Perang Rusia Ukraina
Amerika Serikat dan Uni Eropa Bakal Sanksi 2 Putri Presiden Putin
Washington sedang mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap dua putri Putin dan Sberbank, bank terbesar Rusia.
POS-KUPANG.COM - Setelah memberi empat paket sanksi, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa akan menjatuhkan sanksi tambahan kepada Rusia pada Rabu 6 April 2022.
Hal ini dilakukan sebagai tanggapan atas tuduhan Ukraina bahwa pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang di kota Bucha.
Dilansir dari BBC, Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki mengatakan, AS akan melarang investasi baru di Rusia dan memberikan sanksi lebih lanjut pada lembaga keuangan Rusia, serta pejabat Kremlin, dan keluarga mereka.
The Wall Street Journal kemudian melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap dua putri Putin dan Sberbank, bank terbesar Rusia.
Para duta besar Uni Eropa pada hari Rabu akan mempertimbangkan rencana untuk paket sanksi kelima. Ini mencakup pelarangan impor batu bara Rusia dan mencegah sebagian besar kapal yang dimiliki atau dioperasikan Rusia menggunakan pelabuhan Uni Eropa.
Baca juga: Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy Tantang PBB untuk Menghukum Rusia atau Tutup Saja Pintunya
Kementerian Keuangan AS sendiri telah memprediksi Rusia akan jatuh ke jurang resesi akibat sanksi blok Barat, imbas invasi ke Ukraina sejak bulan lalu.
Salah seorang pejabat departemen keuangan AS menyebut Rusia merupakan salah satu negara yang tidak siap menjadi negara dengan ekonomi tertutup, sedangkan akses ekonominya kian terbatas akibat sanksi.
"Konsekuensi ekonomi yang dihadapi Rusia mengerikan: inflasi tinggi yang hanya akan semakin tinggi dan resesi yang dalam yang hanya akan semakin dalam," kata pejabat itu, dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, negara Barat membekukan sekitar setengah dari cadangan devisa Rusia, melarang bank-bank Rusia tertentu dari jaringan perbankan SWIFT, dan memblokir ekspor teknologi utama ke Rusia.
Selain itu, AS juga melarang impor minyak, gas alam, dan produk minyak Rusia dengan tujuan melemahkan ekonomi Rusia yang pada akhirnya melemahkan militer Rusia.
"Rusia telah terpojok untuk menjadi ekonomi tertutup dan Rusia sebenarnya adalah salah satu negara yang paling tidak siap menjadi ekonomi tertutup," kata pejabat senior yang tak disebutkan namanya itu.
Baca juga: Mayat Bergelimpangan,Foto Satelit Tunjuk Jasad di Bucha Dibunuh Dua Minggu Pra Pasukan Rusia Mundur
Pejabat itu memprediksikan Rusia akan mengalami pelbagai kesulitan terisolasi di panggung dunia karena telah lama mengandalkan penjualan bahan mentah untuk membeli barang konsumsi dan peralatan canggih untuk produksi.
Tak Pengaruhi Kremlin
Sebelumnya, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan pada Jumat 25 Maret 2022, bahwa “bodoh" untuk percaya bahwa sanksi Barat terhadap bisnis Rusia dapat berdampak pada pemerintah Moskwa.
“Sanksi hanya akan mengkonsolidasikan masyarakat Rusia dan tidak menyebabkan ketidakpuasan populer dengan pihak berwenang,” kata Dmitry Medvedev kepada kantor berita Rusia RIA dalam sebuah wawancara.
Barat seperti diketahui telah memberlakukan serangkaian sanksi terhadap Rusia setelah invasinya ke Ukraina.
Tetapi, sebulan setelah perang, Kremlin mengatakan akan melanjutkan serangan sampai mencapai tujuannya yaitu "demiliterisasi dan denazifikasi" Ukraina.
Beberapa sanksi secara khusus menargetkan pengusaha miliarder yang diyakini dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Mari kita bertanya pada diri sendiri, dapatkah salah satu dari pengusaha besar ini memiliki pengaruh kuantum terkecil dari posisi kepemimpinan negara?" kata Medvedev yang kini menjadi Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia itu.
Baca juga: Jerman dan Perancis Usir Puluhan Diplomat Rusia, Dampak Kebrutalan di Bucha Ukraina
"Saya secara terbuka memberi tahu Anda, tidak, tidak mungkin," pendapat Medvedev, dikutip dari Reuters.
Dia sebelumnya juga pernah melontarkan pernyataan pada Sabtu 26 Februari 2022, bahwa Moskwa tidak benar-benar membutuhkan hubungan diplomatik dengan Barat.
Hal itu dilontarkan setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi kepada Rusia menyusul operasi militernya di Ukraina.
Medvedev, menulis di media sosial, mengatakan sudah waktunya untuk "menggembok kedutaan-kedutaan".
Dia mengatakan Moskwa akan melanjutkan operasinya di Ukraina sampai mencapai tujuan yang ditentukan oleh Presiden Vladimir Putin.
Medvedev membuat komentar di halaman terverifikasinya di jejaring sosial Rusia VK. (*)