Opini
Opini : Air Mata Gubernur dan Bupati
Tangis mereka pecah ketika darasan doa yang dilantunkan oleh Pendeta Yuliana Rambu melepas kepergian Domu Warandoy, Sekretaris Daerah Provinsi NTT
Oleh : Yohanes Mau
(Misionaris SVD, berasal dari Belu utara, Kini sedang bertugas di Zimbabwe, Afrika)
e-Paper Koran Kupang.Tribunnews.com, Harian Pagi Pos Kupang Rabu, 5/10/2022 menurunkan headline bertajuk, Gubernur dan Bupati Menangis. Tangis mereka pecah ketika darasan doa yang dilantunkan oleh Pendeta Yuliana Rambu melepas kepergian Domu Warandoy, Sekretaris Daerah Provinsi NTT yang dipanggil Tuhan untuk kembali ke alam baka. Dalam doa pendeta Yuliana menyebut Warandoy layak bunga yang paling indah di taman.
“Domu Warandoy adalah sekuntum bunga bagi Sumba timur, bagi NTT. Dan Pemilik hidup telah mengambilnya dari kita, tepat dua bulan 19 hari saat baru bertugas sebagai Sekda NTT.” Darasan doa pendeta Yuliana menyayat hati gubernur dan bupati serta semua sidang duka gugurkan air mata basahi tanah Sumba Timur karena teringat kembali akan segala kebaikan yang terpoles di hati rekan kerja dan masyarakat Sumba Timur dan NTT selama ini.
Dari tetes air mata Gubernur NTT dan Bupati Sumba Timur meyakinkan saya bahwa benarlah pernyataan ini,
“Gaja mati meninggalkan gading,
Harimau mati meninggalkan belang,
Dan Domu Warandoy abdi negara itu pergi meninggalkan jejak.”
Warandoy adalah figur abdi negara yang baik rekam jejaknya dalam mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara. Ia bagai bunga mawar di taman yang sedang mekar dan layu sebelum senja tiba. Ya, itulah kematian. Kematian yang tak bisa diketahui secara pasti soal waktunya.
Kematian adalah kepastian yang tidak pasti. Maka hal terbaik adalah memastikan seluruh hidup untuk pasti dalam berlakon baik kepada segala makluk di mana dan dalam situasi apapun. Karena segala sesuatu yang ada di dunia ini ada dan tiada bersama waktu tapi di dalam waktu yang tidak pasti.
Selama hidupnya Warandoy telah menjadi bunga mawar yang menghembuskan napas aroma kebaikannya di tempat tugas kepada para abdi masyarakat yang dipercayakan kepadanya dalam menjabat sebagai sekretaris di Sumba Timur dan di NTT selama dua bulan lebih.
Hati siapakah yang tidak sedih kalau ditinggal pergi untuk selamanya oleh orang yang paling disayangi dan dicintai? Hati pasti tak sudi membiarka figur terbaik di dalam lembaran hidup itu pergi begitu saja di dalam waktu yang tak menentu. Namun mau bilang apalagi. Inilah realitas natural.
Otomatis yang tak tersangkalkan oleh segala makluk. Mati dan dimatikan oleh penyakit apa, dan dalam situasi apa pun itu adalah rencana Sang Khalik sebagai pemilik dari napas hidup manusia. Manusia hanyalah debu kecil yang berarti di tangan Tuhan dan lenyap terhembus oleh angin kapan saja. Hal terbaik yang mesti dilakukan oleh manusia adalah berusaha untuk berbuat baik kepada siapa pun selagi masih ada waktu.
Jangan biarkan waktu pergi tanpa goreskan kebaikan di setiap lembaran hidup karena sejati dari hidup itu adalah hidup yang menghidupkan. Jika hidup itu sudah hidup dan ada, janganlah membiarkannya mati hanya oleh karena rakus dan tamak hati. Tetapi biarkanlah hidup itu tetap hidup hingga keabadian.
Tentang peristiwa kematian, Viktor Emil Frankle, Psikolog Jerman mengatakan, “Segala musibah, bencana yang melandaku bukanlah kematian yang mematikan saya tetapi di balik semuanya itu terselubung makna indah.”
Air mata Gubernur dan Bupati bersama sidang duka di Waingapu Sumba Timur itu adalah air mata atas kehilangan putra terbaik NTT. Air mata mereka adalah air mata yang keluar dari lubuk hati terdalam karena tak sudi membiarkan putra terbaik itu pergi untuk selamanya. Inilah pengalaman pahit yang mesti diterima pemerintah NTT. Namun kita mesti kuat bahwa di balik tangis dan air mata ini ada makna indah terselubung.
Tuhan pasti akan hapus air mata Gubernur dan Bupati dengan saputangan cintaNya. Tidak perlu terlalu hanyut di dalam duka namun bangkit dan jadilah mawar yang mekar dan harum semerbak kabarkan aroma kebaikan umum kepada masyarakat NTT tanpa pilih kasih. Masyarakat NTT memilihmu karena mereka sungguh mengasihimu. Maka kasihilah mereka dengan segenap jiwa dan raga, segala tenaga, cinta, dan kekuatan hati. Janganlah membiarkan hati mereka tersayat oleh sembilu di tengah musim yang datang silih berganti tak menentu ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gubernur-NTT-Viktor-Laiskodat-dan-Bupati-Sumba-Timur-Khristofel-Praing-Menangis.jpg)