Rabu, 29 April 2026

Berita Lembata

Festival Leva Alep: Ikhtiar Melestarikan Warisan Leluhur Lamalera Kepada Generasi Muda

Pemandangan atraksi ini merupakan bagian dari Festival Leva Alep yang didukung langsung oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
Puluhan Leva Alep (nelayan tradisional) dengan sigap mendorong pledang (perahu tradisional) ke dalam laut. Ombak laut selatan yang keras sedikitpun tak menyurutkan niat mereka berburu ikan paus. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Pantai Lamalera, Rabu, 15 Februari 2023 siang tampak ramai. Rombongan pemerintah daerah dari Lewoleba dan masyarakat berbaur di bawah terik matahari. Mereka berjejer di sepanjang pasir putih.

Tiba-tiba teriakan baleo, baleo, baleo disambut gembira masyarakat dengan teriakan hilibe-hilibe, hilibe. Itu pertanda semburan ikan paus (kotaklema) tampak di lepas pantai Laut Sawu. Puluhan Leva Alep (nelayan tradisional Lamalera) dengan sigap mendorong pledang (perahu tradisional) ke dalam laut. Ombak laut selatan yang keras sedikitpun tak menyurutkan niat mereka berburu ikan paus.Tak jauh dari pesisir, sekitar 12 pledang siap mempertontonkan atraksi berburu ikan paus yang sudah diwariskan turun temurun itu. Sebanyak 10-15 Leva Alep mendayung perahu sambil mendendangkan syair-syair indah dalam bahasa Lamalera sebagai penyemangat (Liang’). 

Jika buruan sudah ditemukan, sang Lamafa (juru tombak) pada masing-masing pledang memegang tempuling, berdiri di ujung perahu dan ketika saatnya tiba, dengan perkasa dia melompat, melayang di udara, terjun ke laut sembari menikam tubuh ikan. Jika hasil buruannya adalah ikan pari, maka layar pledang akan dibuka. Sedangkan, jika yang ditombak adalah ikan paus maka layar akan diturunkan.  

Baca juga: Dinobatkan Jadi Lamafa, Penjabat Bupati Lembata: Jangan Dengar Komentar yang Tidak Beri Persatuan

Di pesisir masyarakat dan para pengunjung takjub dengan simulasi berburu ikan paus tersebut. Mereka mengabadikan momen langka yang biasa dilakukan di tengah lautan lepas itu dengan kamera ponsel. Pemandangan atraksi ini merupakan bagian dari Festival Leva Alep yang didukung langsung oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek.

Alfons Resing, tokoh masyarakat setempat, mengatakan, saat ini ada 17 pledang yang masih aktif berburu ikan paus. Musim berburu ikan paus dibuka dengan perayaan ekaristi (misa leva) tepat pada tanggal 1 Mei di pesisir pantai dan baru berakhir pada Oktober setiap tahun.

“Ini menggambarkan kehidupan Leva Alap di laut,” kata Alfons menjelaskan maksud dari demonstrasi penangkapan ikan paus tersebut.

Tidak seperti dulu, jumlah hasil tangkapan ikan paus sudah tidak bisa diprediksi lagi sekarang. Alfons bercerita, pernah selama sembilan bulan tidak ada tangkapan ikan paus sama sekali. Hingga akhirnya mereka memanggil pastor untuk menggelar misa lagi.

Ketua panitia, Matheus Gilo Bataona, berujar festival leva alep digelar sebagai bagian dari revitalisasi tradisi yang pelan-pelan mulai hilang. Ada ketakutan generasi muda Lamalera tidak mengetahui lagi keseluruhan tradisi Leva Alep.

Baca juga: Marsianus Kesal, Partisipasi Orangtua di Lembata Atasi Stunting Sangat Rendah

Festival ini menekankan pemulihan kembali tradisi Leva Alep, budaya dan peninggalan nenek moyang masyarakat Lamalera.  Ada banyak hal dalam tradisi yang perlu digali kembali dan salah satu tujuan festival itu digelar ialah menghidupkan kembali kearifan-kearifan lokal masyarakat Lamalera. Matheus menyebut adanya pergeseran budaya yang bisa berujung pada hilangnya nilai-nilai kehidupan yang sudah diwariskan dalam tradisi.

“Kami ingin munculkan kembali, tarian, lagu-lagu daerah, syair-syair yang kian tergeser akibat pengaruh modernisasi,” ujar kepala desa Lamalera ini.

Matheus mengakui sudah ada ketakutan tradisi yang selama ini hidup di Lamalera akan punah dengan sendirinya jika tidak ada upaya revitalisasi.

“Ini sasarannya sebenarnya untuk kaum muda, tapi juga melibatkan orang-orang tua supaya bisa mengingatkan anak-anak didik bahwa budaya itu tidak akan hilang,” pesannya.

Festival Leva Alep berlangsung selama tiga hari, 15-17 Februari 2023 dan dibuka langsung oleh Penjabat Bupati Lembata. Selain atraksi berburu ikan paus, anak-anak sekolah, guru, para Leva Alep, Peneta Alep dan ibu-ibu dari desa Wulandoni juga dilibatkan.

Penjabat Bupati Lembata Marsianus Jawa mengungkapkan inti dari festival adalah bagaimana masyarakat memperingati suatu peristiwa yang pernah terjadi. Dia menyebut, Lamalera sebagai kampung tradisional yang terkenal dengan perburuan ikan paus sudah punya daya tarik tersendiri. Pemerintah daerah punya niat menarik wisatawan sebanyak-banyaknya datang ke Lamalera.

Untuk itu, dia berpesan kepada warga untuk menjaga kebersihan khususnya kebersihan toilet di homestay dan rumah masing-masing.

“Kepala desa bisa pakai dana desa untuk bikin toilet jadi bagus,” pesannya. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved