Berita Rote Ndao
Panggung Apresiasi Kantor Bahasa NTT Adakan Festival Tunas Bahasa Ibu Revitalisasi Bahasa Rote
Untuk diketahui, 5 bahasa yang menjadi objek revitalisasi bahasa daerah Kantor Bahasa NTT dalam implementasi program Merdeka Belajar Episode ke 17
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu, Revitalisasi Bahasa Rote.
Festival ini dibuka oleh Wakil Bupati Rote Ndao, Stefanus M Saek bertempat di Gedung Auditorium Ti'i Langga, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Selasa, 22 November 2022.
Adapun kegiatan ini ditujukan bagi guru-guru, anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP sebagai wujud pelestarian bahasa Rote yang menjadi objek revitalisasi Kantor Bahasa NTT.
Untuk diketahui, 5 bahasa yang menjadi objek revitalisasi bahasa daerah Kantor Bahasa NTT dalam implementasi program Merdeka Belajar Episode ke 17, Revitalisasi Bahasa Daerah diantaranya adalah Bahasa Dawan, Bahasa Manggarai, Bahasa Kambera, Bahasa Rote dan Bahasa Abui.
Dalam laporan panitia yang disampaikan oleh Koordinator Tata Usaha Kantor Bahasa NTT, Irwan Alfreed Pellondou mengatakan bahwa festival tunas bahasa ibu sebagai panggung apresiasi.
"Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah bukan panggung festival, tetapi panggung apresiasi. Festival ini sebagai bentuk panggung apresiasi kami, karena kerja keras bapak ibu melatih anak-anak belajar bahasa Rote tanpa dibayar apapun," kata Irwan.
Ia mengakui bahwa Kantor Bahasa NTT melihat panggung festival tersebut, sebagai bentuk apresiasi yang luar biasa terhadap bahasa tercinta, bahasa Rote.
Baca juga: Kantor Bahasa Provinsi NTT Gelar Kegiatan Bengkel Penulisan
"Sasaran kami adalah 40 sekolah yang kami latih pada Pelatihan Guru Utama di bulan Agustus lalu. Kami latih 40 guru untuk 40 sekolah guna mengimplementasikan bahasa Rote dalam pembelajaran ekstrakulikuler," sebut Irwan.
Pelatihan guru utama yang dilaksanakan Kantor Bahasa NTT, menggunakan penutur asli Rote yakni bapak dan ibu guru.
"Kenapa sasaran kami anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama," sebut Irwa sembari bertanya.
Dengan alasan, masih katanya, karena Kantor Bahasa NTT mengetahui bahwa regenerasi penutur asli itu akan punah suatu saat jikalau pelestarian bahasa Rote dari orang dewasa, sebagai orang tua tidak diwariskan pada anak cucu.
"Dari 40 guru sekolah yang dapat pelatihan bahasa Rote pada TOT di bulan Agustus lalu, yang kembali untuk mengapresiasi dirinya, anak muridnya, dan pembelajarannya sebanyak 38 sekolah, dalam artian 38 sekolah itu yang meneruskan apa yang dipelajari dalam pelatihan kepada anak-anak," tandasnya.
"Lalu, dari 38 sekolah, jumlah peserta yang terdaftar pada kami ada 430 orang terhitung guru dan pesertanya," sambungnya.
Irwan juga membayangkan, kalau dari 430 orang ini, apabila pulang dan menularkan bahasa Rote kepada 430 orang yang lain dan merambat kepada banyak orang, maka menurutnya, mimpi buruk bahwa bahasa ibu itu akan punah tidak akan terjadi di Rote.
Baca juga: Revitalisasi Bahasa Kambera, Kantor Bahasa NTT Gelar Pelatihan Guru Utama di Sumba, Ini Tujuannya