Berita Nasional

Sinyal Kuat Menteri Jokowi Mundur Berjamaah

Menteri Kabinet Indonesia Maju disinyalir siap melepas jabatannya menjelang akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Editor: Alfons Nedabang
istimewa
Presiden Jokowi melantik Kabinet Indonesia Maju. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Menteri Kabinet Indonesia Maju disinyalir siap melepas jabatannya menjelang akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hal itu berawal dari pernyataan ekonom senior Faisal Basri yang mendengar kabar para pembantu Presiden akan mundur.

Dua nama yang sampai ke telinga Faisal Basri adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Menanggapi rumor itu, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam menilai mundurnya menteri adalah fenomena yang biasa menjelang pemilu.

Piter bahkan mendorong agar para menteri yang ikut dalam kontestasi pemilu baik itu Pilpres, Pileg, ataupun ikut dalam tim sukses sebaiknya diganti.

“Seharusnya menteri-menteri yg terlibat langsung dalam pemilu semua mundur dari jabatannya,” kata Dosen Perbanas Institute itu kepada Tribun Network, Jumat (19/1/2024).

Menurutnya, penggantian menteri di kabinet Jokowi bertujuan agar pejabat negara itu bisa fokus melaksanakan tugas.

Selain itu juga demi menjaga netralitas lembaga dan memastikan pemilu berlangsung secara jujur adil.

Baca juga: Sri Mulyani Bantah Mundur, Istana Sebut Sidang Kabinet Berjalan Happy

Mundurnya menteri dan pejabat negara akan segera diisi dgn pejabat baru yg diharapkan bisa netral.

Hal ini penting, Piter menyampaikan bahwa pemilu 2024 harus berlangsung jujur dan adil.

Dengan adanya pejabat baru maka program-program tetap berjalan baik.

“Tentu didukung dengan sistem yang sudah berjalan di masing-masing kementerian dan lembaga sehingga tidak perlu ada kekhawatiran terganggunya program ketika menteri atau pejabat mundur,” imbuhnya.

Piter memastikan apabila menteri pemerintahan Jokowi di sisa masa jabatannya dirombak total maka tidak akan menimbulkan dampak besar terhadap perkonomian.

Pada era Presiden Soeharto sebanyak 14 menteri ekonomi mundur secara berjamaah hingga menimbulkan krisis moneter.

Namun, kondisinya tidak sama di era Presiden Jokowi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved