Berita Lembata
Festival Mini Mura Rame: Orang Muda Lembata Bersuara Tentang Perubahan Iklim
Mini festival yang membawa isu perubahan iklim itu dikemas dengan pentas seni musik, pameran, monolog, stand up comedi, sharing komunitas dan talkshow
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Sejumlah komunitas anak muda di Lembata yang tergabung dalam Koalisi Komunitas Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI) atau biasa disebut Koalisi Kopi menggelar mini Festival Mura Rame bertajuk 'Kita Jaga Bumi, Bumi Jaga Kita' di Aula SMA Frater Don Bosko Lewoleba, Selasa, 25 Oktober 2022.
Mini festival yang membawa isu perubahan iklim itu dikemas dengan pentas seni musik, pameran, monolog, stand up comedi, sharing komunitas dan talkshow.
Menurut Ani Lamak, koordinator festival, ada beberapa kegiatan yang sudah dilakukan menuju Mura Rame Mini Festival.
Baca juga: Aliansi Rakyat Bersatu Lembata Akan Lapor Kasus Pidana Lingkungan Pembabatan Bakau di Merdeka
"Nanti ada roadshow ke beberapa sekolah untuk bercerita tentang isu perubahan iklim," kata dia.
Ani mengatakan ada 6 komunitas anak muda di Lembata yang tergabung dalam komunitas Koalisi Kopi yakni Komunitas Gempita, Komunitas Film Langit Jingga, Trash Hero, KarangTaruna desa Hadakewa, Lerahinga dan Bour.
"Semoga setelah ini ada komunitas lain yang mau bergabung," tandasnya.
Secara harafiah, dalam bahasa Lamaholot Mura Rame bermakna ajakan untuk bergembira bersama. Dalam konteks ini, festival mini Mura Rame mengemas kampanye perubahan iklim dengan pentas seni.
Koalisi KOPI diinisiasi oleh Perkumpulan Hutan Itu Indonesia (HII) dan Perkumpulan Terasmitra (TM) yang mendapat dukungan pelaksanaan program bersama HIVOS dalam program “Suara untuk Perubahan Iklim” (Voices for Climate Action/ VCA) yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga tahun 2025.
Fokus program Koalisi Kopi adalah menumbuhkan rasa cinta anak muda dalam basis pergerakan di NTT untuk hutan indonesia dengan mempopulerkan isu perlindungan hutan melalui berbagai kegiatan kampanye dengan cara baru yang tidak biasa.
Sebuah pendekatan yang membawa pesan positif, kreatif, dan menyenangkan hingga mengikuti tren sambil memperkuat narasi perlindungan hutan dengan aksi nyata sebagai aksi iklim; dan menjaring pelibatan lebih banyak mitra untuk berkolaborasi dalam mencapai tujuan kampanye.
Festival anak muda itu juga menghadirkan tiga orang pegiat lingkungan yakni Ado Nunang, Benediktus Bedil dan Lambertus Langoday.
Ado Nunang merupakan seorang aktivis penyu yang dulunya adalah seorang pemburu penyu. Ado kini bergiat melestarikan penyu di pesisir Lembata bersama komunitas Sahabat Penyu Loang.
Benediktus Bedil adalah Direktur LSM Barakat yang konsisten mengedukasi masyarakat pesisir menjaga alam dengan kearifan lokal Muro.
Sedangkan, Lambertus Langoday juga merupakan warga Lembata yang punya keprihatinan khusus pada isu-isu lingkungan.
Mey Lagaor yang memandu jalannya festival mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengkampanyekan isu perubahan iklim di kalangan anak muda. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Salah-satu-pengunjung-Festival-Mura-Rame-bertajuk-Kita-Jaga-Bumi-Bumi-Jaga-Kita.jpg)