Pilpres 2024

Presiden Jokowi: Kalau Punya Bukti Kecurangan, Segera  Bawa ke Bawaslu dan MK

Pasca Pemilu 2024 dan Pilpres 2024 ini, aroma tentang kecurangan pemilu kini terus mencuat. Terhadap hal itu, Presiden Jokowi pun angkat bicara.

Penulis: Frans Krowin | Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
BAWA KE BAWASLU – Presiden Jokowi angkat bicara tentang kecurangan yang terjadi dalam pemilu dan Pilpres 2024 ini. Jika punya bukti kecurangan, segera bawa ke bawaslu, bawa ke MK (Mahkamah Konstitusi). 

POS-KUPANG.COM – Pasca Pemilu 2024 dan Pilpres 2024 ini, aroma tentang kecurangan pemilu kini terus mencuat. Terhadap hal itu, Presiden Jokowi pun angkat bicara.  Ia menyebutkan bahwa dalam pemilu kali ini ada banyak saksi dan aparat sehingga kecil kemungkinan adanya kecurangan seperti yang digembar-gemborkan.

"Pertama ya mengenai kecurangan. Caleg itu ada saksi di TPS, partai ada saksi di TPS. Capres-Cawapres kandidat ada saksi di TPS. Di TPS ada Bawaslu. Aparat juga ada di sana. Terbuka untuk diambil gambarnya. Saya kira pengawasan yang berlapis-lapis seperti ini akan menghilangkan adanya kecurangan," kata Presiden Jokowi.

Pernyataan orang nomor satu di Indonesia ini disampaikan seusai Presiden Jokowi membuka pameran otomotif Indonesia International Motor Show Tahun 2024 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 15 Februari 2024.

"Pertama ya mengenai kecurangan. Caleg itu ada saksi di TPS, partai ada saksi di TPS. Capres-Cawapres kandidat ada saksi di TPS. Di TPS ada Bawaslu. Aparat juga ada di sana. Terbuka untuk diambil gambarnya. Saya kira pengawasan yang berlapis-lapis seperti ini akan menghilangkan adanya kecurangan," katanya.

Meskipun demikian, kata Presiden, apabila betul merasa ada kecurangan maka ada mekanisme yang bisa ditempuh.

Dugaan kecurangan bisa dilaporkan ke Bawaslu atau ke Mahkamah Konstitusi.

"Sudah diatur semuanya, janganlah teriak-teriak curang. Ada bukti langsung bawa ke Bawaslu, ada bukti bawa ke MK," katanya.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyoroti hasil quick count atau hitung cepat yang menyatakan paslon nomor 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul di Pilpres 2024.

Hasto melihat adanya fenomena overshooting dalam Pemilu 2024 sehingga paslon Prabowo-Gibran mendapat terlalu banyak suara.

"Kami melihat nampak adanya fenomena overshooting. Jadi kalau berburu itu nembaknya berlebihan. Ini pernah terjadi di Timor Timur pada Pemilu 1997," kata Hasto saat konferensi pers di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Rabu 14 Februari 2024.

Diketahui, Overshooting merupakan istilah yang banyak dalam perekonomian yang merujuk pada sesuatu yang melampaui batas normalnya.

Diketahui, pada Pemilu 1997 suara Golkar di Timor Timur mencapai 84,70 persen. Berbeda jauh dengan suara 2 partai rivalnya, yakni PDI yang memperoleh 13,49 persen, dan PPP yang hanya meraup 1,82 persen.

"Ketika suatu operasi masif dilakukan, maka sampai rezim penguasa saat itu kaget karena partai penguasa saat itu sampai mendapatkan hampir 100 persen," ungkap Hasto.

Fenomena overshooting yang dimaksud terlihat jelas karena adanya perbedaan signifikan antara hasil penghitungan suara di dalam negeri dengan exit pool di luar negeri.

Menurut politisi asal Yogyakarta ini, para pemilih di luar negeri tak terpengaruh isu-isu dan upaya mendorong pencoblosan terhadap paslon tertentu lewat bansos, sehingga nama Prabowo-Gibran gagal meraup suara mayoritas dari mereka.

Baca juga: Prabowo Gibran Bakal Rangkul Semua Kekuatan Untuk Indonesia Maju

Baca juga: MENGEJUTKAN! Pembantu Presiden Kompak Saat Pilpres 2024, Sama-sama Kenakan Busana Hitam

Baca juga: Lili Romli Prediksi Megawati Tak akan Bergabung di Koalisi Prabowo-Gibran

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved