Berita Sabu Raijua
Risiko Bencana di Sabu Raijua Perlu Diantisipasi dari Sekarang
Kondisi ini membutuhkan kolaborasi dengan pihal lain untuk menangani bencana yang tidak bisa dihindari.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Pulau Sabu dengan dataran rendah pada 2021disapu rata badai Seroja yang menjadi pengalaman paling buruk dan catatan sejarah bagi Sabu Raijua.
Kemudian gelombang laut yang terjadi setiap tahun di Sabu Raijua membuat masyarakat tidak lagi merasa takut padahal gelombang tinggi ini menjadi risiko bagi masyarakat Sabu khususnya yang ingin menyeberang dan juga melaut. Hal ini menjadi tantangan terbesar di Sabu Raijua.
Wakil Bupati Sabu Raijua, Yohanis Uly Kale, mengatakan risiko bencana di Sabu Raijua perlu diantisipasi dari sekarang.
Sabu Raijua salah satu daerah yang rentan terhadap bencana alam seperti gelombang laut, longsor, cuaca ekstrem dan angin kencang yang rutin setiap tahunnya.
Ancaman bencana alam seperti gempa bumi, tsunami harus dikaji dari segi ancaman, kerentanan, dan didokumentasikan dalam perencanaan.
Kondisi ini membutuhkan kolaborasi dengan pihal lain untuk menangani bencana yang tidak bisa dihindari.
"Bencana alam itu bukan tanggung jawab pemerintah saja tetapi tanggung jawab semua elemen baik sebagai masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu perlu diskusi sebelum bencana itu terjadi,"ungkap John Uly saat membuka Lokakarya Perencanaan Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Sabu Raijua di Kantor Bupati Sabu Raijua pada Selasa, 7 Mei 2024.
Baca juga: Antisipasi Bencana di Sabu Raijua NTT Perlu Difasilitasi Kajian Risiko dan Perencanaan
Dengan antisipasi ini, sangat diharapkan setiap OPD harus punya peran terhadap penanganan bencana ini. OPD-OPD harus turun ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat di mana pun berada.
Misalnya pada musim angin masyarakat harus diedukasi untuk mengatasi ancaman-ancaman bencana yang terjadi. Faktor cuaca yang panas di Sabu Raijua menyebabkan masyarakat membuat rumah atap daun lontar supaya lebih sejuk. Namun kultur ini rentan sekali memantik kebakaran.
"Ini menjadi pemantik kebakaran di Sabu Raijua belum sadarnya masyarakat dan tanggung jawab kita sebagai pemerintah, kita mesti susun ini secara baik,"lanjutnya.
RPB ini biasanya berhubungan dengan anggaran, namun lokakarya RPB ini difasilitasi dan didampingi penuh oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan menggandeng Konsultan Cari melakukan Focus Group Discussion (FGD). John berharap, para peserta Lokakarya bisa mengeluarkan ide-ide sehingga bisa menghasilkan sebuah dokumen strategis perencanaan yang bagi kemajuan Sabu Raijua.
"Perlu sekali karena kita semua bertanggung jawab terhadap daerah ini,"ujarnya. (dhe)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rapat-Risiko-Bencana-di-Sarai.jpg)