Mengenal Sejenak Santo Louis De MontFort: Sang Rasul Maria, 28 April
Nama Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716) atau yang akrab dikenal dengan nama Santo Montfort belum banyak disebut dalam Sejarah Teologi.
Pengantar
Nama Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716) atau yang akrab dikenal dengan nama Santo Montfort (selanjutnya Montfort) belum banyak disebut dalam Sejarah Teologi. Dari sekian banyak orang suci dan mistikus ternama mesti diakui bahwa Montfort tidak memiliki reputasi sekelas St. Ignatius dari Loyola (+1556), Sta. Teresa dari Avila (+1582) atau St. Yohanes dari Salib (+ 1591). Meskipun demikian, sejak dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1947, ”Misionaris Apostolik dan teolog klasik” ini mulai diperhitungkan dalam Gereja secara khusus kontribusi pemikirannya di bidang Mariologi (Ilmu tentang Bunda Maria). Dalam hal ini, Paus Yohanes Paulus II (1978-2005) menyebut orang kudus ini sebagai ”Saksi dan Guru Spiritualitas Marial.” (lih. yoh. paulus II, Redemptoris Mater, 48). Orang kudus ini memang disebut sebagai guru Spiritualitas Marial, namun ajaran-ajarannya ternyata tidak hanya terbatas pada bidang Mariologi, tetapi mencakup pula bidang-bidang ilmu teologi lainnya seperti; Kristologi (Ilmu tentang Kristus), Pneumatologi (Ilmu tentang Roh Kudus), Eklesiologi (Ilmu tentang Gereja), dsb.
Bertepatan dengan Hari Raya Santo Monfort yang diperingati Gereja pada 28 April, secara pribadi saya ingin membagikan satu dua butir pemikiran, refleksi dan perkenalan umum tentang Santo Montfort. Sudah lebih dari 300-an tahun yang lalu orang kudus ini meninggalkan dunia, namun namanya tetap terpatri di dalam Gereja, hanya saja barangkali bagi kita khususnya di Indonesia nama orang kudus Prancis ini belum begitu akrab di telinga, hati dan pikiran banyak orang. Tulisan ini akan diuraikan dalam beberapa bagian.
Sejarah Singkat
Montfort dikenal secara luas di seluruh dunia sebagai ”Bentara Bunda Allah.” Bagi kebanyakan orang, ajaran rohani orang suci Perancis ini terpaku pada bakti (devosi) kepada Maria yang oleh sebagian orang dianggap sangat berlebihan. Anggapan semacam ini tentu saja masuk akal, oleh karena jarang sekali seorang penulis rohani berbicara secara jelas dan detail nan mesra tentang ”rahasia Maria”. Meskipun demikian, kita patut melihat lebih dalam bahwa sebetulnya ajaran Montfort tentang Bunda Maria selalu berada dalam konteks pewartaan tentang Kabar Gembira mengenai Yesus Kristus dan keselamatan yang dibawa-Nya lewat Maria bagi manusia.
Montfort adalah anak sulung dari pasangan Jean-Baptiste Grignion (1647-1716) dan Nyonya Jeanne Robert (1649-1718). Ia lahir pada tanggal 31 Januari 1673 di kota Montfort, tidak jauh dari kota Rennes di wilayah Brittany, Perancis Barat. Ayahnya, seorang pengacara. Ibunya mempunyai dua saudara yang menjadi imam. Para penulis sejarah tidak mencatat banyak hal tentang masa kanak-kanaknya. Meskipun demikian, buku pembaptisan dan kematian, yang masih tersimpan di Iffendic, dapat berceritera banyak tentangnya. Setelah Montfort menyelesaikan tahun-tahun pertamanya dengan anggota keluarganya, ia masuk ke sekolah yang dikelola oleh para Yesuit (Jesuit School - College de Rennes), St. Thomas Becket, di Rennes selama delapan (8) tahun (1685-1693) (bdk. b. cortinovis, 1997: 9).
Setelah menamatkan pendidikannya di Rennes, Montfort melanjutkan studinya di Seminari Saint Sulpice (1695-1700). Orang suci ini pada dasarnya adalah seorang yang tekun dan rajin membaca serta membuat sintesis atas apa yang telah dipelajarinya. Ketika bekerja sebagai petugas perpustakaan di Seminari Saint Sulpice, ia tidak pernah membuang kesempatan emas untuk membaca buku-buku. Saat yang berharga itu dipakainya untuk mendalami Kristologi, Pneumatologi, dan Eklesiologi serta Mariologi. Ia juga membaca dan mendalami pemikiran para Bapa dan Pujangga Gereja. Hasil bacaan dan pemikiran mereka dirangkumnya dalam Le cahier de notes (Buku catatannya). Selain membaca tulisan mereka, orang kudus ini membaca pula tulisan rohani para pengarang dari Spiritualitas Bérullian (Mazhab/Sekolah Perancis) yang turut meresapi hidup rohaninya (bdk. A. Suhardi, 2008:20). Ada beberapa mentor penting yang menjadi pilar utama Mazhab Perancis, yakni, Bérulle (+ 1629), Condren (+ 1642), J. J. Olier (+ 1657) dan J. Eudes (+ 1680). Selain para tokoh tersebut, masih ada beberapa tokoh lain dari mazhab ini, yakni Vincent de Paul (+ 1660), Mère Madaleine de Saint Joseph (+ 1637), Marguerite du Saint-Sacrament of Beanune (+ 1648), Louis-Tronson (1622-1700), Jean-Baptiste de La Salle (+ 1719), dan Louis-Marie de Montfort (+ 1716) (bdk. s. a. muto, 1989:81).
Montfort hidup pada zaman di mana Sekolah Perancis sangat kuat memengaruhinya. Pengaruh ini amat terasa ketika ia masuk ke dalam lingkungan Seminari St. Sulpice (1692-1700), sebuah seminari yang sangat terkenal di bidang formasi pendidikan bagi calon imam di Eropa dan bahkan mungkin seluruh Eropa pada waktu itu. Ada beberapa penulis rohani pada zaman itu yang memengaruhi perjalanan hidup rohaninya, meskipun pada akhirnya, orang kudus ini berusaha sendiri menghayati gaya hidupnya secara khas, misalnya, tentang “pengosongan diri” (kenosis) yang ia tuangkan dalam tulisannya mengalir dari misteri Inkarnasi dan Salib Kristus. Ia merenungkan misteri-misteri itu tidak terpisah dari konteks di mana ia hidup, karena ia adalah anak pada zamannya.
Sebagian besar pemikiran dan gaya hidup “ Misionaris Apostolik ” ini dipengaruhi oleh Mazhab Perancis yang dipelopori oleh Kardinal Pierre de Bérulle (+1629). Ada banyak tema yang direfleksikan oleh mazhab ini tentang Allah dan manusia. Salah satu tema dasar, yang menjadi pusat pemikiran dari Mazhab ini adalah ”Inkarnasi.” Inkarnasi sering disebut sebagai misteri pengosongan diri Allah (bdk. p. gaffney, 1994:546).
Montfort pernah kuliah di Universitas Sorbonne selama dua tahun dan berhenti. Selanjutnya ia memutuskan untuk belajar sendiri di perpustakaan seminari sambil mendiskusikan hasilnya dengan para pembimbingnya, sampai ia ditahbiskan imam pada 5 Juni 1700 oleh Mgr. Bazan de Flamenvile. Sesudah menjadi imam, ia bergabung pertama kali dengan tim misi yang dipimpin oleh Pater Lévêque di Nantes (1700 - November 1701), kemudian ia berkarya di wisma tunaharta di Poitiers (1701-1706) meskipun di sela-selanya, pada 1703, ia juga pernah berkarya di tempat penampungan para “sampah masyarakat” kota Paris, di La Salpêtrière. Selanjutnya Montfort berjumpa dengan Marie-Louise Trichet yang kelak akan menjadi co-pendiri Tarekat Putri-putri Kebijaksanaan (Daughters of Wisdom-DW).
Pada tahun 1705, Montfort berjumpa dengan Bruder Mathurin di Montbernage yang menjadi anggota pertama Serikat Maria Montfortan (SMM), yang beranggotakan para imam dan bruder, yang dalam perkembangannya memiliki cabang khusus untuk para bruder yang disebut para Bruder Santo Gabriel (SG). Ketiga tarekat ini sekarang bekerja di beberapa benua. Di Indonesia baru dua tarekat yang masuk, yakni SMM (1939 – sekarang) dan DW (2003 – sekarang).
Pada 6 Juni 1706, – setelah melakukan perjalanan kaki yang sangat jauh dari Poitiers (Prancis) ke Roma (Italia) – Montfort beraudiensi dengan Paus Klemens XI (1700-1721) untuk meminta petunjuk lahan karya misi yang cocok baginya (bdk. J.-B. Blain, 1997:173). Bapa Suci menunjuk Perancis sebagai medan karya misionernya. Melihat antusiasme yang begitu besar dari dalam diri Montfort untuk melayani umat, maka Bapa Suci menjulukinya sebagai “Misionaris Apostolik” di negaranya sendiri.
Santo Montfort: Misionaris yang Berkobar-kobar
Montfort tekun melaksanakan karya misinya. Ia melayani orang-orang kecil, sederhana, kaum gelandangan, orang sakit, orang miskin. Ia juga sangat giat membaharui janji-janji baptis umat yang dilakukannya dengan meletakkan semua janji itu dalam tangan Bunda Maria sebagai jaminan kesetiaan. Sejak tahun 1706 hingga kematiannya, Montfort tampil menjadi seorang misionaris aktif yang tak jemu-jemunya melayani umat dan membawa umat kepada cara hidup Kristiani yang benar. Beliau melaksanakan kurang lebih 200 karya misi di berbagai keuskupan di wilayah Perancis Barat antara lain, Keuskupan Rennes, Saint Malo, Saint Brieuc, Nantes, Luçon, La Rochelle, dll. Ia bermisi di tengah umatnya dari paroki yang satu ke paroki yang lain. Di dalam karya pelayanannya itu, ia tekun membangun sebuah Bukit Kalvari di Ponchateau (bdk. b. cortinovis, 1997:16).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kolasefoto-Pater-Fidel-Wotan-SMM.jpg)