Ryan Tefa, Anak Penemu Mayat Pria Hangus Terbakar di Liliba Masih Trauma dan Takut
Ryan Tefa, Anak Penemu Mayat Pria Hangus Terbakar di Liliba Masih Trauma dan Takut
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ryan Tefa (11) siswa kelas 5 SD, yang menemukan Mayat pria hangus terbakar di Liliba, hingga kini masih trauma dan takut.
Orangtuanya berharap ada pendampingan psikologis terhadap anaknya, Ryan, sehingga traumanya bisa hilang.
Ditemui Pos Kupang di kediamannya, beberapa hari lalu, Ryan Tefa didampingi kakaknya, Simon dan mamanya, Ryan menceritakan kronologis penemuan jemasah terbakar itu.
Simon mengatakan, hari itu dia sedang duduk bersama keluarga di rumah keluarganya. Lalu Ryan meewati mereka dan menangis. Merea mengira Ryan dipukul sehingga mereka bertanya kepada Ryan apa yang terjadi.
Tapi Ryan tidak menjelaskan, hanya mengatakan bahwa ada orang babakar dikali. Lalu Ryan terus berjalan sambil menangis menuju ke rumahnya.

Simon lalu mengajak keluarga lainnya menuju ke Kali kering tersebut.
"Sampai sana sudah banyak orang. Dia di kasih tahu orang kuburan. Sampai disana beta kaget juga. Video pertama beta yang bikin karena tidak ada yang mau turun ju, semua takut," kata Simon.
Sampai disana, Simon kemudian inisiatif untuk merekam jenash itu. "Beta rekam dari atas tuh tangan ju (juga) gemetar," tambah Simon yang mengira mungkin orang itu mabuk, berkelahi sehingga dibunuh.
Simon mengaku saat itu tak ada api lagi ataupun bara api di TKP .
Beberapa saat setelah merekam video itu, Simon mengaku sempat berpikir tentang adiknya, Angki, sehingga dia menelepon mamanya untuk memastikan keberadaan Angki.
Beberapa saat kemudian, polisi datang ke TKP dan kemudian meminta Simon memanggil adiknya, Ryan, sebagai orang pertama yang menemukan jenasah itu.
Tapi saat Simon menemui Ryan di rumah dan meminta Ryan menemui Polisi di TKP, Ryan tak mau karena masih takut. Akhirnya Polisi yang ke rumah Ryan untuk meminta keterangan dari Simon.
Simon mengatakan, sejak saat itu hingga kini, Ryan masih terlihat trauma dan sering kaget. Bahkan tak mau tidur sendiri kalau malam hari.

Karena itu Simon berharap mungkin trauma adiknya, Ryan, bisa disembuhkan dengan pendampingan psikologis.
"Dia masih trauma dan kaget kaget kadang kadang dia jalan senidir takut kalau malam takut, siang tidak, tidur sendiri juga setengah mati," kata Simon.
Pengakuan senada disampaikan mama Ryan, bahwa sejak kejadian itu, perilaku Ryan berbeda dari sebelumnya.
Ryan dulu tidak ernah takut kalau jalan malam hari, tidur malam haripun tak mengapa jika sendirian.
Tapi sejak kejadian itu, Ryan sering takut jika harus berjalan sendiri pada malam hari dan tidur malam pun tidak bisa sendiri lagi seperti dulu.
"Biasa dia tidur sendiri tapi mulai dari itu sampai sekarang juga, Ryan tidak mau tidur sendiri. Tidak mau tidur sendiri, keluar malam juga takut," aku mama Ryan.
Karenanya mama Ryan berharap anaknya, Ryan, bisa didampingi psikolog sehingga trauma takut Ryan bisa hilang.
"Dulu dia biasa lap (bersihkan) kuburan sampai jam 9 malam, lalu ramai-ramai pulang dengan temannya. Tapi sekarang tidak berani lagi," kata ibu Ryan.
Ryan mengatakan, saat itu, tanggal 2 Agustus 2022 siang, dia pulang sekolah bersama tiga orang temannya. Namun saat hendak melewati kali, temannya memilih ikut jalan lain sehingga Ryan berjalan sendiri melewat kali itu.

Saat itu Ryan turun melalui tebing dari arah Kuburan Liliba menuju ke kali mati itu. Pada saat menyusuri kali mati itu, tiba-tiba dia melihat ada sesuatu diantara batu.
"Kalau lurus jauh, jadi beta beloklokek, beta (saya) jalan beta pikir anjing beta lihat bai baik ada tangan lalu beta mundur langsung naik kembali ke atas kuburan," kata Ryan
"Itu kan langgar kali, biasanya beta lewat sonde ada bakar," kata Ryan.
Seelah melihat jenasah itu, Ryan kemudian berbalik arah untuk pulang ke rumahnya. "Beta jalan naik keatas, beta kastau Ama (panggilan om untuk orang Kupang), dia bikin kuburan," kata Ryan yang mengaku tidak kenal dengan Ama itu.
"Beta kasih tahu ada orang terbakar, Ama ajak beta pi kembali tapi beta bilang beta sonde pi lai, jadi beta pulang," kata Ryan.
Ryan mengaku terus berjalan pulang. Dan sampai di jembatan dekat rumahnya, dia menangis. "Baru beta menangis, beta kek ingat begitu, betamenangis, sampai di rumah baru mama kasih tenang," kata Ryan.
Ryan mengatakan, jika tidur malam dia tidur dengan mama atau omnya karena masih takut. Jika pulang da pergi ke sekolah, Ryan tak mau melewati jalan itu lagi karena masih teringat dengan peristiwa itu.
Dirtanya bagaimana perasaannya sekarang apa masih takut, Ryan mengatakan, "Agak takut, setan sonde takur, tapi muka (wajah) saja (takut). Malam takut jalan sendiri," kata Ryan.
Untuk diketahui, Mayat tanpa identitas ditemukan hangus terbakar oleh warga diantara bebatuan di dalam kali kecil di RT/45, Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Selasa 2 Agustus 2022.

Ketua RT/45, Kanisius Gambu mengatakan jenazah tersebut ditemukan pertama kali oleh anak sekolah.
"Awal yang temukan jenazah ini seorang siswa SD saat pulang sekolah," kata dia kepada POS-KUPANG.COM, saat berada di TKP.
Kronologi temuan jenazah, kata Kanisius saat anak sekolah dasar pulang melewati lokasi rersebut, dimana siswa bernama Riyan yang melihat ada sosok mayat tersebut.
"Anak itu bukan pulang rumah, tapi dia lari ke rumah warga di dekat TKP untuk beritahu bahwa ada mayat di kali," kata dia
Mendapat informasi tersebut, ia pun langsung melanjutkan laporan kepada aparat kepolisian Polresta Kupang Kota.
Ia menyebut jarak sekitar 100 meter lokasi penemuan mayat dengan pemukiman warga.
Ia pun belum dapat memastikan apakah jenazah tersebut adalah warganya, karena sejauh ini belum ada laporan warga terkait kehilangan anggota keluarga.

Kata kanisius selama ini tidak hal yang mencurigakan di lokasi tersebut.
Baca juga: Info Cuaca Kota Kupang Hari Ini Sabtu 30 Juli 2022, Kupang dan Oelamasi Cerah Berawan
"Sebelum penemuan jenazah ini pun belum ada warga yang lapor terkair kehilangan anggota keluarga," tambahnya
Untuk mempercepat proses pencarian identitas jenazah, pihaknya pun memberikan imbauan kepada warga maupun anak kos melalui grup Whatsap RT apabila mengalami kehilangan anggota keluarga.
Sementara Lurah Liliba, Viktor Makoni menambahkan sosok mayat ini masih misterius atau mayat tanpa identitas.
Menurutnya sejauh ini warga di wilayah RT/45 belum melaporkan adanya kehilangan anggota keluarga.
"Sampai saat ini masih belum ada laporan kehilangan anggota keluarga dari warga," tuturnya
Ia pun telah memberikan imbauan kepada warga agar tidak berkomentar aneh supaya tidak terjadi polemik bagi warga di wilayah RT/45. (vel)