Berita Kota Kupang

Peneliti Sebut Nyamuk Wolbachia Tidak Bisa Menginfeksi Manusia

Burhanuddin menegaskan, faktanya memang teknologi ini sudah melalui riset yang mendalam, dan faktanya dapat menurunkan angka kasus DBD. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
TRAINING - Kemenkes RI dan Dinkes Kota Kupang menggelar On The Job Training Kader dalam kaitan dengan penerapan proyek contoh Wolbachia. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kota Kupang melakukan kegiatan On The Job Training Kader. 

Acara itu dibuat pada daerah penerapan proyek contoh nyamuk Wolbachia tingkat kecamatan. Kegiatan berlangsung di Hotel On The Rock Kupang, 7-8 Desember 2023. 

Entomolog Ahli Pertama Kemenkes RI, Burhanuddin Tohir mengatakan, kegiatan itu merupakan pertemuan lintas sektor di Dinas Kesehatan Kota Kupang tentang kebijakan pemerintah dalam penanganan kasus DBD yaitu dengan metode Aedes Wolbachia. 

Baca juga: Dinkes Kota Kupang Perlu Jelaskan Program Nyamuk Wolbachia ke Masyarakat

"Jadi yang kita sampaikan sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kasus dan angka kematian akibat DBD di Kota Kupang. Kota Kupang dipilih karena pada tahun 2021 kasus DBD di Kota Kupang sangat tinggi, dan juga sebagai perwakilan daerah di wilayah Indonesia Timur," katanya. 

Dia mengatakan, untuk nyamuk Wolbachia ini memang tidak mungkin sekarang langsung dilihat hasilnya, ada standarisasinya minimal dua tahun sampai 10 tahun. 

Menurut Burhanuddin, untuk fogging dan larvasidasi masih tetap diperlukan, larvasida ini digunakan apa bila di luar rumah titik penampungan air masih banyak maka harus digunakan. 

Baca juga: Wolbachia Efektif Mengurangi Kasus Demam Berdarah Sebesar 77 Persen, Kata Kemenkes

Kalau untuk fogging, kata dia, digunakan apabila ada konfirmasi kasus positif, setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi. 

"Fogging merupakan penanganan terakhir pada kasus DBD. Kalau keseringan menggunakan fogging maka dikhawatirkan nyamuk akan resisten," jelasnya. 

Dia berharap pro dan kontra yang ada di masyarakat tentang penerapan teknologi Wolbachia ini, bisa diberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat. 

Burhanuddin menegaskan, faktanya memang teknologi ini sudah melalui riset yang mendalam, dan faktanya dapat menurunkan angka kasus DBD. 

Baca juga: Tuai Kontroversi, Program Nyamuk Wolbachia di Kota Kupang Tetap Berlanjut

Peneliti riset Wolbachia pusat kedokteran tropis FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Citra Indriani MPH mengatakan, yang harus diketahui masyarakat adalah nyamuk berwolbachia tidak menginfeksi manusia, karena hanya bisa hidup di serangga. 

"Kami juga melihat di riset kami, apakah orang-orang yang tinggal di daerah yang ada nyamuk Wolbachia, apakah memiliki antibodi terhadap Wolbachia atau tidak, dan ternyata tidak ditemukan antibodi itu, artinya tidak bisa menginfeksi manusia," jelasnya. 

Menurut dr Citra, nyamuk Wolbachia tidak meningkatkan jumlah populasi nyamuk, saat melepas nyamuk Wolbachia memang akan naik tetapi jumlahnya akan turun kembung seperti sebelumnya. 

Baca juga: Kelurahan Oebufu Lakukan Tahapan Survei Lokasi Penyimpanan Telur Nyamuk Wolbachia

Dia menjelaskan, nyamuk aedes aegypti yang berwolbachia, ada seorang peneliti Prof Scott O'Neill, Yang meneliti tentang Wolbachia sejak tahun 90-an, yang meneliti di Amerika dan pengembangkan karir di Australia, lanjut meneliti tentang nyamuk Wolbachia ini. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved