Berita Pendidikan
Ini Peringatan Kadis Dikbud NTT soal Guru SD Pedalaman Soal Murid Belum Lancar Membaca
Ini Peringatan Kadis Dikbud NTT soal Guru SD Pedalaman Soal Murid Belum Lancar Membaca Ia tidak menginginkan guru-guru hanya mengejar target kurikulum
Ini Peringatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT kepada Guru SD Pedalaman Soal Murid SD di pedalaman yang Belum Lancar Membaca dan menulis
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi mengingatkan guru-guru SD tertutama persoalan yang mana murid SD di daerah pedalaman yang belum lancar membaca dan menulis dengan baik.
Ia tidak menginginkan guru-guru hanya mengejar target kurikulum lalu lulusan SD masih ada yang belum mampu baca dan tulis hingga lulus ke SMP dan SMA.
Untuk itu ia ingin dengan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar maka dapat memperbaiki hasil kualitas pembelajaran 3M (Meniru, Mengolah, Mengembangkan) di SD.
"Data membuktikan sekolah di pedalaman ketika menginjak di sekolah SMP maupun SMA kemampuan baca belum begitu lancar atau kemampuan baca tulis di sekolah dasar masih sangat rendah," katanya.
Dalam webinar Implementasi Kurikulum Merdeka itu, Senin 11 Juli 2022, ia menyebut Pemerintah Provinsi NTT berharap kurikulum baru ini nantinya berpengaruh di semua sekolah meningkatkan literasi dan numerasi di tingkat SD.
Baca juga: Ini Pesan Gubernur Viktor Laiskodat Kepada Sekda NTT Domu Warandoy : Konsolidasi dan Inovasi
Linus melanjutkan, karena itu hal ini perlu menjadi perhatian serius oleh para kepala sekolah, tidak sekedar memburu target kurikulum dalam Kurikulum Merdeka Belajar tetapi perlu memperhatikan aspek dasar ini.
"Sehingga tidak menjadi bola liar di tingkat perguruan tinggi dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di persekolahan," ungkapnya.
Ia mengaku bersama kepala dinas pendidikan di kabupaten lainnya mendorong hal ini untuk terus dibenahi. Capaian indikator pendidikan, kata Linus, ujung tombaknya adalah pada satuan pendidikan yaitu guru.
Kepala dinas yang pernah diberhentikan sementara oleh Gubernur NTT ini juga menyebut tiap tahunnya kurikulum memang dapat berubah tetapi guru harus dapat menyesuaikan diri.
"Yang secara mandiri maupun secara sistem memperoleh pengetahuan praktis dalam pembelajaran. Kurikulum boleh berubah, sistem boleh berubah, perlu diikuti kemampuan kompetensi para guru adalah sebuah keharusan mendukung perubahan," ungkap dia.
Namun begitu, sebelumnya ia menyebut belum ada kajian komprehensif tentang implementasi pelaksanaan kurikulum dari tahun 1947 hingga 2013.
Kurikulum atau rencana pelajaran pada 1947 juga mengalami transisi, begitupun di tahun 1952 dan 1968, lalu kini digelorakan di Kurikulum Merdeka Belajar. (Fan)
