilogram dan naik sampai Rp30 ribu per kilogram untuk rumput laut kering.
Baca juga: Impian Bupati Nikodemus N. Rihi Heke Bangun Sabu Raijua Lewat Pariwisata Festival Niki Maja
Selama ini, untuk pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan secara mandiri oleh masyarakat yang difasilitasi Pemda Sabu Raijua. Pemda hanya memfasilitasi untuk pengadaan bibit, alat-alat produksi seperti tali, peralatan jemuran, para-para dan sebagainya. Rumput laut ini dijual sendiri oleh para petani.
"Rumput laut dibawa keluar oleh pedagang. Pembudidayaannya mereka secara mandiri atas bantuan Pemda,"ungkap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan, Lagabus Pian pada Kamis, 9 Mei 2024.
Menurutnya, skala produksi rumput laut di Sabu Raijua cukup besar tetapi skala pengolahannya masih kecil sehingga mau tidak mau regulasi dilonggarkan agar para petani bisa menjual hasil rumput laut mereka ke luar daerah. Gap ini terjadi bukan masalah SDM, karena untuk mengolah rumput laut tidak memerlukan skill yang tinggi tetapi persolannya adalah iklim di Sabu Raijua. "Biasanya musim hujan, rumput laut mati dan bibit habis,"ujarnya.
Pada April-Mei petani mulai memproduksi kembali rumput laut dan pemerintah harus fasilitasi pembibitan. Sehingga pemda Sabu Raijua juga terus berupaya untuk mempertahankan bibit sehingga budidaya rumput laut berkelanjutan.(dhe)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dua-nelayan-mengeluarkan-ikan-dari-pukat.jpg)