Berita Nasional

Polisi Terus Dalami Rangkaian Kematian Bocah SD di Sukabumi, Keterangan Awal Masih Diragukan 

Polisi masih meragukan sejumlah keterangan terkait kematian MHD (9), bocah kelas 2 sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Sukaraja, Sukabumi.

Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/ILUSTRASI
Ilustrasi - Penganiayaan MHD (9), bocah kelas 2 sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Sukaraja, Sukabumi oleh kakak kelasnya. Polisi masih meragukan sejumlah keterangan terkait kematian naas bocah itu. 

POS-KUPANG.COM, BANDUNG - Polisi masih meragukan sejumlah keterangan terkait kematian MHD (9), bocah kelas 2 sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Keterangan yang diragukan polisi tersebut termasuk dari keluarga bocah MHD yang disampaikan sang kakek korban yang berinisial HY.

Pihak kepolisian berupaya untuk terus mendalami rangkaian kematian bocah SD yang malang itu. Agar membuat terang kasus ini, maka polisi akan mendudukan rangkaian kasus ini secara faktual berdasarkan penyelidikan, pemeriksaan hingga bukti -bukti yang didapatkan.

Karena itu, polisi masih meminta keterangan sejumlah saksi dalam kasus dugaan meninggalnya MHD (9), yang diduga meninggal akibat dikeroyok oleh kakak kelasnya.

Baca juga: Nasib Tragis Bocah SD yang Tewas Dikeroyok Kakak Kelas, Tak Mau Mengaku Meski Kritis 3 Hari

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar, Kombes Pol Ibrahim Tompo menyebut, saksi-Saksi tersebut dimintai keterangan untuk mencari titik terang terkait rangkaian dugaan kasus kematian MHD.

"Ada beberapa rangkaian di lakukan pendalaman, saksi yang membuktikan ada disitu, beberapa saksi rangkaian penyebab kematian ada beberapa saksi, kemudian rangkaian (saksi) keluarga juga disitu ada beberapa saksi," ucap Kombes Pol Ibrahim Tompo dilansir dari Kompas.com, Kamis (25/5/2023).

Pendalaman tersebut dilakukan lantaran ada sesuatu yang diragukan kepolisian dari pernyataan keluarga. 

"Belum yakin karena itu jadi satu rangkaian termasuk kematian dari korban nya. Jadi gak bisa disimpulkan sepenggal agar tidak jadi missed," ucap Ibrahim.

Dalam gelar perkara yang dilakukan di Mapolda Jabar pun, polisi masih menyesuaikan situasi dan analisisnya. Karenanya pendalaman kasus ini penting dilakukan lantaran ada beberapa pernyataan yang diragukan polisi.

Baca juga: Polisi Akan Periksa Pihak Sekolah Buntut Tewasnya Bocah SD Akibat Pengeroyokan Kakak Kelas

"Karena ada beberapa hal yang meragukan, ada penyampaian dari keluarga ini harus didudukan secara faktual penyampainnya, apakah benar penyebabnya soal itu atau gimana," kata Ibrahim.

Terkait visum korban pun, polisi masih menunggu hasilnya. Meski begitu, polisi berupaya mengungkap kasus ini dengan mengedepankan fakta dan objektifitas.

"Didalami dan kami berusaha dengan objektif, karena ada lanjutan informasi dari publik, tahap awal progres penyidikan objektifitas harus di kedepankan," pungkasnya.

Seperti diketahui, kakek korban yang berinisial HY menyampaikan bahwa adanya dugaan pengeroyokan yang dilakukan kaka kelas korban pada Senin (15/5/2023).

Pasalnya usai kejadian tersebut, cucunya itu mengeluh sakit. Esoknya, Selasa (16/5/2023), korban memaksa tetap masuk sekolah meski dalam keadaan sakit, namun nahas, saat itu korban kembali dikeroyok oleh kakak kelasnya.  

Akibat pengeroyokan terakhir, korban harus dilarikan ke RS Primaya pada Rabu (16/5/2023) akibat mengalami kejang-kejang.

Korban pun selanjutnya dipindahkan ke RS Hermina lantaran RS Primaya tidak menerima pasien akibat tindak kekerasan.

Mengalami kritis selama tiga hari, korban pun dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (20/5/2023). Kakek korban juga menyebutkan berdasarkan keterangan dokter, korban mengalami luka bagian organ dalamnya. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com

Ikuti berita terbaru POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Kompas.com
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved