Senin, 4 Mei 2026

Destinasi Wisata

Atraksi Pasola Sumba Barat: Dari Tragedi Kawin Lari ke Tradisi Perang Damai

Masyarakat Marapu Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), akan kembali menggelar pesta budaya tahunan Pasola tahun 2024.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
FACEBOOK/MARTA TUWA RINGU
Pasola merupakan tradisi perang adat yang mana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu ke arah lawan. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Masyarakat Marapu Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), akan kembali menggelar pesta budaya tahunan Pasola tahun 2024.

Ada tiga pesta adat Pasola di Sumba Barat, yakni Pasola Lamboya. Untuk tahun 2024, Pasola Lamboya akan digelar di lapangan pasola Haronakala di Kecamatan Lamboya pada tanggal 6 Februari 2024.

Seperti biasanya setelah Pasola Lamboya diikuti Pasola Wanukaka di Kecamatan Wanukaka dan terakhir Pasola Gaura di Kecamatan Lamboya Barat.

"Ritual dan atraksi Pasola biasa berlangsung setiap tahun dimana waktu pelaksanaannya ditentukan para rato adat setiap wilayah pelaksanaan pasola," ujar Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat, Charles Herman Weru, S.Sos, Rabu 24 Januari 2024.

Merujuk website Pemerintah Kabupaten Sumba Barat sumbabaratkab.go.id, Pasola berasal dari kata sola atau hola yang berarti kayu lembing.

Dalam konteks ritual, pasola merupakan tradisi perang adat yang mana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu ke arah lawan.

Pasola diselenggarakan sekali dalam setahun yaitu pada permulaan musim tanam, tepatnya pada bulan Februari di Kecamatan Lamboya serta bulan Maret di Kecamatan Wanokaka dan Laboya Barat/Gaura.

Sama halnya dengan upacara Bijalungu Hiupaana, tanggal pasti perayaan pasola ditentukan oleh para rato berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang serta dengan melihat tanda-tanda alam.

Pasola_006
Pasola merupakan tradisi perang adat yang mana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu ke arah lawan.

Satu bulan sebelum pasola seluruh warga harus mematuhi sejumlah pantangan antara lain tidak boleh mengadakan pesta, membangun rumah dan sebagainya.

Upacara Pasola terkait dengan persiapan pengerjaan lahan serta adanya anggapan tentang percikan darah yang mempunyai kekuatan magis menyuburkan dan menghidupkan.

Anggapan tersebut, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ada hubungannya dengan konsep kejadian yang oleh Gregory Forth (1983) dikatakan terkait kehidupan janin dalam kandungan yang mendapatkan daya hidup dari darah ibu yang dialirkan melalui tali pusat.

Oleh karena itu darah atau sesuatu yang menyerupai darah dipandang mempunyai kekuatan sakti menyuburkan dan menghidupkan.

Tragedi Cinta Segi Tiga

Menurut legenda setempat, pasola merupakan klimaks dari sebuah tragedi cinta segi tiga. Alkisah, berabad-abad silam di kampung Weiwuang hidup tiga bersaudara: Ngongu Tau Matutu, Yagi Waikareri dan Ubu Dula. Ketiganya telah menikah dan si bungsu Ubu Dulla
memperistri seorang wanita cantik bernama Rabu Kabba.

Suatu hari ketiganya turun ke laut untuk mencari ikan yang memang merupakan mata pencaharian mereka, namun tanpa sepengetahuan para istri dan warga Weiwuang mereka terus berlayar hingga ke Muhu Karera, sebuah negeri yang terkenal makmur untuk mengadu nasib.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved