Opini
Natal, Kisah Dua Hasrat di Betlehem
Pada zaman kelahiran Yesus, di Mediterania sekitar 2.000 tahun silam, Yusuf dan Maria melakukan perjalanan 100 mil dari Nazareth ke Betlehem.
Oleh Pater S. Abdul, Ocd
POS-KUPANG.COM - Tahun ini, di banyak tempat di dunia, persoalan pandemik, perang di Ukraina vs Rusia, katastrofe, diskriminasi dan lain-lainnya berdampak variatif bagi peradaban manusia.
Di Indonesia sendiri, seperti dirilis oleh BNPB, ada sekitar 542 kejadian bencana sepanjang tahun 2021 dalam bentuk cuaca ekstrem, tanah longsor, kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi, gempa bumi dan kekeringan serta erupsi api.
Kondisi chaos tersebut sempat hening karena euforia perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar yang diklaim sebagai turnamen terbaik dalam sejarah Sepak Bola empat tahunan itu.
Euforia kemenangan berakhir, duka kekalahan lenyap. Masalah berlanjut dihadapi. Sukacita Natal bergaung konsisten.
Lagi-lagi tahun ini, bukan cerita fiktif repetitif tentang kisah Betlehem, namun suatu kisah yang terkonfirmasi paten di setiap batin umat Kristiani, bahwa ada kasih Allah yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, Sang Emanuel.
Peristiwa inkarnasi telah menjadi bukti bahwa kasih Allah menjamin rasa stabil, familiar, care dan aman.
Pada zaman kelahiran Yesus, di Mediterania sekitar 2.000 tahun silam, Yusuf dan Maria melakukan perjalanan 100 mil dari Nazareth ke Betlehem. Berjalan kaki.
Itinerari rohani keduanya dipandu oleh jejak Allah di dalam keyakinan religius bahwa Allah bekerja sama dengan mereka untuk tujuan-Nya bagi manusia. Ada jumpa antara hasrat Allah dan hasrat manusia.
Ada pertentangan ‘Hasrat’
Persoalan-persoalan yang dihadapi dunia berimbas juga pada kehidupan beragama. Selain ada umat yang makin aman dalam iman, ada juga rasa apatis terhadap cara Allah menilai dunia.
Propaganda antithesis, Allah bukanlah Allah yang ‘berpihak” digagaskan karena Allah diduga tidak berhasrat menyejahterakan dunia, melainkan terpikat pada kemelaratan. Kampanye ini, semoga bukan menjadi pandemik.
Ketika Yesus lahir, Herodes Agung adalah raja yang memerintah Yudea, Samaria, dan Galilea sebagai negara polis. Herodes dikenal sebagai ‘penguasa klien’, ditunjuk Kaisar Romawi untuk menjalankan kerajaan besar orang Yahudi.
Karena menerapkan sistem pajak yang memberatkan masyarakat, dengan tuntutan sebanyak 50 persen hinggga 60 per sen dari apa yang ditanam dan dimiliki rakyat jelata dan sering konfontrasi antara petani, nelayan dan penduduk kota Galilea versus Herodes serta pejabat Romawi dan aristokrasi perkotaan, maka Herodes dijuluki sebagai Raja brutal.
Perilaku Herodes dan para penguasa Romawi menciptakan gab generation di dalam masyarakat. Seperti di sebagian masyarakat agraris, sekitar 10 persen lahir sebagai bangsawan dan hidup mewah, dan 90 persen sisa mayoritasnya mengerjakan ladang dan menjaga ternak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yesus-dibaringkan-di-palungan_01.jpg)