Berita Kota Kupang
Waspada, Kota Kupang Dilanda Hujan Dua Hari ke Depan
BMKG menyebut Kota Kupang dan beberapa wilayah lainnya di NTT dilanda hujan dalam dua hari ke depan.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - BMKG menyebut Kota Kupang dan beberapa wilayah lainnya di NTT dilanda hujan dalam dua hari ke depan.
Hal itu disebabkan wilayah NTT masih berada di periode musim hujan. Selain itu, adanya Sirkulasi Siklonik di Samudera Hindia sebelah Barat Daya NTT dan daerah tekanan rendah di Utara Australia yang membentuk daerah belokan dan pertemuan angin di NTT, ikut berpengaruh.
Baca juga: Cuaca NTT Hari Ini Rabu 4 Januari 2023, Hujan Angin Kencang Landa 18 Wilayah, Tak Termasuk Sumba
Ada juga dukungan suhu permukaan laut yang cukup hangat dan kelembapan yang cukup basah ditiap lapisan atmosfer serta aktifnya MJO, turut menyebabkan wilayah NTT berpotensi terjadi hujan ringan hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kupang Agung Sudiono Abadi dalam keterangan tertulisnya, Rabu 15 Februari 2023 menyampaikan hal ini.
Baca juga: BMKG: Waspada, Fenomena Super New Moon Picu Banjir Rob Pesisir 5 Pulau di NTT 14 - 15 Februari 2023
Agung merinci di tanggal 15 Februari hujan terjadi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Belu, Malaka, TTU, TTS, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote, Sabu, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sumba Timur.
Sedangkan, lalu di tanggal 16 Februari terjadi lagi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, Belu, Malaka, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sumba Timur.
Baca juga: Banjir di Waiblama Sikka Telan Korban Jiwa, 1 Orang Meninggal dan Satu Hilang
"Dia hari ini tidak terjadi angin kencang," imbuhnya.
Agung juga meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi dampak hujan dan angin kencang yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga rusaknya atap bangunan dan fasilitas umum lainnya.
Khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung/tebing patut waspada akan potensi longsor dan banjir bandang pada saat terjadi hujan dengan durasi yang panjang.
Musim Kemarau Tahun Ini
Dikutip keterangan tertulis pada 27 Januari 2023, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut musim kemarau 2023 disebut akan lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengatakan, kondisi kemarau yang lebih kering ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya, yaitu 2020-2022. Sebab, pada tahun-tahun itu intensitas hujan cukup tinggi.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan semakin mudah terjadi.
Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi.
"Kalau tiga tahun terakhir ini saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka di tahun ini (2023), intensitas hujan akan jauh menurun," kata dia.
Menurutnya, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Terutama di daerah-daerah yang masuk ke dalam kategori rawan Kahutla, contohnya seperti di Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, ia mengungkap, saat ini intensitas La Nina terus melemah. Hal itu terlihat dari indeks El-Nino Southern Osciliation (ENSO) di 10 hari pertama Januari 2023.
Baca juga: Termasuk NTT, BMKG Imbau 30 Wilayah Wasapda Cuaca Hari Ini, Ada Potensi Hujan Lebat, Angin Kencang
El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering serta permulaan musim hujan yang terlambat. Sedangkan ketika La Nina, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya.
La Nina juga menyebabkan hujan tetap terjadi saat musim kemarau. BMKG memprediksi kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga akhirnya indeks menjadi netral pada Maret 2023.
Baca juga: Termasuk NTT, BMKG Imbau 30 Wilayah Wasapda Cuaca Hari Ini, Ada Potensi Hujan Lebat, Angin Kencang
"Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek," imbuhnya.
Pada bulan Maret hingga Mei 2023, beberapa wilayah di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi atau peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau.
Dari periode peralihan musim ini, kata dia, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mewaspadai kemunculan fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang.
"Kewaspadaan yang lebih tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau yang diprediksikan lebih kering atau dengan jumlah curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan 3 tahun belakangan karena kondisi La Nina yang telah netral atau bahkan berubah menjadi El Nino lemah," kata Dwikorita.
Kepala BMKG itu mengatakan, hingga enam bulan ke depan, BMKG memprediksi bahwa curah hujan bulanan akan didominasi kategori normal.
Namun, secara volume, curah hujan bulanan tahun 2023 relatif menurun dibandingkan dengan curah hujan bulanan selama tiga tahun terakhir.
Baca juga: Badai Gabrielle Terjang Selandia Baru, Ratusan Orang Diselamatkan dari Atap Rumah
Curah hujan bulanan kategori di atas normal berpeluang terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara pada Februari dan Maret 2023.
Sementara itu, di Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara akan terjadi pada Februari 2023. Lalu, di Papua bagian tengah dan selatan akan terjadi pada Juni 2023.
Sedangkan curah hujan kategori di bawah normal berpeluang terjadi di sebagian Sumatera bagian tengah, sebagian Kalimantan bagian tengah, sebagian Sulawesi bagian tengah dan sebagian kecil Papua pada Februari hingga Maret 2023, dan sebagian besar Sumatera dan Jawa pada Mei dan Juni 2023. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.