Kamis, 16 April 2026

Berita NTT

BBKSDA NTT Catat 17 Warga Diserang Buaya Sejak 2023, 6 Orang Tewas

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT mencatat, dari 17 orang tersebut, enam orang di antaranya meninggal dunia.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
BBKSDA Provinsi NTT dan warga sekitar saat evakuasi seekor buaya jantan di wisata Mulut Seribu, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko. Selasa, 9 April 2024. 

POS-KUPANG.COM - Sebanyak 17 warga NTT tercatat menjadi korban serangan buaya sejak tahun 2023 hingga April 2024.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT mencatat, dari 17 orang tersebut, enam orang di antaranya meninggal dunia.

Kepala BBKSDA NTT Arief Mahmud, mengatakan, interaksi negatif antara satwa liar buaya dan manusia di NTT tergolong tinggi dibandingkan provinsi lain.

"Dari catatan kita dari tahun 2023-April 2024 ada 17 orang yang diserang buaya. Enam orang di antaranya meninggal. 11 orang terluka," kata Arief, dikutip dari Kompas.com.

Arief memerinci, pada tahun 2023 ada 15 warga yang digigit buaya. Lima orang meninggal dan 10 orang terluka.

Lima orang yang meninggal itu, dua dari Kabupaten Sumba Barat Daya, kemudian dari Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, masing-masing satu orang.

Kemudian, pada tahun 2024 terdapat dua warga yang diserang buaya.

Serangan pertama terjadi pada 4 Januari 2024 yang menewaskan seorang warga bernama Jama Nuna (33), asal Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Jama diserang saat mandi dan menimba air di sungai. Serangan kedua terjadi pada tanggal 21 Februari 2024.

Yermia Fatu (69), warga Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, diserang saat mencari ikan di Danau Tuadale.

Baca juga: BMKG NTT Sebut Ada Sirkulasi Siklonik Sekitar Pulau Flores 

Yermia berhasil meloloskan diri sehingga hanya mengalami luka.

Arief menjelaskan, konflik tersebut terbanyak di Pulau Timor yakni delapan kejadian, di Pulau Sumba tujuh kejadian, serta Flores dan Lembata masing-masing satu kejadian.

Penyelesaian interaksi negatif ini, lanjut dia, sebenarnya harus dilakukan dengan memerhatikan sejumlah akar permasalahan.

Akar permasalahan yang dimaksud yakni perbaikan habitat berupa hutan mangrove yang rusak serta membatasi aktivitas masyarakat pada kawasan yang diperuntukan sebagai habitat satwa.

Menurut dia, insiden buaya yang muncul di area publik, dimungkinkan terjadi karena buaya yang mencari habitat baru. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dalam 2 Tahun 17 Warga NTT Diserang Buaya, 6 Tewas, 11 Terluka"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved