Kelangkaan Minyak Goreng
DPR: Penanganan Minyak Goreng oleh Kemenperin Lebih Buruk,Airlangga Gagal Atasi Kelangkaan Migor
Anggota Komisi VI DPR sebut Penanganan Minyak Goreng oleh Kemenperin lebih buruk,Airlangga gagal atasi kelangkaan Migor
DPR: Penanganan Minyak Goreng oleh Kemenperin Lebih Buruk,Airlangga Gagal Atasi Kelangkaan Migor
POS-KUPANG.COM - Kelangkaan Minyak Goreng menjelang bulan Suci Ramadhan masih terus berlangsung.
Masalah Minyak Goreng yang sebelumnya ditangani Kementerian Perdagangan ( Kemendag) akhirnya beralih ke Kementerian Perindustrian ( Kemenperin ).
Namun kebijakan itu justeru dikritik Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Aimah Nurul Anam.
Mufti mengatakan, penanganan komoditas minyak goreng curah yang dilimpahkan ke Kementrian Perindustrian (Kemenperin) lebih buruk dibanding Kemendag.
Baca juga: Sidak Stok Minyak Goreng di Sejumlah Lokasi, Ini Temuan Hermanus Man
Hal itu dibuktikan dengan masih sulitnya masyarakat untuk mendapatkan minyak goreng curah di pasaran.
Hal tersebut disampikan Mufti saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Kemendag di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Rabu (30/3/2022).
Presiden Temukan Minimnya Stok Minyak Goreng Curah di Pasar (Foto: Sekretariat Presiden)
"Ternyata setelah seminggu kuasa atas komoditas minyak goreng dipegang oleh Kemenperin ini kami lihat jauh lebih gagal daripada Kemendag, jauh lebih buruk penanganannya."
"Saya coba cek tanya di banyak orang dan di banyak tempat, tidak ada barang (minyak goreng curah)," kata Mufti, dikutip dari laman DPR RI, Kamis (31/3/2022).
Baca juga: Harga Minyak Goreng di NTT Naik, Disperindag Bakal Gelar Pasar Murah Sebelum Idul Fitri
Ia mengklaim harga minyak goreng curah di beberapa tempat saat ini masih mahal.
"Barang (minyak goreng curah) di Dapil saya kosong nggak ada. Bukan hanya di Dapil saya, dan di beberapa tempat harganya sangat mahal Rp 30.000 per liter untuk curah," ucap Mufti.
Pada rapat sebelumnya, Mufti sempat mengkritik kinerja Kemendag yang dinilai tidak becus menangani polemik minyak goreng.
Justru, setelah di tangani Kemenperin menurutnya justru malah semakin buruk.
"Saya waktu itu mengkritik keras Kemendag, dalam kesempatan ini setelah seminggu ternyata keadaan ini lebih buruk."
"Ternyata Kemendag lebih baik daripada Perindustrian, ini kacau," ujarnya.