Tak Ada Internet dan Listrik, Siswa SMPN Satap Sukun di Sikka Seberangi Pulau demi Ikut Ujian

Simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer tinggkat SMP akan berlangsung pada tanggal 21 Hingga 22 September

Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO
CARI JARINGAN INTERNET - Sebanyak 21 siswa-siswi kelas 8 SMP Negeri Satap Sukun, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, terpaksa menempuh perjalanan laut selama 2 jam demi mencari jaringan internet dan listrik. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Minimnya fasilitas listrik, akses internet dan fasilitas komputer, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Satu Atap Sukun di Pulau Besar, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, terpaksa menyeberangi laut untuk mengikuti simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pada sekolah lain di luar pulau.

Sebanyak 21 orang siswa Kelas 8 bersama guru pendamping pada Senin, 19 September 2022 pagi, menempuh perjalanan laut selama dua jam lamanya dengan perahu motor sewaan untuk mengikuti simulasi ANBK di SMA Negeri Pemana.

Didampingi para guru, 21 siswa SMPN Satap Sukun ini terpaksa datang sehari sebelum pelaksanaan simulasi ANBK dilaksanakan.
Mereka pun menginap di rumah-rumah penduduk yang dikenal di Desa Pemana, Kecamatan Alok.

Simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer tinggkat SMP akan berlangsung pada tanggal 21 Hingga 22 September 2022.

"beginilah perjuangan anak-anak siswa kami yang tinggal di pulau terluar Kabupaten Sikka yang terpaksa bertaruh nyawa agar bisa mengikuti ujian secara online yang merupakan program pemerintah pusat. Kondisi ini lantaran fasilitas jaringan internet dan jaringan listrik, hingga kini belum ada," ungkap Jahading, Kepala Sekolah SMPN Satap Sukun,saat dihubungi TribunFlores.com, Senin, 19 September 2022 pagi.

Dijelaskan Jahading, hingga kini jaringan internet di Pulau Sukun belum tersentuh akses informasi berbasis digital, apalagi harus mengikuti ujian berbasis komputer. Ditambah lagi jaringan listrik belum tersedia di Pulau Sukun sejak Indonesia merdeka hingga kini.

"Jangankan untuk ujian online, mengakses informasi untuk kepentingan pendidikan pun sangat sulit. Jika ada hal penting terkait pendidikan, kami guru terpaksa berjalan kaki menuju perbukitan lalu mencari sinyal selama berjam-jam agar bisa berkomunikasi. Jika tidak, maka harus berangkat ke Maumere menggunakan kapal motor milik nelayan setempat, lantaran minimnya transportasi laut ke pulau sukun," jelasnya.

Sahading menambahkan, agar siswa bisa mengikuti ujian dengan baik, dirinya bersama para Guru terpaksa merogoh kocek untuk biaya perahu motor dan juga konsumsi siswa selama berada di rumah kerabat sebagai rumah nginap para siswa di Desa Pemana.

Dirinya berharap, melalui pemberitaan media, pemerintah pusat bisa membantu membangun fasilitas internet bagi para pelajar di pulau Sukun. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

 

CARI JARINGAN INTERNET - Sebanyak 21 siswa-siswi kelas 8 SMP Negeri Satap Sukun, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, terpaksa menempuh perjalanan laut selama 2 jam demi mencari jaringan internet dan listrik.
CARI JARINGAN INTERNET - Sebanyak 21 siswa-siswi kelas 8 SMP Negeri Satap Sukun, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, terpaksa menempuh perjalanan laut selama 2 jam demi mencari jaringan internet dan listrik. (POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO)
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved