Upaya Pemaaf Atas Dasar Ajaran Agama Hasilkan Peningkatan Angka Kekerasan Seksual di NTT

LBH APIK NTT  menilai, upaya Pemaaf atas dasar ajaran agama terhadap pelaku tindak kekerasan seksual menghasilkan peningkatan angka kekerasan seksual

POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO
Direktris LBH APIK NTT, Ansy Rihi Dara dalam kegiatan Training Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) muda di NTT, Kamis (9/6) di Hotel Sotis Kupang 

POS KUPANG.COM, KUPANG -  LBH APIK NTT  menilai, upaya pemaaf atas dasar ajaran agama terhadap pelaku tindak kekerasan seksual menghasilkan peningkatan angka kekerasan seksual di Provinsi NTT.

Hal ini disampaikan Ansy Rihi Dara dalam pernyataan tertulis Lembaga Bantuan Hukum Assosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Nusa Tenggara Timur (LBH APIK NTT) yang diterima Pos Kupang.com, Sabtu (10/9).

Ansy Rihi Dara menjelaskan, LBH APIK NTT merupakan lembaga yang fokus pada upaya perlindungan perempuan dan anak. Salah satu misi yang diemban oleh LBH APIK NTT adalah mengupayakan hukum yang memberikan berkeadilan gender.

Terkait adanya ketimpangan gender, LBH APIK NTT mengambil sikap berpihak pada perempuan dan anak, termasuk memberikan pendampingan hukum serta mengupayakan adanya perubahan hukum yang berkeadilan.

LBH APIK NTT melihat kekerasan seksual di NTT sebagai suatu momok bagi upaya perlindungan perempuan dan anak. Catatan akhir tahun LBH APIK NTT dari tahun 2013 hingga 2021 menempatkan kasus KDRT, Perkosaan dan Percabulan dalam 3 mayorita kasus yang ditangani oleh LBH APIK NTT.

Baca juga: LBH Apik NTT Bikin Syarat untuk Korban Tindak Kekerasan Saat Ingin Berkonsultasi Hukum

Riset media yang dilakukan juga menunjukkan data yang sama, di mana kekerasan seksual menjadi kasus yang paling dominan terjadi di provinsi yang terkenal dengan budaya ketimurannya.

Direktris LBH APIK NTT, Ansi Rihi Dara, SH peraih Local Heroes Award dari Tribun Institute 2020, Kamis (17/12/2020) sore. (dok ana djukana)
Direktris LBH APIK NTT, Ansi Rihi Dara, SH peraih Local Heroes Award dari Tribun Institute 2020, Kamis (17/12/2020) sore. (dok ana djukana) (dok ana djukana)

Bentuk dan modus kekerasan seksual semakin beragam. Begitu juga dengan pelaku. Umumnya kasus Kekerasan Seksual dilakukan oleh orang terdekat maupun orang yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat dan umat.

Saat ini, kita dihebohkan dengan viralnya kasus Kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang calon pendeta (Vicaris) kepada anak remaja di kabupaten Alor.

"Kasus ini seakan membuka tabir kejahatan seksual yang dilakukan oleh Para Penjaga Moral yang selama ini tersembunyi dengan alasan tabu untuk diungkapkan. Selain itu, kasus kekerasan yang terjadi di lingkup lembaga keagamaan, sulit terungkap karena penafsiran terkait ajaran agama yang memisahkan ranah ilahi (agama) dengan ranah duniawi (hukum)," kritik Ansy Rihi Dara

Akibatnya, kasus-kasus yang terjadi di lembaga keagamaan, tidak dilaporkan ke aparat penegak hukum, tetapi iselesaikan secara restorative justice.

Baca juga: LBH APIK NTT Teken MoU dengan Dinas P3A Kabupaten TTS

"Tanpa disadari bahwa upaya pemaaf yang dilakukan dengan dasar ajaran agama, telah menghasilkan angka kekerasan seksual yang terus meningkat di provinsi NTT. Pelaku akan dengan mudah melakukan kekerasan seksual karena sadar betul bahwa kasusnya akan diselesaikan secara tertutup, yang melibatkan petinggi agama, korban dan/ atau keluarga korban, pelaku dan/ atau keluarga pelaku," jelas Ansy Rihi Dara.

Menurut Ansy Rihi Dara, efek jera yang menjadi salah satu alasan penindakan hukum tidak akan tercapai. Sanksi sosial pun tidak akan didapat karena penyelesaiannya dilakukan secara tertutup melalui mekanisme pastoral.

"Kasus perkosaan, percabulan, ITE dan Pornografi yang dilakukan oleh Vicaris GMIT atas nama Yanto Snae sebagai entri point bagi LBH APIK NTT untuk menyatakan sikap LBH APIK terkait kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Yanto Snae dan para pelaku lainnya," tegas Ansy Rihi Dara.

LBH APIK NTT berharap ada perubahan bagi lembaga/ instansi untuk lebih memperhatikan mekanisme perlindungan bagi perempuan dan ana kdari para perdator seksual yang bersembunyi di balik label rohaniawaan atau penjaga moral.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved