Pilpres 2024

Yusril Ihza Mahendra Beberkan Pandangan Soal Pilpres 2024: Chemistry Jokowi-Prabowo Cukup Dalam

Ketua Umum PBB ( Partai Bulan Bintang ) Yusril Ihza Mahendra, membeberkan pandangannya terkait calon presiden untuk Pilpres 2024 mendatang.

|
Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM/kolase foto
LEBIH DALAM - Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan pandangannya terkait kedekatan antara Presiden Jokowi dengan tiga figur yang telah dideklarasikan sebagai Capres 2024 nanti. Pak Jokowi punya chemistry lebih dalam dengan pak Prabowo. 

Entahlah ya, saya sih tidak mengatakan beliau bermain dua kaki. Tapi memang ada posisi yang agak dilematis Pak Presiden sekarang ini.

Satu hal begini. Kita dulu tidak bisa membayangkan bahwa Pak Prabowo akan masuk ke kabinet Pak Jokowi, karena kan begitu keras pertarungannya apalagi melibatkan agama begitu dalam terhadap Pak Prabowo pada waktu itu.

TEMUI PRABOWO - Wiranto, Mantan Ketua Umum Partai Hanura menemui Prabowo Subianto, Senin 1 Mei 2023. Pada momen itu Wiranto menyerahkan ratusan mantan kader Partai Hanura untuk bergabung di Partai Gerindra.
TEMUI PRABOWO - Wiranto, Mantan Ketua Umum Partai Hanura menemui Prabowo Subianto, Senin 1 Mei 2023. Pada momen itu Wiranto menyerahkan ratusan mantan kader Partai Hanura untuk bergabung di Partai Gerindra. (POS-KUPANG.COM/kolase foto)

Selain ijtima ulama lalu ada puisinya Neno Warisman segala macam. Kan itu luar biasa keterlibatan agama pada waktu itu sehingga membuat kita terbelah.

Sampai di masjid jenazah tidak boleh disolatkan begitu ya?

Iya betul, jadi Pak Jokowi ini kan mengajak Pak Prabowo masuk ke dalam kabinet. Dan Pak Prabowo juga menerima, saya pada waktu itu sempat melihat ini tidak terbayangkan akan terjadi.

Pak Jokowi waktu itu meminta saya menjadi lawyer profesional menghadapi gugatan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Mahkamah Konstitusi.

Saya profesional saat itu, tidak pernah berbicara pada hakimnya, enggak sama sekali dan dengan Pak Bambang Widjojanto, kita betul-betul berhadapan sebagai advokat yang betul-betul kita adu ilmu, adu kemampuan. Dan itu dimenangkan oleh Pak Jokowi.

Makanya saya agak salah paham juga pada waktu itu, kok bisa ya kita disuruh bertarung habis-habisan di pengadilan, tapi bisa juga kita membayangkan sebaliknya.

Andaikan Pak Prabowo tidak masuk ke dalam kabinet maka keterbelahan masih berlangsung sampai hari ini. Jadi sebenarnya setelah saya berdiskusi panjang dengan Pak Prabowo di Padang termasuk sebelumnya bertemu beliau.

Diskusi saya dengan Pak Prabowo itu tidak hanya berpikir rasional, tetapi juga bicara dari hati ke hati.

Saya dapat menangkap andai kata beliau tidak masuk ke kabinet, mula-mula saya senyum-senyum juga Pak Prabowo bilang masuk demi Indonesia. Kata saya, "apa iya?".

Tetapi setelah agak panjang kita berbicara, ada kalanya seorang politisi itu dia mengambil keputusan bukan keuntungan dirinya kadang-kadang sebuah pengorbanan.

Saya pun mengalami dilema seperti itu, misalnya saya sampai hari ini masih jadi Ketua Umum PBB.

Sebenarnya itu kan sebuah pilihan yang sulit buat saya. Anda tahu PBB ini ikut pemilu hasilnya tidak optimal walaupun sebenarnya saya bisa maju saja sebagai intelektual, atau akademisi tanpa terikat partai apapun.

Jadi saya bilang orang itu bertahan di partai untuk mempertahankan sebuah kepentingan. Tapi saya bertahan di partai ini kepentingan sama sekali nggak ada.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved