Berita Belu

Trend Kasus HIV-AIDS di Belu Menurun Ini Data Komisi Penanggulangan AIDS Belu

Komisi Penanggulangan AIDS Belu atau KPA Kabupaten Belu menunjukkan, jumlah kasus HIV-AIDS tahun 2020 sebanyak 66 kasus, 2021 sebanyak 46 kasus dan

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Ferry Ndoen
POS KUPANG/EDY BAU
KPA - Sekretaris KPA Belu Drs. Dominikus Mali 

Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas

POS KUPANG. COM, ATAMBUA - Selama tiga tahun terakhir, kasus HIV-AIDS di Kabupaten Belu mengalami trend penurunan. 

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Belu atau KPA Kabupaten Belu menunjukkan, jumlah kasus HIV-AIDS tahun 2020 sebanyak 66 kasus, 2021 sebanyak 46 kasus dan Mei 2022 sebanyak 17 kasus. 

Data ini masih relatif karena yang didata adalah kasus yang ditemukan dan dilaporkan lewat kegiatan Voluntary, Counseling dan Test (VCT). 

Hal ini disampaikan Sekretaris KPA Kabupaten Belu, Drs. Dominikus Mali kepada Pos Kupang. Com, Kamis 8 September 2022.

Menurut Domi, secara kumulatif data kasus HIV-AIDS sejak 2013 sampai dengan Mei 2022 sebanyak 708 kasus, rincian HIV 369 kasus dan AIDS 438 kasus. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki 401 dan perempuan 406 sedangkan yang dinyatakan meninggal sampai dengan saat ini sebanyak 89 orang.

Baca juga: Pengidap HIV/AIDS di Sikka Didominasi Kaum Pria, KPA Sikka Sebut Kerap Gonta Ganti Pasangan

Sementara data kumulatif tiga tahun terakhir yakni 2020 sebanyak 66 kasus, HIV 45 kasus dan AIDS 21 kasus. Tahun 2021 sebanyak 46 kasus, HIV 18 dan AIDS 27 kasus. Tahun 2022 per Mei sebanyak 17 kasus, HIV 5, AIDS 12 kasus. 

"Data yang kita punya ini relatif, dalam artinya tergantung yang kita temukan. Data HIV AIDS itu yang terungkap kadang lebih kecil dari yang tersembunyi karena HIV-AIDS yang kita ungkap itu melalui VCT atau pemeriksaan darah. Yang tidak melalui pemeriksaan darah, apakah itu AIDS atau penyakit lain, kita tidak bisa klaim itu suatu penyakit AIDS sehingga kita tidak bisa data sebagai pasien AIDS", terangnya. 

Lanjut Domi, secara data yang ada pada Komisi Penanggulangan AIDS Belu terlihat menurun tapi relatif karena selama pandemi Covid-19 jarang dilakukan kegiatan testing dan tracing. Pemerintah fokus pada penanganan Covid-19. 

Permasalahannya adalah orang yang terindikasi mengidap penyakit HIV-AIDS malu dan tidak mau melaporkan penyakitnya ke Dinas untuk dilakukan penanganan. 

"Orang yang kena AIDS itu tidak mau dan malu melaporkan penyakitnya ke Dinas sehingga dia sembunyi sembunyi minum obat dengan cara sendiri, seperti minum obat kampung bahkan ada yang menunggu mati saja", tandanya. 

Baca juga: Kuliner Khas NTT : Minum Air Jeruk Timor Hangat Ampuh Meredam dan Membunuh Kolestrol Jahat Anda Bro

Menurut Domi, kegiatan pencegahan yang dilakukan selama ini lewat sosialisasi kepada kelompok beresiko seperti PSK, waria dan masyarakat. Komisi Penanggulangan AIDS Belu bekerja sama dengan PKK, gereja, sekolah sekolah dan LPPA Belu. Tujuan sosialisasi supaya  mencegah kasus baru terjadi dan tidak menambah kasus atau menular dari orang yang sudah HIV AIDS. 

Selain itu, pencegahan lewat pengobatan. Dengan teratur minum obat, kemungkinan kecil penyakit HIV-AIDS menular ke orang lain. Kemudian, hidupnya bisa lebih normal lagi. 

Kegiatan lain yang dilakukan KPA adalah mitigasi berupa bantuan pendidikan, bantuan peralatan usaha bagi yang memiliki ketrampilan. 

"Kita masukan dalam kelompok ekonomi kreatif baik di pariwisata maupun di Nakertrans. Dengan aktivitas itu mereka bisa melupakan penyakitnya dan bisa menemukan kembali kehidupan yang normal", katanya. (jen). 

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

Drs. Dominikus Mali
Drs. Dominikus Mali (POS KUPANG/EDY BAU)
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved