Berita Belu
SMA St Angela Atambua Belu Lestarikan Alam dengan Eco Enzyme
para siswa diajak untuk terlibat secara aktif dan membiasakan diri peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sampah
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Usaha untuk menjaga dan melestarikan bumi saat ini terus dilakukan oleh berbagai pihak. Khusunya menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan bagi generasi muda.
Hal inilah yang praktikan oleh pihak SMA Katolik St. Angela Ursulin Atambua, Kabupaten Belu, dengan membuat gerakan cinta lingkungan lewat produk olahan sampah organik yang menghasilkan eco enzym.
Eco enzym sendiri merupakan hasil fermentasi limbah organik dapur menjadi bahan yang mempunyai manfaat untuk alam dan manusia.
Koordinator Kampus Ursulin St Angela Atambua, Sr. Lestari, OSU kepada POS-KUPANG.COM, mengatakan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga dengan membuat eco enzyme menunjukkan bentuk kepedulian dari siswa-siswi kepada perawatan bumi.
Baca juga: Desa Jenilu di Belu Kembangkan Kelapa Kopyor Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Disampaikan Sr. Lestari bahwa, dari dapur bumi subur merupakan slogan yang membuat siswa-siswi SMA St. Angela Ursulin Atambua menjadi inspirasi.
Menurutnya, dengan memanfaatkan eco enzym tersebut para siswa bisa menghasilkan produk berdaya guna seperti sabun cuci tangan, bahan pembersih, hand santitazer, obat luka serta ampasnya bisa dijadikan sebagai pupuk.
Kepala Sekolah St. Angela Sr. Indira Krisanti Lengkong, OSU mengatakan bahwa tujuan dilakukan pembuatan eco enzym ini sebagai bagian dari upaya sekolah untuk menggerakan siswa untuk menjaga serta merawat bumi beserta lingkungan dimana saat ini bumi dalam keadaan kritis.
"Karena itu, sebagai tindakan nyata maka para siswa dilatih untuk memanfaatkan limbah bekas rumah tangga untuk menghasilkan produk berbahan eco enzym untuk digunakan sebagai bahan untuk keperluan rumah tangga," ungkapnya.
Selain itu, kata dia, para siswa diajak untuk terlibat secara aktif dan membiasakan diri peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sampah untuk dijadikan produk yang berguna bagi kehidupan.
Suster Indira juga menyampaikan bahwa para siswa dapat mempraktikannya di saat jam sekolah dan selama proses pembuatan para siswa selalu didampingi oleh para guru.
Baca juga: Desa Jenilu di Belu Kembangkan Kelapa Kopyor Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir
"Lewat pratik yang dilakukan selama pembelajaran di sekolah diharapkan dapat ditularkan kepada masyarakat sebagai bahan edukasi pengelolan sampah sisa rumah tangga," bebernya.
Sementara Helen Rumanto siswi Kelas XII IPS mengatakan bahwa proses pengolahan untuk mendapatkan eco enzym diperlukan bahan yang mudah didapat seperti gula merah, sisa sayuran dan buah, air serta wadah untuk proses fermentasi.
"Dari setiap bahan yang digunakan akan diukur sesuai dengan takaran, sehingga bisa mendapatkan hasil yang baik. Setalah mendapatkan takaran yang tepat, seluruh bahan akan dicampur merata ke dalam wadah yang sudah berisikan air," jelasnya.
Lanjutnya, setelah semua bahan tercampur merata, maka wadah tersebut akan ditutup rapat dan disimpan selama 90 hari.
Ia juga mengatakan bahwa eco enzym tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan manusia, hewan dan lingkungan selama mengikuti dosis yang dianjurkan. (Cr23)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/siswa-siswa-sma-stangela-ursulin-atambua-mempraktekkan-proses-pembuatan-eco-enzymenzym.jpg)